tulisan ini telah saya dedikasikan untuk adkesma FEUI dan adik-adik pahlawan mimpi
(Yesika Billah Barika 1206215434 Manajemen 2012)
Mimpi..
Mimpi itu seperti kerlap-kerlip bintang yang menghiasi gelapnya malam...
Ya,seperti itulah mimpi dalam
kehidupanku. Menjadi sebuah cahaya yang selalu bersinar ditengah gelapnya
kehidupan...
Mungkin banyak orang berkata
“mimpi itu jangan terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit” tapi kata-kata itu
tidak berlaku bagiku. “bermimpilah setinggi-tingginya setidaknya bila engkau
jatuh masih dalam hamparan bintang-bintang”. Inilah yang membuat bangsa kita
menjadi bangsa yang tertinggal. Karena kita tidak mau bermimpi, terlalu cepat
puas dengan sesuatu yang sudah didapatkan. Menjadi sesosok campers bukan menjadi
sesosok climbers. Mendakilah-mendakilah dan mendakilah. Semakin kita mendaki
untuk menggapai bintang itu semakin luas keindahan pemandangan yang bisa kita
lihat.
Mimpi, ya mungkin bagi sebagian
orang, anak seperti aku tidak pantas
untuk bermimpi. Apalagi bermimpi menjadi seseorang yang besar dan bisa kuliah
di universitas yang menyandang nama negara. Tapi inilah mimpiku.. meski
terlihat salah, tapi buatku mimpi tidak pernah salah.
Aku adalah seorang anak daerah
yang terlahir dari keluarga yang tergolong menengah kebawah. Ayahku adalah ayah
terhebat di dunia yang bisa membesarkan ketiga putrinya dengan kerja kerasnya sebagai
teknisi bus DAMRI Jember. Sementara
ibuku adalah ibu rumah tangga. Ya, inilah hidup kami, dengan oli-oli yang
menghiasi wajah ayah dan baju kotornya kami bertiga dibesarkan.
Sejak kecil aku sering dibawa ke
gudang DAMRI, melihat pekakas obeng dan lantai penuh oli. Menunggu ayah pulang
dengan membaca dongeng cinderella seraya melihat ayah terbaring dibawah bus
kota. Melihat buku dongeng dengan segala baju raja yang indah dan kuda-kuda
putih. Tapi saat aku kembali ke dunia nyata tak ada kuda putih kudapati hanya
bus-bus DAMRI yang berjejer rapi di garasi dan pakaian ayah yang penuh oli.
Mungkin hidupku tak semulus
seperti kisah cinderella dengan sepatunya menjadi seseorang putri yang hidup
bahagia. Ya, hidup memang tak semudah dongeng-dongeng masa kecil yang sering
ibu ceritakan menjelang aku tidur. Tapi dengan dongeng itu aku menapaki
mimpi-mimpiku. Perjuangan menggapai bintang tidak semudah dengan membalikkan
telapak tangan. Semua butuh proses, proses, dan proses.
Saat itu ketika aku masih
menapaki dunia anak-anak dan masih waktunya menghabiskan waktu keceriaan
bersama senyum-senyum teman-teman, Allah memberiku cobaan. Ketika ayah sudah
nyaris tidak tertolong lagi karena kecelakaan yang membuat urat nadi tangan
kanannya putus sebanyak 33. Di titik inilah kondisi kami menjadi semakin sulit.
Operasi demi operasi harus dijalani oleh ayah. Hutang-hutang menumpuk
dimana-mana. Bahkan rumah kami pun dijual demi nyawa yang harus dipertahankan. Di
titik ini kami pun berjuang. Tidak hanya ibu, tapi aku dan juga adikku yang
masih kecil. Ibu sudah sibuk merawat ayah sementara aku sebagai anak tertua
harus bisa menjadi ibu bagi adikku. Memasakkannya nasi, menggendong,
menggorengkan telur, memandikan adik, dan menyuapinya.. Peran menjadi seorang
ibu harus aku mainkan dalam keadaan ini.
Tapi inilah cobaan yang harus aku jalani, membaca buku sekaligus
menyuapi, menanak nasi sambil mengerjakan Pekerjaan Rumah dan tidur saat adikku
sudah terlelap.
Dengan operasi itu alhamdulillah Allah masih
mengijinkan ayah untuk hadir ditengah-tengah kami meskipun tidak seperti yang
dulu dengan tangan masih normal. Dengan keadaan itu ayah sempat stress dan
merasa tidak berguna lagi sebagai kepala keluarga. Aku melihat ayah yang kuat
sekarang menjadi lemah. Kecelakaan itu merenggut semangat ayah bahkan di satu
titik aku melihat ayah menangis seraya menghantam-hantamkan tangannya ke
tembok. Bagi anak seusiaku melihat kondisi rumah yang sungguh memprihatinkan
tidaklah mudah. Aku tahu betul ayah butuh semangat tapi diusiaku yang masih
kecil aku tidak tahu harus bersikap apa dan berkata apa. Yang aku bisa lakukan
adalah menemani ayah. Ya aku menemani ayah bekerja dengan tangannya yang sudah
kehilangan fungsinya ayah harus menjadi pesuruh. Aku dengan baju merah putihku
dan tas abu-abu bergambar hello kity menemani ayahku yang menjalankan
kegiatannya. Tidak ada lagi pemandangan ayah dengan obeng-obeng dengan sesekali
melambaikan tangan ke arahku yang sedang membaca. Ya sekarang aku menemani ayah
yang mendapat tugas membeli rokok, atau fotokopi.
Tidak hanya berimbas pada ayah
ibu juga memotong uang sakuku. Bahkan beberapa hari aku tidak mendapat uang
saku sama sekali. Ya, apa boleh buat uang lima ratus rupiah yang biasanya
terlihat saat aku menengok kebawah waktu menapaki dua kilo ke sekolah sudah
tidak tampak. Tapi pelajaran ini tentu ada hikmahnya disaat teman-teman bermain
berlari-lari dan beli-beli aku menahan perut laparku dengan membuka buku
berharap mengalihkan perhatianku dari hasrat meneguk seplastik es teh. Tidak
hanya itu saat bermain di sekitar rumah, semua teman-temanku juga menghabiskan
uangnya untuk membeli snack dan memakannya didepanku. Sementara aku tidak memiliki
uang dan akhirnya aku memiliki akal untuk mencampur sisa bubuk kopi di dapur
dengan gula untuk dibawa bermain bersama mereka.
Musibah tidak sampai itu saja,
ketika kantor ayah tidak menggaji karyawannya selama tujuh bulan. Hal ini
membuat ibu dan ayah pontang-panting mencari sambilan pekerjaan. Pernah suatu
malam kami tidak makan karena memang tidak ada makanan sedikit pun yang bisa
kita makan, aku juga pernah melihat ibu dan ayah berbohong sudah makan hanya
agar kami makan, nasi dan garam, nasi kecap dan kerupuk menjadi kisah
perjuangan hidup kami yang sulit.
Ya, itulah penyebab ambisiku
meraih kesuksesan “hidup kami yang sulit” aku percaya roda itu pasti berputar.
Dan untuk memutar roda perlu usaha, tidak serta merta memutar dengan kedua
tangan. Aku butuh bahan bakar yang membuatku sukses. Dan bahan bakar itu dalam
benakku adalah pendidikan.
Dulu mungkin kesadaranku belajar
masih minim. Ya, hanya kewajiban takut pada ibu yang selalu mencubitku perlahan
saat aku tidak mendapatkan angka seratus. Tapi kisah-kisah sulitku membuatku
dewasa pendidikan bukan kewajiban melainkan kebutuhan untuk meraih mimpiku. Ibu
sudah sibuk mengurus cara menutupi hutang dan merawat ayah. Dari sinilah aku
belajar menjadi pacuan untuk meraih sukses. Tanpa ibu yang mendampingiku belajar,
aku masih bisa sukses. Dan alhamdulillah dengan belajar secara otodidak dan
sendiri pun aku masih bisa lolos di SMP favorit di kotaku.
Di smp, aku mulai menata masa
depanku mulai mengikuti berbagai lomba dan organisasi. Dengan uang saku sebesar
dua ribu rupiah aku harus memanage pengeluaran agar aku tetap ikut lomba tanpa
menyusahkan ayah dan ibu. Setiap pagi aku diantar oleh ayah dengan sepeda tua
milik kantor. Sementara untuk pulang aku harus mengeluarkan seribu dari uang
jajanku untuk naik angkot (lin). Sementara seribu lagi adalah bersih uang
jajan. Namun uang jajan tidak selamanya dapat kunikmati ketika penawaran
perlombaan datang, ambisi mengalahkan suara cacing yang menabuh perutku meminta
makan. Bila pendaftaran dua puluh ribu rupiah itu tandanya aku harus menahan
lapar di sekolah selama dua puluh hari. Persiapan kupersiapkan secara matang.
Aku meminjam buku bekas anak teman-teman ayah dan buku-buku tua milik guruku.
Tidak seperti pesaing-pesaingku yang dengan mudah menggondol buku sakti ekonomi
dalam beberapa detik. Ya, aku berkutat dengan buku-buku tua dan debu-debu ini.
Tapi nasib berkata lain Allah belum memberiku kemenangan. Tapi ini bukan akhir
perjuangan ini baru awal. Mendaki-mendaki dan mendaki.
Aku tidak putus asa begitu saja,
mungkin ilmuku masih dangkal dan usahaku belum maksimal. Membaca, membaca, dan
membaca. Mengumpulkan uang untuk fotokopi soal-soal dan mempersiapkan diri
ketika nanti ada lomba yang datang.. Mengumpulkan uang dan bertanding lagi ya,
mendaki, mendaki, dan mendaki, haus, haus, dan haus. Itulah pemikiran yang
selama ini aku terapkan. . Lomba –lomba
lain juga aku ikuti mungkin kali ini agak menyimpang yaitu lomba tepat guna
kali itu aku mempresentasikan bunga dari sampah apel dan berkat karya itu aku
bisa meringankan beban keluargaku dengan gratis spp. Mimpi sukses sedikit demi
sedikit dapat diraih ditambah reward gratis spp selama tiga bulan memotivasiku
untuk lebih giat bertarung demi meringankan beban ayah. Kali ini lomba yang
datang tidak hanya seputar kabupaten melainkan beberapa kabupaten aku mulai
bisa membanggakan kedua orang tuaku dengan keluar sebagai pemenang. Dititik
inilah aku memperoleh percaya diri bahwa dengan keterbatasanku pun aku bisa
sukses.
Pendakianku tidak berhenti di
smp. Di sma aku mulai memvisualisasikan cita-citaku menempel kertas-kertas
mimpiku didinding kamar yang lembab dan sedikit berlumut. Kertas berwarna
kuning itulah yang mengantarkanku, menguatkanku disaat aku lelah. Dan disalah
satu kertas itu kutuliskan FE universitas Indonesia 2012. Seakan-akan dinding
lumutku itu menantang takdir. Karena dulu ayah dan ibu berkata kerja,kerja dan
kerja. Begitu juga pemikiran orang-orang disekitarku yang seakan-akan mencekik
leherku agar aku meneriakkan “iya” untuk dunia kerja.
Otakku harus berputar bagaimana
caranya kuliah jika tidak maka aku harus berdamai dengan nasib. Aku meneruskan
ambisi-ambisiku untuk memperoleh piagam-piagam berharap ada satu saja
universitas yang menerimaku lapang dada tanpa mengeluarkan sepeserpun biaya. Di
titik itu aku harus menurunkan egoku dan bisikan dinding lumut yang
bertuliskan”feui” sekarang pemikiranku apapun universitasnya asalkan kuliah
gratis.
Disini aku belajar, meminjam buku
kesenior, dan mencari buku-buku tua peninggalan guru di kantor. Tidak seperti
pelajar lain yang bisa les ekonomi dengan mudahnya, untuk fotokopi modul pun
aku harus hutang ke senior. Aku salin lembar demi lembar buku LOPI seraya
mengumpulkan uang untuk memfotokopinya. Untungnya uang jajanku menjadi tiga
ribu di sma setidaknya mempersingkat waktu pengumpulan uang untuk fotokopi.
Sering aku sembunyikan buku LOPI yang jumlahnya terbatas agar keesokan harinya
aku bisa membaca karena kartu perpusku sudah kupakai untuk meminjam buku
pelajaran inti. Di awal penyisihan OSN
aku berhasil namun di akhir aku gagal karena kemampuan akuntansiku masih
terlalu minim. Disinilah aku mengejar ketertinggalanku. Ayah juga aktif ke
belakang toko matahari untuk mencarikan buku bekas untuk aku belajar akuntansi.
Ibu guru juga meminjamkan buku akuntansi kepadaku. Setahun aku mempelajari
bahasa bisnis itu. Dan alhamdulillah di penyisihan OSN aku berhasil lolos ke
Manado tepatnya di tingkat nasional. Disini benar-benar menjadi pemicu semangatku,
bertemu orang-orang hebat dengan pemikiran-pemikiran brilian sepeti bapak
Pratama. Meskipun di akhir aku tidak dapat menggondol medali tapi setidaknya
banyak sekali pengalaman yang memicuku untuk sukses, sukses, dan sukses.
Seperti dalam buku dongeng yang aku baca sejak aku kecil, ketika aku melihat
istana-istana mewah ternyata gadis seperti aku juga bisa merasakannya memasuki
hotel berbintang lima, menginjakkan kaki di grand kawanua mengalungi kalung
bunga, tidur di kasur yang begitu empuk. Meski konteksnya berbeda tapi buatku
ini seperti mimpi yang nyata. Andai ibu ayah dan adik-adikku bisa merasakan ini
semua pasti kebahagiaan ini pasti akan lebih sempurna. Apalagi cita-citaku
melihat kapas-kapas langit sudah tercapai. Senang rasanya mereka bisa duduk
bersamaku melihat laut biru dari atas langit dan gerombolan burung yang
terlihat lebih dekat. Ya, besok aku pasti bisa mengajak mereka merasakan ini
semua. Kutambahkan lagi mimpiku dalam dinding lumut. Mengajak ayah ibu dan
adik-adik naik pesawat dan bisa memiliki rumah seperti hotel.
Ternyata Allah memang memberi
garis indah. Tidak ada kata yang tidak mungkin. Aku belum pernah menempelkan
mimpiku untuk pergi ke luar negeri. Tapi Allah memberikan hadiah terindah. .
Tidak kusangka aku masih bisa merasakan naik pesawat dan tidur di kasur empuk lagi.
Kabupaten memberiku hadiah untuk study tour ke negeri gajah yaitu Thailand.
Mungkin aku tidak terlalu banyak membawa oleh-oleh tapi dari thailand aku
belajar untuk lebih menghargai pemimpin dan memberdayakan rakyat. Ku tulis
mimpiku lagi aku ingin memberdayakan rakyat Indonesia dengan membuat
sekolah-sekolah gratis untuk daerahku Jember tercinta. Dari thailand juga aku
belajar meskipun berpikiran kritis tentang pemerintahan tapi kita harus netral
dalam menyikapi sesuatu. Siapa lagi yang mau menghargai pemimpin kita kalau
bukan bangsanya sendiri.
Sesampainya di tanah air aku harus kembai ke hidupku yang
normal. Ujian Akhir Nasional menantiku. Aku harus mempersiapkan
ujian nasional ini sebaik mungkin. aku harus mengejar ketinggalanku.
Perjuanganku tidak berhenti disini. Meskipun keadaan ekonomi kami tidak
beruntung tapi kami harus tetap hidup dan meraih kesuksesan. Mengencangkan ikat
pinggang demi masa depan yang cemerlang. Kesuksesan itu untuk diraih bukan
datang sendiri. Begitu juga meraih kesuksesan menjadi seorang mahasiswa
Universitas Indonesia tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan buatku.
Butuh bertubi-tubi perjuangan. Tergolong orang yang pas-pasan adalah salah satu
pemicunya.
Saat aku bingung untuk memutuskan akan kemanakah
saat selesai SMA nanti, takdir mulai berbicara, banyak dari kerabatku untuk
menyarankan masuk ke dalam dunia kerja. Jangankan memutuskan kuliah di
Universitas Indonesia, untuk kuliah di dalam kota pun sulit. Adik-adikku tahun
ini akan masuk ke sekolah baru, sehingga butuh biaya lebih. Tapi, disisi lain
guru-guru, dinding berlumut, mimpiku dan teman-teman meyakinkanku bahwa kuliah,
harus kuliah. Mereka beranggapan selesai kuliah nanti aku akan mendapatkan
pekerjaan yang lebih layak daripada lulusan SMA. Hal itu yang membuatku kuat dan bertekad “aku
harus kuliah!”. Ibu guru pembinaku olimpiyade menganjurkanku kuliah bahkan
beliau menyuruhku mengambil Universitas Indonesia.
Aku bertekad dan membicarakannya
kepada keluargaku, untungnya keluargaku setuju. Tapi saat aku ditanya mau
kemana, dan aku menjawab Universitas Indonesia sontak membuat keluargaku kaget,
terlebih kerabatku, dan orang-orang disekitarku bahkan aku juga dibilang sebagai anak yang tidak tahu diri bahkan
salah seorang teman ayahku yang mencemooh “kere kok muluk-muluk” sakit rasanya
memang tapi kata-kata itulah yang membuatku semakin kuat. Semakin harga diriku
diinjak-injak semakin kuat aku berdiri. Aku menjadi lebih tertantang bahwa anak
teknisi bus sepertiku juga bisa masuk Universitas Indonesia.
Akhirnya aku memutuskan untuk
mengkomunikasikannya ke guru BK. Beliau sangat mendukungku. Beliau
menganjurkanku memilih program bidik misi yaitu program bantuan dari pemerintah
gratis kuliah. Subhanallah jalanku dipermudah pikirku dalam hati. Aku langsung
mengkomunikasikan kembali kepada kedua orang tuaku, tapi ibuku masih takut
untuk mengambilnya, selain bidikmisi belum final, transport juga mahal. Uang
apa lagi yang harus dipakai untuk berangkat ke Depok untuk daftar ulang,
jangankan tabungan, gaji saja perbulan selalu minus. Tapi tekadku sudah kuat,
aku meyakinkan ibu, aku bisa kerja disana, aku bisa hidup disana. Berbekal
semangat dan dorongan kuat aku nekat memilih Universitas Indonesia urusan biaya
dapat dipecahkan dengan bekerja part time. Yang penting aku bisa sukses, aku
bisa mengangkat derajat orang tuaku yang sering sekali direndahkan.
Hari
pengumuman pun tiba, aku melihatnya, aku melihatnya, aku melihat namaku berada
di Universitas Indonesia melalui proses seleksi undangan. Bagai terbang ke
langit dan menjamah kapas-kapas putih di langit yang biru. Aku bisa. Aku
melihat dinding lumut dan tersenyum, melihat tempelan kertas yang sudah tidak berwujud
karena terkena rembesan hujan. Tapi tulisannya masih dapat kubaca “FE
Universitas Indonesia tahun 2012” subhanallah sekali rasanya
Tapi kabar ini juga menambah
beban bagi keluargaku, antara senang dan beban. Aku mencoba menguatkan ayah dan
ibu, aku pasti lolos bidikmisi. Meskipun tidak lolos, toh aku bisa menjadi
apapun cleaning service, office girl, kasir, buruh cuci asalkan aku diizinkan
kuliah di Universitas Indonesia. Ayah ibu menangis mendengarnya akhirnya aku
diperbolehkan untuk masuk ke Universitas Indonesia
Perjuanganku tidak hanya disitu,
aku harus melengkapi berkas-berkas rumit yang lainnya. Dengan sabar aku dan
ayah mengumpulkannya satu demi satu, meminta keterangan tidak mampu ke rt rw
meminta persetujuan tetangga-tetangga dan mengirimkannya tepat waktu. Untung ada salah seorang temanku
yang baik hati untuk Rania menjemputku mengantar berkas ke agen pengiriman.
Saat itu hujan deras sekali petir menyambar bersahut-sahutan kota Jember
tertutup awan hitam yang kelam. Tapi itu tak mengurungkan tekadku untuk meraih
asaku. Kami pergi ke tiga tempat, jalanya sangat jauh dan licin,
berkas-berkasku tidak boleh basah, dan harus tepat waktu. Kami berjuang bersama
menembus hujan dan maut yang bisa-bisa menyambar kami. Tapi hidup butuh
pengorbanan, jika berkas ini tidak sampai maka aku tidak bisa kuliah. Badan
boleh basah asal berkas selamat. Bukan jas hujan melindungi badan kami tapi
berkas kami jauh lebih berharga. Alhamdulillah berkas kami kirim tepat pada
waktunya
Hari daftar ulang pun tiba, ayah
terpaksa meminjam uang untuk keberangkatanku. Aku iba sekali melihat ayah, tapi
apadaya memang tidak ada biaya. Tapi dalam hati kecil ini berikrar “ayah, aku
pasti bisa membalas semua ayah! Perjuangan ayah mengais rizki bergulung-gulung
dibawah bus akan ku bayar kesuksesanku. Aku pasti bisa yah! tunggu aku!aku akan
janjikan kehidupan kita lebih layak, Akhirnya aku bisa mencium kota Depok,
sungguh luar biasa Universitas begitu besar. Belum pernah aku melihat bangunan
perpustakaan menjulang begitu indah. Subhanallah.. Meskipun tidur dilantai kamar
asrama tapi aku tetap menikmati proses pendakian ini.
Registrasi aku lalui dan
wawancara bidikmisi aku lakukan. Aku jawab butir-butir pertanyaan itu apa
adanya. Pewawancara pun menasihatiku sebagai tulang punggung aku harus kuliah
dengan benar, dan meraih kesuksesanku membahagiakan keluargaku dan
menyekolahkan adik-adikku nantinya. Setelah semua selesai kami pulang ke kotaku
tercinta
Pengumuman bidikmisi pun tiba.
Aku mencoba melihatnya dengan gemetar begitu juga ibu dan ayah. Beliau sangat
mengharapkannya begitu juga aku, aku sangat mengharapkannya. Alhamdulillah
namaku mendapatkan bidikmisi, aku sangat lega mendengarkannya. Subhanallah..
ini jalan Allah untuk kesuksesan, ini jalan Allah untuk keluargaku. aku
berjanji aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Sekarang aku sedang menapaki
jalan-jalan menuju bintangku. Di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia inilah
yang nantinya menjadi saksi bisu bagaimana perjuanganku menata langkah
menggapai mimpi.. Dengan segala keterbatasan ini aku masih bisa bertahan hidup.
Ketidakmampuan bukan suatu alasan, disini banyak tangan-tangan dermawan yang
siap menerima kita. Bantuan pun tak henti-hentinya mengalir. Lebih dari seratus
beasiswa ditawarkan. Allah selalu punya jalan apabila hambanya terus
berikhtiar. Tidak ada yang tidak mungkin. Keterbatasan bukanlah suatu
penghalang. Justru dengan keterbatasan
kita bisa belajar arti perjuangan dan menghargai tiap nafas yang Allah berikan
Bermimpilah
Tidak semua orang mampu memiliki mimpi, tapi dari mimpimu akan mengubah
kau menjadi “seseorang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar