Diantara gemerlap merah
kuning ibu kota, terhimpit oleh megahnya gedung menjulang
Hidup berselimut debu
dan cucuran asam keringat
Gitar dan kaleng menjadi saksi rentetan cerita
Saksi perjuangan hidup mengais rupiah
Malam..
Mengapa engkau terus
disampingku? Tek jemukah engkau disini menemaniku?
Bulan .. Sudah cukup
engkau disini.. beranjaklah ke tempat peraduanmu..
Bukan pantulan sinar
yang ternyata aku inginkan ...
Matahari..
Engkau dimana? Tunggu aku matahari.. aku akan berlari meraihmu..
Tidak
hanya dasi-dasi itu yang bisa melihatmu aku, gitarku, dan kalengku akan
menjemputmu..
Diam tunggu disana dan ingat jangan engkau beranjak..
Dengan gitarku aku kumpulkan receh dan kusulap menjadi
lembar jendela dunia
Dengan lembar jendela ini akan ku jemput engkau
Hei.. teman baruku,
lembar jendela dunia
Sekarang aku tak butuh malam
dan belas kasih sinar bulan
Karena ku tahu engkau
yang bisa menemaniku menjemput sinar nyata
Diantara putih merah,
putih biru, maupun putih abu-abu, bersama gitar dan kaleng kecil penyambung
hidup
Aku dan keringatku akan
menaklukkan dunia, berdiri ditengah dasi-dasi, dan bertemu engkau.. Wahai
Matahari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar