Kamis, 07 November 2013

MENJEMPUT MATAHARI




Diantara gemerlap merah kuning ibu kota, terhimpit oleh megahnya gedung menjulang
Hidup berselimut debu dan cucuran asam keringat
            Gitar dan kaleng menjadi saksi rentetan cerita
            Saksi perjuangan hidup mengais rupiah
Malam..
Mengapa engkau terus disampingku? Tek jemukah engkau disini menemaniku?
Bulan .. Sudah cukup engkau disini.. beranjaklah ke tempat peraduanmu..
Bukan pantulan sinar yang ternyata aku inginkan ...
Matahari.. Engkau dimana? Tunggu aku matahari.. aku akan berlari meraihmu..
Tidak hanya dasi-dasi itu yang bisa melihatmu aku, gitarku, dan kalengku akan menjemputmu..
            Diam tunggu disana dan ingat jangan engkau beranjak..
            Dengan gitarku aku kumpulkan receh dan kusulap menjadi lembar jendela dunia
            Dengan lembar jendela ini akan ku jemput engkau
Hei.. teman baruku, lembar jendela dunia
Sekarang aku tak butuh malam dan belas kasih sinar bulan
Karena ku tahu engkau yang bisa menemaniku menjemput sinar nyata
Diantara putih merah, putih biru, maupun putih abu-abu, bersama gitar dan kaleng kecil penyambung hidup
Aku dan keringatku akan menaklukkan dunia, berdiri ditengah dasi-dasi, dan bertemu engkau.. Wahai Matahari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar