Rabu, 04 Desember 2013

BERJABAT DENGAN MIMPI BERTARUNG DITENGAH KETERBATASAN

tulisan ini telah saya dedikasikan untuk adkesma FEUI dan adik-adik pahlawan mimpi
(Yesika Billah Barika 1206215434 Manajemen 2012)

Mimpi..

Mimpi itu seperti kerlap-kerlip bintang yang menghiasi gelapnya malam...

 Ya,seperti itulah mimpi dalam kehidupanku. Menjadi sebuah cahaya yang selalu bersinar ditengah gelapnya kehidupan...

Mungkin banyak orang berkata “mimpi itu jangan terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit” tapi kata-kata itu tidak berlaku bagiku. “bermimpilah setinggi-tingginya setidaknya bila engkau jatuh masih dalam hamparan bintang-bintang”. Inilah yang membuat bangsa kita menjadi bangsa yang tertinggal. Karena kita tidak mau bermimpi, terlalu cepat puas dengan sesuatu yang sudah didapatkan. Menjadi sesosok campers bukan menjadi sesosok climbers. Mendakilah-mendakilah dan mendakilah. Semakin kita mendaki untuk menggapai bintang itu semakin luas keindahan pemandangan yang bisa kita lihat.
Mimpi, ya mungkin bagi sebagian orang,  anak seperti aku tidak pantas untuk bermimpi. Apalagi bermimpi menjadi seseorang yang besar dan bisa kuliah di universitas yang menyandang nama negara. Tapi inilah mimpiku.. meski terlihat salah, tapi buatku mimpi tidak pernah salah.
Aku adalah seorang anak daerah yang terlahir dari keluarga yang tergolong menengah kebawah. Ayahku adalah ayah terhebat di dunia yang bisa membesarkan ketiga putrinya dengan kerja kerasnya sebagai teknisi bus DAMRI Jember.  Sementara ibuku adalah ibu rumah tangga. Ya, inilah hidup kami, dengan oli-oli yang menghiasi wajah ayah dan baju kotornya kami bertiga dibesarkan.
Sejak kecil aku sering dibawa ke gudang DAMRI, melihat pekakas obeng dan lantai penuh oli. Menunggu ayah pulang dengan membaca dongeng cinderella seraya melihat ayah terbaring dibawah bus kota. Melihat buku dongeng dengan segala baju raja yang indah dan kuda-kuda putih. Tapi saat aku kembali ke dunia nyata tak ada kuda putih kudapati hanya bus-bus DAMRI yang berjejer rapi di garasi dan pakaian ayah yang penuh oli.
Mungkin hidupku tak semulus seperti kisah cinderella dengan sepatunya menjadi seseorang putri yang hidup bahagia. Ya, hidup memang tak semudah dongeng-dongeng masa kecil yang sering ibu ceritakan menjelang aku tidur. Tapi dengan dongeng itu aku menapaki mimpi-mimpiku. Perjuangan menggapai bintang tidak semudah dengan membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, proses, dan proses.
Saat itu ketika aku masih menapaki dunia anak-anak dan masih waktunya menghabiskan waktu keceriaan bersama senyum-senyum teman-teman, Allah memberiku cobaan. Ketika ayah sudah nyaris tidak tertolong lagi karena kecelakaan yang membuat urat nadi tangan kanannya putus sebanyak 33. Di titik inilah kondisi kami menjadi semakin sulit. Operasi demi operasi harus dijalani oleh ayah. Hutang-hutang menumpuk dimana-mana. Bahkan rumah kami pun dijual demi nyawa yang harus dipertahankan. Di titik ini kami pun berjuang. Tidak hanya ibu, tapi aku dan juga adikku yang masih kecil. Ibu sudah sibuk merawat ayah sementara aku sebagai anak tertua harus bisa menjadi ibu bagi adikku. Memasakkannya nasi, menggendong, menggorengkan telur, memandikan adik, dan menyuapinya.. Peran menjadi seorang ibu harus aku mainkan dalam keadaan ini.  Tapi inilah cobaan yang harus aku jalani, membaca buku sekaligus menyuapi, menanak nasi sambil mengerjakan Pekerjaan Rumah dan tidur saat adikku sudah terlelap.
 Dengan operasi itu alhamdulillah Allah masih mengijinkan ayah untuk hadir ditengah-tengah kami meskipun tidak seperti yang dulu dengan tangan masih normal. Dengan keadaan itu ayah sempat stress dan merasa tidak berguna lagi sebagai kepala keluarga. Aku melihat ayah yang kuat sekarang menjadi lemah. Kecelakaan itu merenggut semangat ayah bahkan di satu titik aku melihat ayah menangis seraya menghantam-hantamkan tangannya ke tembok. Bagi anak seusiaku melihat kondisi rumah yang sungguh memprihatinkan tidaklah mudah. Aku tahu betul ayah butuh semangat tapi diusiaku yang masih kecil aku tidak tahu harus bersikap apa dan berkata apa. Yang aku bisa lakukan adalah menemani ayah. Ya aku menemani ayah bekerja dengan tangannya yang sudah kehilangan fungsinya ayah harus menjadi pesuruh. Aku dengan baju merah putihku dan tas abu-abu bergambar hello kity menemani ayahku yang menjalankan kegiatannya. Tidak ada lagi pemandangan ayah dengan obeng-obeng dengan sesekali melambaikan tangan ke arahku yang sedang membaca. Ya sekarang aku menemani ayah yang mendapat tugas membeli rokok, atau fotokopi.
Tidak hanya berimbas pada ayah ibu juga memotong uang sakuku. Bahkan beberapa hari aku tidak mendapat uang saku sama sekali. Ya, apa boleh buat uang lima ratus rupiah yang biasanya terlihat saat aku menengok kebawah waktu menapaki dua kilo ke sekolah sudah tidak tampak. Tapi pelajaran ini tentu ada hikmahnya disaat teman-teman bermain berlari-lari dan beli-beli aku menahan perut laparku dengan membuka buku berharap mengalihkan perhatianku dari hasrat meneguk seplastik es teh. Tidak hanya itu saat bermain di sekitar rumah, semua teman-temanku juga menghabiskan uangnya untuk membeli snack dan memakannya didepanku. Sementara aku tidak memiliki uang dan akhirnya aku memiliki akal untuk mencampur sisa bubuk kopi di dapur dengan gula untuk dibawa bermain bersama mereka.
Musibah tidak sampai itu saja, ketika kantor ayah tidak menggaji karyawannya selama tujuh bulan. Hal ini membuat ibu dan ayah pontang-panting mencari sambilan pekerjaan. Pernah suatu malam kami tidak makan karena memang tidak ada makanan sedikit pun yang bisa kita makan, aku juga pernah melihat ibu dan ayah berbohong sudah makan hanya agar kami makan, nasi dan garam, nasi kecap dan kerupuk menjadi kisah perjuangan hidup kami yang sulit.
Ya, itulah penyebab ambisiku meraih kesuksesan “hidup kami yang sulit” aku percaya roda itu pasti berputar. Dan untuk memutar roda perlu usaha, tidak serta merta memutar dengan kedua tangan. Aku butuh bahan bakar yang membuatku sukses. Dan bahan bakar itu dalam benakku adalah pendidikan.
Dulu mungkin kesadaranku belajar masih minim. Ya, hanya kewajiban takut pada ibu yang selalu mencubitku perlahan saat aku tidak mendapatkan angka seratus. Tapi kisah-kisah sulitku membuatku dewasa pendidikan bukan kewajiban melainkan kebutuhan untuk meraih mimpiku. Ibu sudah sibuk mengurus cara menutupi hutang dan merawat ayah. Dari sinilah aku belajar menjadi pacuan untuk meraih sukses. Tanpa ibu yang mendampingiku belajar, aku masih bisa sukses. Dan alhamdulillah dengan belajar secara otodidak dan sendiri pun aku masih bisa lolos di SMP favorit di kotaku.
Di smp, aku mulai menata masa depanku mulai mengikuti berbagai lomba dan organisasi. Dengan uang saku sebesar dua ribu rupiah aku harus memanage pengeluaran agar aku tetap ikut lomba tanpa menyusahkan ayah dan ibu. Setiap pagi aku diantar oleh ayah dengan sepeda tua milik kantor. Sementara untuk pulang aku harus mengeluarkan seribu dari uang jajanku untuk naik angkot (lin). Sementara seribu lagi adalah bersih uang jajan. Namun uang jajan tidak selamanya dapat kunikmati ketika penawaran perlombaan datang, ambisi mengalahkan suara cacing yang menabuh perutku meminta makan. Bila pendaftaran dua puluh ribu rupiah itu tandanya aku harus menahan lapar di sekolah selama dua puluh hari. Persiapan kupersiapkan secara matang. Aku meminjam buku bekas anak teman-teman ayah dan buku-buku tua milik guruku. Tidak seperti pesaing-pesaingku yang dengan mudah menggondol buku sakti ekonomi dalam beberapa detik. Ya, aku berkutat dengan buku-buku tua dan debu-debu ini. Tapi nasib berkata lain Allah belum memberiku kemenangan. Tapi ini bukan akhir perjuangan ini baru awal. Mendaki-mendaki dan mendaki.
Aku tidak putus asa begitu saja, mungkin ilmuku masih dangkal dan usahaku belum maksimal. Membaca, membaca, dan membaca. Mengumpulkan uang untuk fotokopi soal-soal dan mempersiapkan diri ketika nanti ada lomba yang datang.. Mengumpulkan uang dan bertanding lagi ya, mendaki, mendaki, dan mendaki, haus, haus, dan haus. Itulah pemikiran yang selama ini aku terapkan. .  Lomba –lomba lain juga aku ikuti mungkin kali ini agak menyimpang yaitu lomba tepat guna kali itu aku mempresentasikan bunga dari sampah apel dan berkat karya itu aku bisa meringankan beban keluargaku dengan gratis spp. Mimpi sukses sedikit demi sedikit dapat diraih ditambah reward gratis spp selama tiga bulan memotivasiku untuk lebih giat bertarung demi meringankan beban ayah. Kali ini lomba yang datang tidak hanya seputar kabupaten melainkan beberapa kabupaten aku mulai bisa membanggakan kedua orang tuaku dengan keluar sebagai pemenang. Dititik inilah aku memperoleh percaya diri bahwa dengan keterbatasanku pun aku bisa sukses.
Pendakianku tidak berhenti di smp. Di sma aku mulai memvisualisasikan cita-citaku menempel kertas-kertas mimpiku didinding kamar yang lembab dan sedikit berlumut. Kertas berwarna kuning itulah yang mengantarkanku, menguatkanku disaat aku lelah. Dan disalah satu kertas itu kutuliskan FE universitas Indonesia 2012. Seakan-akan dinding lumutku itu menantang takdir. Karena dulu ayah dan ibu berkata kerja,kerja dan kerja. Begitu juga pemikiran orang-orang disekitarku yang seakan-akan mencekik leherku agar aku meneriakkan “iya” untuk dunia kerja.
Otakku harus berputar bagaimana caranya kuliah jika tidak maka aku harus berdamai dengan nasib. Aku meneruskan ambisi-ambisiku untuk memperoleh piagam-piagam berharap ada satu saja universitas yang menerimaku lapang dada tanpa mengeluarkan sepeserpun biaya. Di titik itu aku harus menurunkan egoku dan bisikan dinding lumut yang bertuliskan”feui” sekarang pemikiranku apapun universitasnya asalkan kuliah gratis.
Disini aku belajar, meminjam buku kesenior, dan mencari buku-buku tua peninggalan guru di kantor. Tidak seperti pelajar lain yang bisa les ekonomi dengan mudahnya, untuk fotokopi modul pun aku harus hutang ke senior. Aku salin lembar demi lembar buku LOPI seraya mengumpulkan uang untuk memfotokopinya. Untungnya uang jajanku menjadi tiga ribu di sma setidaknya mempersingkat waktu pengumpulan uang untuk fotokopi. Sering aku sembunyikan buku LOPI yang jumlahnya terbatas agar keesokan harinya aku bisa membaca karena kartu perpusku sudah kupakai untuk meminjam buku pelajaran inti.  Di awal penyisihan OSN aku berhasil namun di akhir aku gagal karena kemampuan akuntansiku masih terlalu minim. Disinilah aku mengejar ketertinggalanku. Ayah juga aktif ke belakang toko matahari untuk mencarikan buku bekas untuk aku belajar akuntansi. Ibu guru juga meminjamkan buku akuntansi kepadaku. Setahun aku mempelajari bahasa bisnis itu. Dan alhamdulillah di penyisihan OSN aku berhasil lolos ke Manado tepatnya di tingkat nasional.  Disini benar-benar menjadi pemicu semangatku, bertemu orang-orang hebat dengan pemikiran-pemikiran brilian sepeti bapak Pratama. Meskipun di akhir aku tidak dapat menggondol medali tapi setidaknya banyak sekali pengalaman yang memicuku untuk sukses, sukses, dan sukses. Seperti dalam buku dongeng yang aku baca sejak aku kecil, ketika aku melihat istana-istana mewah ternyata gadis seperti aku juga bisa merasakannya memasuki hotel berbintang lima, menginjakkan kaki di grand kawanua mengalungi kalung bunga, tidur di kasur yang begitu empuk. Meski konteksnya berbeda tapi buatku ini seperti mimpi yang nyata. Andai ibu ayah dan adik-adikku bisa merasakan ini semua pasti kebahagiaan ini pasti akan lebih sempurna. Apalagi cita-citaku melihat kapas-kapas langit sudah tercapai. Senang rasanya mereka bisa duduk bersamaku melihat laut biru dari atas langit dan gerombolan burung yang terlihat lebih dekat. Ya, besok aku pasti bisa mengajak mereka merasakan ini semua. Kutambahkan lagi mimpiku dalam dinding lumut. Mengajak ayah ibu dan adik-adik naik pesawat dan bisa memiliki rumah seperti hotel.
Ternyata Allah memang memberi garis indah. Tidak ada kata yang tidak mungkin. Aku belum pernah menempelkan mimpiku untuk pergi ke luar negeri. Tapi Allah memberikan hadiah terindah. . Tidak kusangka aku masih bisa merasakan naik pesawat dan tidur di kasur empuk lagi. Kabupaten memberiku hadiah untuk study tour ke negeri gajah yaitu Thailand. Mungkin aku tidak terlalu banyak membawa oleh-oleh tapi dari thailand aku belajar untuk lebih menghargai pemimpin dan memberdayakan rakyat. Ku tulis mimpiku lagi aku ingin memberdayakan rakyat Indonesia dengan membuat sekolah-sekolah gratis untuk daerahku Jember tercinta. Dari thailand juga aku belajar meskipun berpikiran kritis tentang pemerintahan tapi kita harus netral dalam menyikapi sesuatu. Siapa lagi yang mau menghargai pemimpin kita kalau bukan bangsanya sendiri.
Sesampainya  di tanah air aku harus kembai ke hidupku yang normal. Ujian Akhir Nasional menantiku. Aku harus mempersiapkan ujian nasional ini sebaik mungkin. aku harus mengejar ketinggalanku. Perjuanganku tidak berhenti disini. Meskipun keadaan ekonomi kami tidak beruntung tapi kami harus tetap hidup dan meraih kesuksesan. Mengencangkan ikat pinggang demi masa depan yang cemerlang. Kesuksesan itu untuk diraih bukan datang sendiri. Begitu juga meraih kesuksesan menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan buatku. Butuh bertubi-tubi perjuangan. Tergolong orang yang pas-pasan adalah salah satu pemicunya.
            Saat aku bingung untuk memutuskan akan kemanakah saat selesai SMA nanti, takdir mulai berbicara, banyak dari kerabatku untuk menyarankan masuk ke dalam dunia kerja. Jangankan memutuskan kuliah di Universitas Indonesia, untuk kuliah di dalam kota pun sulit. Adik-adikku tahun ini akan masuk ke sekolah baru, sehingga butuh biaya lebih. Tapi, disisi lain guru-guru, dinding berlumut, mimpiku dan teman-teman meyakinkanku bahwa kuliah, harus kuliah. Mereka beranggapan selesai kuliah nanti aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak daripada lulusan SMA.  Hal itu yang membuatku kuat dan bertekad “aku harus kuliah!”. Ibu guru pembinaku olimpiyade menganjurkanku kuliah bahkan beliau menyuruhku mengambil Universitas Indonesia.
Aku bertekad dan membicarakannya kepada keluargaku, untungnya keluargaku setuju. Tapi saat aku ditanya mau kemana, dan aku menjawab Universitas Indonesia sontak membuat keluargaku kaget, terlebih kerabatku, dan orang-orang disekitarku bahkan aku juga dibilang  sebagai anak yang tidak tahu diri bahkan salah seorang teman ayahku yang mencemooh “kere kok muluk-muluk” sakit rasanya memang tapi kata-kata itulah yang membuatku semakin kuat. Semakin harga diriku diinjak-injak semakin kuat aku berdiri. Aku menjadi lebih tertantang bahwa anak teknisi bus sepertiku juga bisa masuk Universitas Indonesia.    
Akhirnya aku memutuskan untuk mengkomunikasikannya ke guru BK. Beliau sangat mendukungku. Beliau menganjurkanku memilih program bidik misi yaitu program bantuan dari pemerintah gratis kuliah. Subhanallah jalanku dipermudah pikirku dalam hati. Aku langsung mengkomunikasikan kembali kepada kedua orang tuaku, tapi ibuku masih takut untuk mengambilnya, selain bidikmisi belum final, transport juga mahal. Uang apa lagi yang harus dipakai untuk berangkat ke Depok untuk daftar ulang, jangankan tabungan, gaji saja perbulan selalu minus. Tapi tekadku sudah kuat, aku meyakinkan ibu, aku bisa kerja disana, aku bisa hidup disana. Berbekal semangat dan dorongan kuat aku nekat memilih Universitas Indonesia urusan biaya dapat dipecahkan dengan bekerja part time. Yang penting aku bisa sukses, aku bisa mengangkat derajat orang tuaku yang sering sekali direndahkan.
                Hari pengumuman pun tiba, aku melihatnya, aku melihatnya, aku melihat namaku berada di Universitas Indonesia melalui proses seleksi undangan. Bagai terbang ke langit dan menjamah kapas-kapas putih di langit yang biru. Aku bisa. Aku melihat dinding lumut dan tersenyum, melihat tempelan kertas yang sudah tidak berwujud karena terkena rembesan hujan. Tapi tulisannya masih dapat kubaca “FE Universitas Indonesia tahun 2012” subhanallah sekali rasanya
Tapi kabar ini juga menambah beban bagi keluargaku, antara senang dan beban. Aku mencoba menguatkan ayah dan ibu, aku pasti lolos bidikmisi. Meskipun tidak lolos, toh aku bisa menjadi apapun cleaning service, office girl, kasir, buruh cuci asalkan aku diizinkan kuliah di Universitas Indonesia. Ayah ibu menangis mendengarnya akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk ke Universitas Indonesia
Perjuanganku tidak hanya disitu, aku harus melengkapi berkas-berkas rumit yang lainnya. Dengan sabar aku dan ayah mengumpulkannya satu demi satu, meminta keterangan tidak mampu ke rt rw meminta persetujuan tetangga-tetangga dan mengirimkannya  tepat waktu. Untung ada salah seorang temanku yang baik hati untuk Rania menjemputku mengantar berkas ke agen pengiriman. Saat itu hujan deras sekali petir menyambar bersahut-sahutan kota Jember tertutup awan hitam yang kelam. Tapi itu tak mengurungkan tekadku untuk meraih asaku. Kami pergi ke tiga tempat, jalanya sangat jauh dan licin, berkas-berkasku tidak boleh basah, dan harus tepat waktu. Kami berjuang bersama menembus hujan dan maut yang bisa-bisa menyambar kami. Tapi hidup butuh pengorbanan, jika berkas ini tidak sampai maka aku tidak bisa kuliah. Badan boleh basah asal berkas selamat. Bukan jas hujan melindungi badan kami tapi berkas kami jauh lebih berharga. Alhamdulillah berkas kami kirim tepat pada waktunya
Hari daftar ulang pun tiba, ayah terpaksa meminjam uang untuk keberangkatanku. Aku iba sekali melihat ayah, tapi apadaya memang tidak ada biaya. Tapi dalam hati kecil ini berikrar “ayah, aku pasti bisa membalas semua ayah! Perjuangan ayah mengais rizki bergulung-gulung dibawah bus akan ku bayar kesuksesanku. Aku pasti bisa yah! tunggu aku!aku akan janjikan kehidupan kita lebih layak, Akhirnya aku bisa mencium kota Depok, sungguh luar biasa Universitas begitu besar. Belum pernah aku melihat bangunan perpustakaan menjulang begitu indah. Subhanallah.. Meskipun tidur dilantai kamar asrama tapi aku tetap menikmati proses pendakian ini.
Registrasi aku lalui dan wawancara bidikmisi aku lakukan. Aku jawab butir-butir pertanyaan itu apa adanya. Pewawancara pun menasihatiku sebagai tulang punggung aku harus kuliah dengan benar, dan meraih kesuksesanku membahagiakan keluargaku dan menyekolahkan adik-adikku nantinya. Setelah semua selesai kami pulang ke kotaku tercinta
Pengumuman bidikmisi pun tiba. Aku mencoba melihatnya dengan gemetar begitu juga ibu dan ayah. Beliau sangat mengharapkannya begitu juga aku, aku sangat mengharapkannya. Alhamdulillah namaku mendapatkan bidikmisi, aku sangat lega mendengarkannya. Subhanallah.. ini jalan Allah untuk kesuksesan, ini jalan Allah untuk keluargaku. aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Sekarang aku sedang menapaki jalan-jalan menuju bintangku. Di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia inilah yang nantinya menjadi saksi bisu bagaimana perjuanganku menata langkah menggapai mimpi.. Dengan segala keterbatasan ini aku masih bisa bertahan hidup. Ketidakmampuan bukan suatu alasan, disini banyak tangan-tangan dermawan yang siap menerima kita. Bantuan pun tak henti-hentinya mengalir. Lebih dari seratus beasiswa ditawarkan. Allah selalu punya jalan apabila hambanya terus berikhtiar. Tidak ada yang tidak mungkin. Keterbatasan bukanlah suatu penghalang.  Justru dengan keterbatasan kita bisa belajar arti perjuangan dan menghargai tiap nafas yang Allah berikan
Bermimpilah
Tidak semua orang mampu memiliki mimpi, tapi dari mimpimu akan mengubah kau menjadi “seseorang”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar