Hari demi hari telah berganti. Menit
demi menit telah berlalu. Dentum jarum jam kini sudah membisikan kenyataan.
Begitulah kegelisahan seorang ibu yang menanti kelahiran buah hati pertamanya,
berjuang mempertaruhkan nyawa. Menghela napas demi napas. Menahan rasa
penderitaan dan berada dalam lingkar kematian.Tangisan yang memecah keheningan
malam, membangkitkan lekukan senyum diantara orang-orang yang menemani ibuku
bertaruh nyawa demi kelahiranku. Tepat tanggal 14 Februari pukul 00 :15 Waktu
Indonesia bagian Barat, Allah telah menganugrahi nyawa kecil yang telah melekat
pada ragaku. Ayah mengazani telinga kananku dengan suara lirihnya.
Subhanallah, betapa beruntungnya aku dapat dilahirkan di
dunia ini. Terlahir sebagai anak pertama ditengah-tengah keluarga yang penuh
kesederhanaan dan kehangatan. Aku diterima dalam kehangatan keluarga ini. Ya,
sungguh nikmat Illahi yang amat luar biasa.
Namaku Yesika Billah Barika, Yesika
adalah nama dari ayah dan ibuku. Tamyis dan Kana. Sedangkan kata Billah yang
artinya dari Allah, dan Barika berarti barokah menjadi pelengkap doa dalam
untaian namaku. Ayahku adalah seorang teknisi bus Damri Jember sedangkan ibuku
hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ibu membesarkanku dengan penuh kasih sayang.
Beliau selalu ada saat kapanpun aku membutuhkannya. Entah sakit, ataupun lelah
beliau selalu menyempatkan menjalani hari-harinya demi aku.
Sejak kecil, aku memiliki tidak
memiliki antibody yang kuat layaknya teman-teman. Setiap kali aku bermain dengan
teman-teman pasti terjatuh. Entah mengapa hal itu terjadi, akhirnya aku hanya
diperbolehkan bermain di rumah bersama ibuku. Kami adalah teman, bukan ibu dan
anak. Kami bermain pasar-pasaran, bekel, dakon, dan kempyeng. Ibu dapat
memposisikan dirinya dengan baik. Saat sedang bermain denganku ibu menjadi
layaknya anak-anak dengan tingkah polosnya. Sedangkan disaat beliau sedang
mengajariku ibu menjadi pribadi yang tegas dan bersahaja.
Pada umur tiga tahun aku mengalami penyakit
typus yang tinggi. Aku mengalami lumpuh sementara, Kaki-kakiku lemas dan saat
berdiri, aku jatuh Sehingga aku harus dirawat dirumah sakit. Kenyataan itu
sangat memukul batin keluargaku. Disamping mereka tidak tega melihatku
terbaring lemas, biaya yang makin hari menumpuk memaksaku untuk rawat jalan.
Akhirnya aku berobat dengan cara yang tradisional. Setiap hari aku diberi obat
cacing sebagai pengganti obat yang harganya sangat tinggi. Alhamdulillah lama
kelamaan kondisiku semakin pulih .
Di umur empat tahun aku
memasuki jenjang taman kanak-kanak. Hari pertama aku telah membuat kebodohan
yang luar biasa. Saat prosesi pembacaan pancasila pada upacara pertamaku di
taman kanak-kanak, aku maju tanpa aba-aba dengan percaya diri berdiri disamping
ibu pembina upacara. Aku langsung meneriakkan “pancasila” dan membacakan
sila-silanya dengan lantang. Padahal dalam hal ini posisiku hanya peserta
upacara bukan petugas. Akhirnya petugas pembaca pancasila yang notabenenya
kakak kelasku harus menangis gara-gara ulahku.
Saat di bangku taman kanak-kanak,
aku termasuk anak yang tidak tahu malu serta acuh. Aku tidak peduli dengan
teman-teman yang sering mengejekku anak yang sakit-sakitan. Tapi inilah
kenyataan. Tahun 2000, ibu guruku memilihku untuk mengikuti lomba geometri di
kota Jember. Aku berlatih keras untuk semua itu. Setiap malam ibu mengajariku
tentang bagaimana cara menggunting dengan rapi, menempel dengan hati-hati,
serta bagaimana berekspresi. Lomba
dimulai, pekerjaan demi pekerjaan aku lakukan dengan teliti,
potongan-potongan kertas disusun secara sistematis dan rapi. Empat jam setelah lomba selesai, panitia
membacakan pemenangnya. Alhamdulillah aku ternyata menjadi juara dua dalam
lomba ini. Semua berkat ibuku yang telah membimbingku dengan sabar dalam
berlatih geometri setiap hari
Pertengahan juni 2012, aku mendaftar
ke sekolah dasar Brawijaya. Brawijaya terletak satu kilometer dari rumahku.
Sekolah ini adalah sekolah favorit di kabupaten Jember. Brawijaya memiliki dua
sekolah dasar yaitu kepatihan 6 dan kepatihan 7. Ayah sangat ambisius agar aku
masuk ke dalam sekolah itu, beliau mendaftarkanku dua sekolah sekaligus.
Ternyata, dalam peraturan di Brawijaya disebutkan tidak boleh mendaftar dua
sekolah. Akhirnya namaku diblacklist
di sekolah itu.
Aku mencoba sekolah dasar lain yaitu
SDN kepatihan 5 Jember, alhamulillah aku diterima di sekolah dasar tersebut.
Aku menjalani hari-hariku dengan penuh semangat begitu juga ibuku yang selalu
rajin mengecek nilaiku setiap hari, beliau mencubitku ketika aku tidak mendapat
nilai sempurna. Awalnya aku menilai ibuku kejam tapi lambat laun aku sadar
bahwa semua yang ibu lakukan terhadapku adalah demi kebaikanku. Setiap malam
ibu selalu mengajariku materi-materi yang akan diulas besok sehingga pada
pertemuan selanjutnya aku sudah mengerti materi yang dibahas oleh ibu guru.
Saat kelas 3, aku berubah. Aku malas
untuk belajar dan membaca buku. Buku-buku yang telah ayah beli untukku tidak
pernah kubaca. Hal ini menimbulkan kemarahan ayah dan ibu. Akhirnya beliau
tidak membelikanku buku di cawu dua dan tiga. Ibu juga kesal dan tiak mau
mengajariku lagi. Hari-hariku menjadi sulit sejak peristiwa itu. Aku dituntut
untuk lebih aktif dan tidak tergantung pada buku diktat. Aku mempelajari
catatan-catatan dan soal soal yang telah diberikan. Aku ingin membuktikan bila
aku serius dalam sekolah. Aku harus mengembalikan kepercayaan ayah dan ibu.
Pembagian rapor tiba, Alhamdulillah aku masih bisa mempertahankan posisiku di
urutan pertama.
Posisiku tidak bertahan lama setelah
kepala sekolah menetapkan ibu dari salah seorang temanku menjadi wali kelasku.
Sejak itu hari-hariku berubah. Banyak sekali kecurangan di dalam kelas. Saat
ujian tengah semester maupun ujian semester ibu guru memberikan kunci jawaban
kepada anaknya. Sehingga di kelas empat anak dari wali kelasku yang tadinya
menduduki posisi ke-15sekarang menduduki
posisi pertama. Aku kecewa sekali. Aku berusaha sabar dan ikhlas menjalani ini
semua. Ayah membesarkan hatiku. Beliau berkata kebenaran pasti akan menang. Aku
meyakini nasihat ayah.
Pada usia 10 tahun, Allah member
keluargaku cobaan yang beruntun. Cobaan pertama adalah saat almarhum kakekku
terkena stroke yang membuat beliau menjadi lumpuh. Saat itu kasih saying ibu
mulai terpecah antara aku dan kakek. Ibu juga lupa membuatkanku sarapan maupun
mengingatkanku untuk minum obat. Cobaan
kedua adalah saat ayahku tersandung kasus kecelakaan bus DAMRI yang masuk ke
dalam jurang. Posisi ayahku adalah wakil penanggung jawab teknisi. Kasus ini
menyeret ayah dan penanggung jawab lainnya ke pengadilan. Namun, Allah ternyata
memang adil, setelah diselidiki kecelakaan tersebut bukan sepenuhnya salah
perusahaan bus DAMRI melainkan karena over
capacity yang dipaksakan oleh korban. Saat ayah tersandung kasus itu aku
sangat terpuruk. Aku merasa kekurangan kasih sayang. Ayah repot mengurusi
kasus-kasus kecelakaan di kepolisian sedangkan ibu setiap malam hanya merenung
memikirkan ayah. Tapi semua itu telah berlalu. Mengutip kata ayah “kebenaran
pasti akan menang” dan hal itu yang aku yakini sampai sekarang.
Cobaan datang kembali. Cobaan ini
datang saat ayah menunggu giliran sholat magrib karena kapasitas mushola DAMRI
yang kecil. Saat ayah ingin duduk di sepeda motor depan mushola, tiba-tiba
motor terguling. Tangan kanan ayah terkena kaca. Akhirnya ayah dilarikan ke
rumah sakit. Menurut dokter yang menangani ayah, ayah harus segera dioperasi
nadi yang tersayat terlalu dalam. Tiga puluh tiga urat nadi ayah putus. Bila
tidak segera dioprasi tangan ayah harus diamputasi. Bukan hanya ibu yang terpukul,
aku sebagai anak tertua juga merasa hidup ini tidak adil. Mengapa harus ayah?
Mengapa Allah tidak sayang kepada kami? Tiga kali operasi telah ayah jalani di
rumah sakit Jember. Tapi hal itu tidak membuahkan hasil melainkan menambah
tanggungan hutang yang menumpuk dimana-mana. Sebagai anak tertua, aku ikut
menenangkan ibuku. Akhirnya ayah berobat ke rumah sakit di Surabaya. Beliau
menjalani satu operasi. Demi kesembuhan ayah, uang bukan menjadi masalah.
Akhirnya rumah kami di jual demi menutupi hutang-hutang pengobatan ayah.
Masalah tidak sampai disitu saja, ayah frustasi terhadap kondisinya. Tangan
beliau sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Beliau ditempatkan
menjadi pesuruh dari kedudukannya koordinator teknisi. Hal ini berjalan selama
ayah dalam proses penyembuhan. Aku yang datang ke kantor ayah tidak tega
melihatnya. Ayah yang dulunya bekerja di meja dan di bawah bus berganti menjadi
pesuruh. Setelah satu tahun, tangan ayah mulai dapat digerakkan. Perusahaan
tidak menempatkan posisi ayah sebagai pesuruh lagi.
Tidak hanya itu, selang waktu
beberapa bulan setelah ayahku mendapatkan kedudukan yang layak, DAMRI mengalami
penurunan. Bahkan Dinas Perhubungan Kabupaten Jember berniat untuk menutup
kantor DAMRI. Hal ini juga berdampak pada penghasilan yang diterima oleh
pegawai DAMRI. Semua pegawai tidak mendapat gaji selama tujuh bulan. Selama
tujuh bulan itu keluargaku benar-benar mengalami krisis. Pernah suatu hari kami
hanya makan dengan sebuah pisang goreng. Aku terpaksa pulang karena semua
teman-temanku berniat membeli snack. Aku pulang untuk membawa bubuk kopi dan
gula untuk dijadikan sebagai camilan pengganti snack. Berjumpa dengan kerupuk
dan tahu, serta tidak membawa uang saku, bahkan hanya nasi dan garam pernah
kami alami. Hal ini terjadi dalam kurun waktu tujuh bulan selama gaji tidak
disalurkan.
Saat tes smp aku dan anak wali
kelasku mencoba memasuki sekolah yang sama yaitu SMP Negeri 1 Jember. Aku
berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi murid disana. Namaku terpampang di
papan pengumuman, sedangkan nama anak dari wali kelasku tidak ada. Di satu sisi
aku telah mengerti perkataan ayah dulu bahwa kebenaran pasti menang tapi disisi
lain aku sedih sekali dia tidak lolos dalam tes ini.
Memasuki jenjang smp, aku mulai
beradaptasi dengan kehidupan remaja. Aku juga dituntut untuk lebih mandiri dari
sebelumnya. Aku butuh waktu lama untuk beradaptasi di jenjang smp ini. Banyak
teman-teman baru yang tidak aku kenal, materi baru juga aku dapatkan seperti
fisika dan sosiologi. Awalnya aku tidak paham apa itu fisika. Aku pernah
menjalani remedial karena nilaiku tidak mencukupi. Aku mulai belajar keras
untuk menyesuaikan diri. Ternyata aku bisa melakukannya. Aku bisa menyesuaikan
diri dengan keadaan dan pelajaran di jenjang smp.
Aku mulai belajar mengikuti berbagai
organisasi, diantaranya adalah organisasi Gita Irama Spasa, organisasi pramuka,
dan teater. Aku mulai membagi waktuku antara belajar dan berorganisasi. Pada
saat pengumuman kenaikan di kelas satu semester akhir namaku tiba-tiba terpampang
di papan pengumuman kelas. Tujuh siswa dari kelasku berhak menduduki kelas
unggulan. Salah satu diantaranya aku.
Kelas 2 smp aku menemukan
teman-teman baru yang sejalan dengan pola pikirku. Kami sangat kompak didalam
segala hal baik dalam ibadah, pembagian kerja, maupun perlombaan kelas. Kelas
kami tergolong kelas yang aktif baik dari sisi akademik maupun non-akademik.
Tapi disisi lain kami pernah dibenci oleh guru matematika akibat kesalahpahaman
antara ketua kelas dan beliau. Guru matematika kami menawarkan tambahan atau
pulang tapi kami memilih untuk pulang melalui ketua kelas kami. Sejak saat itu
guru matematika kami tidak mau masuk ke kelas beliau menganggap kami tidak suka
pada beliau. Akhirnya kami meminta maaf atas hal ini dan kami mendapat guru
pengganti.
Kelas tiga smp. Aku diminta guru
sejarahku untuk mencoba mengikuti seleksi perlombaan ilmu pengetahuan sosial di
Jombang. Awalnya aku merasa perlombaan itu pasti akan menyita waktuku. Aku
mengikuti seleksi perlombaan itu. Aku ingat soal yang dikeluarkan oleh sekolah
untuk proses seleksi adalah soal yang berisi materi kelas satu, dua, dan tiga.
Awalnya aku setengah hati dalam mengikuti seleksi ini sehingga aku memilih
untuk tidak belajar. Tetapi setelah aku keluar dari kelas ujian aku merasa menyesal
sekali tidak belajar dan mengecewakan guru sejarahku.
Dua minggu berlalu. Siswa yang
mengikuti seleksi perlombaan diminta berkumpul di aula. Dengan perasaan yang
kecewa aku pergi ke sana. Aku sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi. Aku
yakin namaku pasti tidak lolos. Dengan gemetar aku mendengarkan salah seorang
guruku membacakan hasilnya. Di bidang geografi juara 3 adalah Ervan, juara 2
adalah Nahda, dan juara 1 adalah Kartiko. Di bidang sejarah juga dibacakan
dengan diawali posisi ketiga, kedua, dan pertama. Benar saja feelingku aku tidak ada dalam daftar
nama sejarah satu pun. Saat itu aku merasa begitu kecewa terlebih perasaan
bersalahku kepada Ibu Harnik.
Aku sudah berdiri mengambil posisi
untuk kembali ke kelas namun Bapak Sugiarto membacakan namaku lolos di bidang
ekonomi urutan pertama. Aku sangat kaget dan tidak percaya. Padahal aku
mengharapkan namaku berada di posisi sejarah. Tapi semua ini aku terima dan aku
jalankan dengan semaksimal mungkin.
Aku dan teman-teman dibina selama
satu minggu. Menurutku pembinaan lomba selama satu minggu sangat kurang untuk
mendalami materi kelas satu, dua dan tiga. Hingga perlombaan berlangsung, aku
merasa tidak maksimal, banyak sekali materi-materi yang belum aku kuasai. Saat
pengumuman aku meraih posisi ke-tujuh. Betapa kecewanya hatiku, apabila aku
meraih posisi ke-lima saja aku dapat berangkat ke Jombang untuk mewakili
sekolahku. Namun memang ini sudah jalan-Nya aku yakin Allah memiliki rencana
yang lebih indah dari ini semua. Dengan kegagalanku, aku berusaha untuk
mendalami lagi materi ekonomi dan mencoba perlombaan-perlombaan yang berbasis
ekonomi nantinya
Pada bulan Maret aku mengikuti
perlombaan pramuka di Chadika. Dalam awalnya aku tidak mau mengingat aku sedang
duduk di kelas tiga. Kelas tiga adalah waktuku untuk fokus belajar bukan untuk
perlombaan yang menghabiskan energi. Tapi berhubung aku diminta oleh sahabatku
sendiri aku pun menurutinya dan bersedia untuk membantunya. Aku mengambil
bidang teknologi tepat guna. Di acara tersebut aku membuat dan mempresentasikan
pemanfaatan limbah jaring apel menjadi bunga. Ternyata dibidang teknologi tepat
guna kami mendapat juara. Sekolah memberiku reward
gratis spp selama tiga bulan. Aku sangat bersyukur sekali mengingat kondisi
keluargaku yang serba berkecukupan aku dapat membantu meringankan beban
keluargaku. Semenjak saat itu aku terpacu untuk mengikuti perlombaan-
perlombaan
Pertengahan Maret aku mengikuti
Smasa Science Cup. Aku nekat mendaftar perlombaan ini padahal jadwalku semakin
padat. Aku ingin membanggakan kedua orang tuaku sekaligus ingin mendapat reward untuk ke-dua kalinya. Aku
mengerjakan soal dengan hati-hati bersama Icha dan Bima, kelompokku. Tahap satu
kami lolos menduduki peringkat ke-empat. Tahap dua adalah lomba cerdas cermat, kami lolos pada
peringkat pertama. Tahap final akhirnya kami keluar sebagai juara ke-dua.
Meskipun target kami adalah sebagai juara pertama tapi apa yang telah kami
lalui kami syukuri. Semua itu adalah jalan dan anugrah terindah dari Allah SWT.
Setelah
keluar dari jenjang smp saya memutuskan untuk meneruskan ke SMA Negeri 1
Jember. SMA Negeri 1 Jember adalah sma favorit di kota Jember. Aku berusaha
untuk bisa lolos tes dan menjadi siswa di sana. Aku meminjam buku-buku kepada
kakak kelas dan tekun meraih apa yang aku impikan. Tes berlangsung, soal-soal
yang diujikan sangat sulit dan penuh penalaran. Banyak soal-soal yang tidak
bisa terjawab. Pada soal bahasa inggris lebih berkarakteristik pada toefl.
Sepulang tes otakku mendidih, badanku terasa panas dingin. Harapanku menjadi pupus. Aku hanya bisa
betawakal pada Allah SWT.
Sepulang
tes ayah menanyakan padaku mengenai kemampuanku dalam mengerjakan soal namun
dengan penuh rasa kecewa aku menjawab “nihil”. Aku tidak tahu betapa kecewanya ayah
saat mendengar penuturanku. Ayah berharap lebih padaku tapi kemampuanku memang
tidak memenuhi. Pengumuman dilakukan melalui internet tapi aku sudah malas
membukanya. Aku yakin aku tidak lolos pada tes itu. Bahasa inggris susah untuk
kupahami, geografi memuat soal-soal yang belum pernah aku temui, ekonomi berisi
grafik-grafik yang tidak bisa aku baca, ilmu pengetahuan alam hanya berbekal
doa, dan matematika ku isi dengan random.
Aku pasrah dengan ketentuan Allah.
Aku mulai membesarkan hatiku, semua sekolah itu baik tinggal bagaimana
kita dalam menerima dan aktif dalam belajar
Tiba-tiba
Nada salah seorang sahabatku memelukku dengan erat. Aku sudah menyangka pasti
Nada diterima di sekolah itu. Betapa bahagianya aku melihat temanku bahagia.
Lalu Nada mengatakan “kita jumpa lagi Yes!”. Awalnya aku tidak mengerti apa
yang dibicarakan, namun Nada menjelaskan dengan hati yang berbunga-bunga dan
penuh euphoria. Ternyata aku dan Nada diterima di SMA Negeri 1 Jember.
Kehidupan
di sma sangat berdeda daripada smp. Perbedaan itu terletak dari cara belajar,
orang-orang yang ada di sana, dan cara bergaul. Di smp cara belajar sudah
berbea dengan sma. Segala sumber materi terdapat pada perkataan ibu guru dan
buku diktat. Di sma kita diperbolehkan mengikuti satu sumber atau mendiskusikan
terdapat sumber lain dan mengkomparasikannya. Orang-orang yang berada dalam
lingkungan sma aalah orang-orang yang pendiam, tekun, dan keinginan meraih
prestasinya kuat berbeda dengan smp yang didalamnya terdapat sekumpulan manusia
yang heterogen. Ada sebagian kecil siswa yang aktif dan mendengarkan setiap apa
yang diucapkan oleh guru dan mengerjakan tugas tepat waktu tapi ada juga siswa
yang tidak hormat pada guru, sering bolos, dan tidak pernah mengerjakan tugas.
Sma memiliki unsur-unsur yang lebih homogen. Dalam mengkomparasikan mengenai
cara bergaul, kita sering menemui suatu kenyataan mengenai hubungan antar siswa
yang kurang baik. Mereka menilai dengan kedudukan, harta, dan fisik namun bila
di sma semua nilai itu tidak berlaku. Stratifikasi yang ada dalam ruang lingkup
sma bukan didasarkan materi, kedudukan, maupun terkenal atau tidakkah dia
melainkan dinilai dari seberapa besar kita berguna dan seberapa besar
kontribusi yang telah kita lakukan untuk sekolah kita. Aku merasa sekolahku itu
sama halnya dengan sekolah-sekolah yang lainnya, yang membuat sekolah kami
unggul daripada sekolah lain di Jember adalah lingkungan sekolah kami yan baik.
Kelas
sepuluh sma adalah masa-masa yang sulit. Aku mulai mengenal toefl, baru saja aku mengenal toefl aku sudah merasa takut terhadap
mata pelajaran yang satu ini. Dari sd
aku lemah dalam bidang study bahasa Inggris. Vocabku masih sedikit apalagi grammarku, hancur. Aku sering
mengulang dalam mata pelajaran ini. Sungguh membuat aku sangat jengkel. Tapi,
hidup harus berlanjut life must go on.
Nama kelasku adalah X7 “Sepatu Mambu” yang berarti “ arek sepuluh pitu manut
–manut bu”. Di kelas ini terdapat sisi nyaman dan tidak. Ditinjau ari sisi
tidak nyaman kelasku terbagi menjadi tiga kubu yaitu kubu 1, kubu 2, dan kubu
3. Aku bukan tergolong ketiganya, aku tergolong orang yang netral. Dengan
adanya kubu-kubu itu menjadi jurang pemisah antara kami. Dari segi nyaman di
kelas X7, X7 memiliki siswa yang lucu, seru dan kocak. Hal ini sangat cocok
untuk penghilang stress
Hari-hariku
berjalan sebagaimana mestinya. Aku menikmati hari-hariku meskipun banyak
hal-hal yang harus aku lakukan. Aku mengikuti organisasi Kelompok Ilmiah
Remaja. Kelompok Ilmiah Remaja mencetak
kita menjadi siswa-siswa yang berpikir kritis dan bisa membuat karya tulis
ilmiah sendiri. Mengikuti organisasi ini sangat menyenangkan tapi juga
menyibukkan. Banyak event-event yang
harus diselenggarakan sehingga kita harus pandai membagi waktu antara sekolah
dan organisasi.
Seleksi
OSN tahap satu sebentar lagi akan diselenggarakan. Aku berniat sungguh-sungguh
mengikuti seleksi ini. Namun aku memiliki kelemahan yaitu akuntansi. Aku
benar-benar buta dengan bahasa bisnis itu. Soal-soal yang ditanyakan pada tahap
satui hanyalah seputar soal-soal pengantar yang bersifat pengembangan. Aku
optimis aku masuk kedalam 10 besar Olimpiyade Sains tingkat sekolah. Dua minggu
kemudian pengumuman dibacakan di depan upacara Alhamdulillah aku meraih posisi
ke-empat dalam OSN. Saat namaku dibacakan aku sangat bahagia tapi hal ini masih
berlanjut masih terdapat seleksi tahap dua dan tiga yang menantiku. Setelah
tahap dua dimulai dan dibacakan hasilnya ternyata aku masih lolos dalam seleksi
ini. Namun pada babak ke-tiga dimana babak yang sangat dinantikan oleh finalis,
namaku tidak tercatat sebagai wakil sekolahku di Olimpiyade Science Kabupaten.
Saat itu aku sedih karena targetku tidak tercapai namun aku menerimanya karena
aku menyadari bila aku buta akuntansi. Posisiku berada pada nomor enam
sedangkan duta sekolah adalah lima orang yang merupakan peringkat pertama
sampai dengan kelima. Kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti meraih
kesuksesan. Dengan kegagalan ini aku mendapat gambaran mengenai apa kelemahanku
serta bagaimana cara menyikapinya agar tahun depan lolos minimal sebagai duta
sekolah.
Aku
tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Aku dan teman-teman mengikuti lomba
ekonomi tingkat Jawa Timur di Universitas Jember. Hal ini merupakan pengalaman
pertamaku untuk perlombaan di sma. Aku dan teman-teman sangat minder kepada
peserta-peserta daerah lain, ditambah usia mereka yang mayoritas lebih tua dari
pada kami. Tapi ini semua harus kami jalani dengan semangat. Kami tidak boleh
minder. Meskipun kami masih kelas satu sma, kami harus bisa membuktikan bahwa
kami juga bisa. Tahap pertama adalah mengerjakan tes berupa multiple choice di bidang ekonomi
akuntansi. Kami harus menyelesaikan 150 point
soal selama 100 menit. Banyak soal-soal yang kami ragukan jawabannya dan tidak
sedikit pula soal-soal yang tidak dapat kami jawab. Yang kami pikirkan hanya
mencari pengalaman.
Setelah
selesai mengerjakan soal kami diminta untuk beristirahat. Aku memutuskan untuk
mengecek jawabanku dengan jawaban kakak kelasku yang juga berposisi sebagai
peserta. Alhasil ada beberapa jawaban yang tidak sama. Saat itu kami
benar-benar kecewa sekaligus pasrah. Kami ingin pulang tapi panitia tidak
membolehkan. Untungnya kami tidak benar-benar pulang karena nama kami tercatat
sebagai peringkat-2 semi finalis. Kaget dan tidak percaya yang kami rasakan.
Kakak kelas kami juga masuk kedalam semi finalis. Mereka begitu hebat, mereka
dapat menduduki posisi pertama dalam tes tahap satu ini. Spirit kami bangkit
kami harus bisa melawan. Tinggal dua tahap lagi kami. Kami pasti bisa melakukan
ini semua. Tahap ke-dua adalah proses cerdas cermat kami melawan sma dari
kabupaten Probolinggo. Awalnya kami memang ketinggalan point tapi di
menit-menit terakhir kami dapat mengejar dan lolos ke tahap final. Subhanallah
kami sangat bersyukur atas anugrah yang Engkau berikan. Allah telah memberikan
jalan kepada kami untuk bisa mengerjakan semua ini. Proses tahap akhir adalah
sesi debat ekonomi. Dalam prosesi debat kali ini kami dihadapkan pada semua tim
artinya setiap tim harus pernah berdebat dengan tim yang lain. Debat kami
lakukan dengan semampu kita. Setelah
menunggu beberapa lama pengumuman dibacakan dalam Seminar Ekonomi Pengangguran
Kabupaten Jember oleh Universitas Jember. Tidak disangka-sangka kami keluar
sebagai juara ketiga dan kakak kelas kami menduduki sebagai juara pertama. Kami
sangat senang sekali. Meskipun mengorbankan absensi sekolah ternyata kami tidak
pulang dengan sia-sia.
Ujian
akhir semester sudah dekat. Aku diminta untuk mengisi angket jurusan. Aku harus
memilih jurusan ipa atau ips. Aku mengambil keputusan untuk memilih program ips
namun sebelum aku tulis aku mendiskusikannya terlebih dahulu dengan ayah dan
ibu. Ibu sangat mendukungku masuk program sosial. Namun ayah masih berat hati.
Beliau masih beranggapan apabila lulusan ipa lebih baik daripada ips. Aku
berusaha meyakinkan ayah apabila prespektif itu salah. Akhirnya ayah
menyetujuiku masuk kedalam program sosial. Aku senang sekali ayah bukanlah
orang tua yang diktator yang memaksakan
kemauan kemauannya pribadi. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang
demokratis.
Kini
aku menjadi murid kelas sebelas ips dua. Di ips dua hanya berisi dua puluh dua
siswa namun meskipun jumlah teman kami sedikit kami tetap kompak dalam
menjalankan hari-hari sekolah. Kami tetap berpartisipasi dalam event-event sekolah meskipun jumlah
laki-laki dikelas kami terbatas. Apabila terdapat perlombaan yang membutuhkan
pria lebih dari enam orang seperi regu ipsi yang berisi sepuluh orang maka
siswa wanita mengisi kekosongan tersebut. Kelas kami begitu kompak dalam segala
hal baik dari segi belajar, mengerjakan tugas maupun bermain.
Menjadi
seorang anak ips terkadang sering mendapat gunjingan. Gunjingan ini dilontarkan
kepada kami sejak dulu sampai sekarang tidak ada selesai-selesainya. Labelling yang mereka tanamkan telah mendarah
daging. Kami disebut sebagai anak yang malas, bodoh, dan buangan. Untungnya
masyarakat di sekolahku berbeda. Sekolahku tidak memandang rendah satu jurusan.
Semua orang menilai baik ipa maupun ips sama. Mereka tidak pernah memojokkan
kami tidak seperti masyarakat. Setiap orang apabila ditanya “Kamu masuk jurusan
apa?” , “ips”,”kok ips, kok gak ipa aja? Ipa kan bisa pindah jurusan,......”.
Apa salah seseorang bila mengambil program ips. seseorang yang benar-benar
mengambil program ips tanpa paksaan maupun keadaan adalah seseorang yang sudah
memahami dirinya sendiri mengetahui dimana bidang yang cocok untuknya. Miris
sekali, semua orang di seluruh Indonesia menganggap program ips adalah program
yang buruk. Hal ini dikarenakan mereka mengasumsikan kelas ips maerupakan
sampah dari kelas ipa sedangkan kelas bahasa merupakan sampah dari ketiganya
sehingga kualitas mereka tidak dapat dibandingkan. Tapi hal itu tentunya tidak
berlaku pada semua orang.
Saat
terdapat pengumuman lomba tingkat Nasional di depan perpustakaan, aku langsung
tertarik untuk mengikutinya. Aku bersama temanku Dita mencoba lomba di
kabupaten Malang. Begitu aku sampai di kota Malang, aku langsung menginap di
hotel bersama orang tua Dita. Keesokan harinya kami berangkat untuk menghadiri perlombaan
tersebut. Perdana lomba untuk sma, bertemu bermacam-macam manusia dari
daerah-daerah di seluruh Indonesia merupakan hal yang sangat menyenangkan.
Berbagi budaya, mengenal ragam bahasa, dan karakteristik masing-masing. Dengan
adanya perlombaan ini aku bisa mengenal Indonesiaku sesungguhnya. Ternyata di
luar sana terdapat makhluk-makhluk Allah yang berbeda kebudayaan dan ciri fisik
denganku. Hal itu membuat aku mengerti bahwa keanekaragaman itu indah.
Setelah
aku melakukan registrasi aku masuk ke dalam ruang lomba. Lomba dilakukan selama
dua hari berturut-turut. Hari pertama kami disuguhi sebanyak 200 soal yang
dibagi pada dua sesi. Hal itu memang sangat melelahkan dan menguras otak bagi
kami. Ditambah keadaan kota Malang yang dingin membuat aku masuk angin. Hal itu
membuat kondisi tubuhku tidak fit dalam melakukan segala hal. Setelah selesai
aku dan teman-teman digiring ke hotel Pelangi 2. Disana kami dibagi ke dalam
berpuluh-puluh kamar. Satu kamar berkapasitas empat orang. Jam 9 malam
pengumuman tahap 1 dan 2 ditempel dan kami menduduki posisi ke-11 dari 375
peserta. Kami sangat sedih, kami belum bisa mencapai enam besar. Padahal
nantinya pada sesi kelima panitia akan mengambil peringkat satu sampai dengan
enam untuk mengikuti babak semi final. Dan babak yang belum kami lalui tinggal
satu babak. Kami kurang yakin kami dapat melakukannya tapi kami harus tetap
semangat. Keesokan harinya kami mengerjakan tahap 3, tidak sama dengan tahap
satu dan dua, tahap tiga adalah tahap puncak yang menguras otak. Kami berusaha
untuk tetap fokus. Namun di akhir kisah kami belum beruntung. Kami belum bisa
mengangkat nilai kami menjadi peringkat enam. Kami pulang dengan rasa kecewa.
Keesokan
harinya, aku disambut dengan dua lembar naskah soal Olimpiyade Science Tingkat
Sekolah. Saat itu kondisiku benar-benar tidak fit. Pukul dua pagi aku baru
sampai dan pukul tujuh tepat aku harus sudah mulai mengerjakan soal. Akhirnya
kuputuskan untuk mengerjakan seperlunya saja. Badanku sudah tidak dapat
menopang otak. Demam dan meriang menambah buruk keadaan. Setelah soal-soal
kuselesaikan aku meminta izin untuk pulang.
Hal
ini memang sangat membuatku kecewa karena aku merasa tidak maksimal dalam
mengerjakan soal tersebut. Yang aku lakukan hanya pasrah dan tawakkal kepada
Allah SWT semoga namaku masih bisa lolos dalam OSN tingkat kabupaten ini. Yang
kupikirkan sekarang lebih pada kesehatanku. Pada upacara bendera diumumkan 10
besar peserta yang lolos kedalam tahap ke-dua. Alhamdulillah Allah masih
menghendakiku untuk melanjutkan perjuanganku.
Masuk kedalam sanggar olimpiyade
tidak begitu mudah karena aku harus mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Aku
harus bisa menyeimbangkan waktuku antara sekolah, tugas, sanggar lomba, dan
organisasi. Padahal di bulan-bulan itu juga aku sedang menjalani kepanitiaan
dalam membuat event Perkemahan Ilmiah
Remaja di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Sebagai seorang sekretaris
aku dituntut untuk mengerjakan proposal, surat undangan, surat pernyataan, dan
surat izin tepat waktu. Aku juga harus bisa membagi waktuku kedalam rapat demi
kelangsungan acara tahunan ini. Aku berusaha untuk seimbang. Menyeimbangkan
waktuku antara sekolah, tugas, sanggar OSN maupun organisasi.
OSN
tahap demi tahap aku lalui sehingga akhirnya aku lolos sebagai duta sekolah di
kabupaten. Ada perasaan antara sedih dan senang menjalani ini semua. Aku senang
masih bisa lolos sebagai salah satu wakil dari sekolahku di bidang ekonomi,
tapi disisi lain aku harus berusaha lebih keras untuk membagi waktu-waktuku.
Perkemahan Ilmiah Remaja juga semakin dekat. Rapat-rapat semakin sering
dilakukan. Terkadang aku merasa keteteran dalam membagi waktu. Namun setelah
dijalani aku bisa menyeimbangkan semua itu.
OSN
tingkat kabupaten dilaksanakan di SMA Negeri 4 Jember. Wakil-wakil terbaik dari
tiap sekolah baik negeri maupun swasta berkumpul disana. Aku menjadi minder
terlebih dengan siswa-siswa berkulit putih dan berkacamata terlihat jenius
sekali. Aku mengerjakan soal demi soal dengan hati-hati tapi tetap saja ada
beberapa nomor yang kosong karena aku tidak tahu jawabannya. Aku sudah pasrah
dengan ini semua yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Apabila
lolos alhamdulillah, jika tidak lolos berarti memang aku kurang menguasai
materi. Aku menyerahkan semua nasibku pada sang Pencipta. Allah tahu mana yang
terbaik untukku. Aku hanya berdoa untuk diberikan yang terbaik.
Saat
aku pulang sekolah, aku berjalan menyusuri jalanan di belakang puskesmas
Sumbersari. Saat itu aku membawa 5 buku di dalam tas punggungku dan menenteng
laptop pemberian kakak sepupuku. Tiba-tiba dari arah belakang terdapat dua
orang pemuda bermotor yang memakai jaket hitam dan helm teropong. Awalnya aku
merasa tidak terusik oleh kedua pemuda itu tapi tiba-tiba mereka menyerempetku dan menjambret laptopku.
Aku kaget dan aku tetap menggenggam erat tas laptopku tiba-tiba mereka
mengeluarkan pisau lipat untuk menyayat pergelangan tanganku. Aku kaget, aku
langsung melepasnya. Akhirnya mereka membawa laptopku dengan motornya. Aku lari
dan menangis mengejar penjambret. Aku berteriak dengan sekencang-kencangnya
tapi awalnya tidak ada satupun orang yang mendengar lalu tiba-tiba ada
bapak-bapak yang mengejar penjamberet itu sedangkan aku dikerumuni oleh warga.
Aku menangis histeris dan pingsan. Laptop merupakan barang mewah bagi keluarga
kami. Aku benar-benar membutuhkannya untuk kelancaran tugas-tugas sekolahku.
Tapi, semua itu sudah hilang. Aku merasa sangat bersalah kepada ayah dan ibu.
Warga di sekitar lokasi penjambretan menanyakan alamat rumahku tapi aku takut
untuk pulang. Akhirnya ibuku dijemput oleh salah seorang warga di sana. Ibuku
datang dan memelukku dengan erat. Ya Allah mengapa Engkau memberi kami cobaan
lagi pikirku. Tapi ibu berjiwa besar. Beliau yang menguatkanku untuk tabah
menjalani ini semua. Tiga bulan lamanya aku mengalami trauma.
Sejak kejadian itu aku seperti
orang stres. Duduk dikamar menyendiri dengan tatapan yang kosong. Teman
sekelasku semua datang ke rumahku untuk memberiku semangat. Begitu juga sahabat
dekatku Fikan yang selalu ada. Meminjamkan laptop kepadaku saat aku
membutuhkan, mengerjakan semua tugas-tugas organisasiku saat aku sedang
mengalami stres.
Setelah
aku melewati masa-masa sulitku, aku mulai bangkit menjalani kehidupan yang
normal. Tiba-tiba ibu Dora koordinator OSN memanggilku dan menyuruhku untuk
belajar kembali. Ternyara aku lolos ke tahap provinsi. Aku kaget dan senang.
Setidak-tidaknya aku masih bisa menghibur ibu dan ayah dengan aku lolos ke
tingkat provinsi. Aku, Dita, dan Teguh mewakili kota Jember di tingkat
provinsi. Senang sekali hati ini. Apalagi aku tidak pernah menginap di hotel
berbintang sebelumnya. Aku hanya bisa menoleh kanan dan kiri tanpa mengerti
cara-cara menggunakan peralatan di hotel Green Park. Andai saja aku bisa
memiliki kamar seperti itu dan mengajak keluargaku merasakan nyamannya tidur di
sni. Hal itu menjadi motivasiku untuk belajar dengan tekun agar dapat
meningkatkan taraf hidup keluargaku. Aku bertemu dengan teman-teman dari
kota-kota lain. Mereka semua hebat-hebat. Keesokan harinya, aku berangkat ke
aula Green Park memakai baju kebanggaan kami yaitu batik dari Dinas Pendidikan
Kabupaten Jember. Aku mengerjakan soal-soal ekonomi semampuku. Aku pasrah
dengan jalanku. Yang penting aku telah berikhtiar dan mengerjakan soal itu
semaksimal mungkin.
Dua bulan
semenjak tes OSN Tingkat Provinsi aku belum mendapat kabar apapun. Mungkin
memang aku belum rejekiku untuk dapat menjadi wakil Jawa Timur di Tingkat
Nasional. Mungkin keinginanku untuk bisa merasakan naik pesawat dan
membanggakan kedua orang tuaku harus hilang. Tiba-tiba Ibu Dora memberiku surat
izin untuk pergi ke kota Malang Jawa Timur. Awalnya aku bingung mengapa aku
harus pergi ke kota Malang. Ibu Dora mengatakan aku lolos ke babak selanjutnya
di tingkat nasional. Aku bagai kejatuhan bulan. Tubuhku terasa gemetar
mendengar hal ini. Akhirnya aku bisa naik pesawat dan bisa merasakan tinggal di hotel lagi pikirku.
Aku pulang membawa senyuman di pipiku. Aku memberitahukan kabar gembira ini dan
aku bisa melihat kebahagiaan di raut muka beliau. Keesokan harinya aku
berangkat ke kota Malang. Kami dikarantina selama lima hari. Kami menjalani
rutinitas yang sangat melelahkan dari pukul delapan pagi hingga sepuluh malam.
Aku bertemu teman-teman baruku yaitu Hasmi, Indra, Luluk, Evelyn, Nerisa, dan
Jesselyn. Mereka begitu hebat. Mereka paham dengan semua materi yang diajarkan
oleh dosen Universitas Malang dan Universitas Brawijaya. Di Malang kami
menjalin kebersamaan satu sama lain. Kami dibentuk untuk menjadi saudara,
menanamkan kebersamaan, dan tidak menganggap satu sama lain adalah lawan. Kami
juga berdoa agar nantinya di Manado minimum salah satu dari kami bisa
mendapatkan medali emas dan mengharumkan nama Jawa Timur. Setelah karantina
selesai kami pulang ke kota kami masing-masing membawa tekad untuk maju. Begitu
juga aku, aku sudah bertekad untuk membahagiakan orang tuaku, bila aku menang
nanti hadiah yang aku dapat akan ku pergunakan untuk menaikkan haji ayah dan
ibu.
Aku
segera pulang ke kota Jember, ujian akhir sekolah menungguku. Aku mengusahakan
untuk membagi waktuku. Sehari semalam aku mengejar materiku karena esok hari
aku harus mengikuti Ujian Akhir Sekolah. Aku menjawab pertanyaan demi
pertanyaan semampuku. Aku merasa persiapanku untuk ujian akhir kurang. Ini
adalah suatu pembelajaran bagiku untuk membagi waktu dengan lebih baik lagi
Ujian
dan liburan panjang telah usai, aku meneruskan perjuanganku lagi. Olimpiyade
semakin dekat dan aku harus mengasah pemahamanku mengenai ekonomi lebih baik
lagi. Saat lebaran aku memutuskan untuk
tidak mudik. Hal ini dikarenakan satu minggu setelah kami lebaran adalah dateline untuk mengikuti Olimpiyade
Science Nasional. Di masa-masa persiapan itu pikiranku terpecah. Adikku yang
masih balita harus dirawat di rumah sakit karena typus. Hal ini membuatku
sangat terpukul. Di satu sisi aku harus belajar lebih giat tapi disisi lain aku
sangat menghawatirkan kondisi adikku.
Aku
berangkat ke Hotel Utami Surabaya. Di sana kami dikumpulkan untuk diberi
motivasi-motivasi oleh seorang motivator dari Universitas Airlangga. Keesokan
harinya kami berangkat ke kota Manado melalui bandara Juanda. Betapa senangnya hatiku, akhirnya aku bisa
merasakan naik pesawat. Andai ayah, ibu, dan adik-adikku bisa merasakan
bagaimana naik pesawat pasti mereka akan senang. Naik pesawat tidak seburuk
yang aku pikirkan. Tidak seperti naik bus yang membuat aku mabuk dan mual.
Sesampainya di bandara Sam Ratulangi kami disambut oleh panitia Olimpiyade
Sains Nasional. Kami berangkat menuju Hotel Manado Quality, hotel yang megah
dan belum pernah aku temui sebelumnya di kotaku. Aku sekamar dengan Nurbaeti
Ipaenin yang biasa disebut dengan Betty. Gadis berkulit gelap manis yang
berasal dari Ambon. Senang sekali bisa bertemu dengannya berbagi cerita dan
pengalaman kami.
Keesokan
harinya kita memulai perlombaan dengan game. Membuat sebuah produk lalu
mempresentasikannya. Kelompokku membuat celengan bulu dengan kepala unyu, kami
mempresentasikan buah karya kami se maksimal mungkin. Keesokan harinya kami
menjalani sesi ke dua yaitu sesi menjawab soal dan membuat essay dan power
point. Kami berada di depan komputer selama sepuluh jam. Hal ini yang membuat
mataku menjadi kabur setelah mengikuti tahap kedua. Soal yang diujikan
merupakan soal pengembangan dari materi-materi yang telah kita dapat dan
mengenai logika ekonomi. Pada subbab dua kami diminta untuk menjelaskan
pertanyaan-pertanyaan yang kami dapat. Setelah itu kami diminta untuk mengambil
undian mengenai materi apa yang akan kami buat essay dan power point, kami harus merebus otak untuk merangkai materi dan
opini kami terhadap suatu masalah yang diujikan oleh panitia. Sesi ini adalah
sesi yang paling berat.
Keesokan
harinya kami menjalani sesi terakhir yaitu sesi presentasi dan bermain saham
yang dilakukan langsung oleh Bursa Efek Indonesia. Di sesi presentasi kami
diberi pertanyaan-pertanyaan yang menguji kemampuan dan pemahaman kami dibidang
ekonomi. Pada sesi bermain saham adalah sesi yan sangat mengasikkan. Kami
berlari-lari berebut posisi untuk menjual maupun membeli saham yang kami
inginkan. Kami diajarkan untuk melihat pergerakkan potensi grafik saham yang
akan kami dapatkan.
Setelah
itu kami di jamu oleh pemerintah kota Manado di Grand Kawanua. Pemerintah menyediakan makanan-makanan yang
begitu banyak dan bervariasi. Penjamuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan
rasa penat kami dalam menjalani tiga hari ini. Di Grand Kawanua kami
bernyanyi-nyanyi menari-nari bersama-sama. Kami meneriakkan jargon-jargon
provinsi kami masig-masing.
Keesokan
harinya adalah sesi liburan. Kami diajak untuk berlibur ke danau Tondano. Untuk
mencapai ke danau tersebut harus memakan waktu dua jam dan melewati
dataran-dataran tinggi yang berliku. Setelah itu kami diberhentikan di pusat
oleh-oleh kota Manado tapi harganya sangat mahal. Akhirnya aku hanya membeli yang
penting-penting saja. Di malam hari pengumuman OSN dibacakan, aku pasrah dengan
semua ini, tidak ada rasa deg-degan atau kecewa bila nantinya aku tidak dapat
membawa medali pulang. Buatku pengalaman mengikuti OSN sudah lebih dari cukup.
Setelah pengumuman dibacakan teryata aku tidak dapat membawa medali itu. Tidak
ada kekecewaan dalam diriku. Aku yakin bahwa ini sudah garisku, menjadi seorang
peserta yang mendapat pengalaman, banyak teman, bisa naik pesawat dan tidur di
hotel berbintang saja sudah lebih dari cukup. Aku sangat bersyukur Allah
mengizinkanku untuk menjadi bagian dari acara ini. Sepulang dari Grand Kawanua,
aku langsung menuju kamarku. Aku melihat Betty menangis di kamar. Aku langsung
memeluknya dan membesarkan hatinya. Aku yakin Betty pasti ingin membawa
kebanggaan di keluarganya. Tapi inilah kompetisi, ada yang menang, ada yang
kalah.
Setelah
pulang dari Manado, aku meminta maaf kepada keluargaku. Aku tidak dapat membawa
apa-apa. Keluargaku membesarkan hatiku, mereka sudah bersyukur sekali aku dapat
menjadi wakil dari provinsiku.
Aku
pulang dengan memikirkan setumpuk tugas dan ulangan-ulangan susulan yang harus
aku kerjakan. Inilah pilihan hidup mengutip hukum trade off didalam ekonomi
dimana apabila kita ingin atau memilih salah satu pilihan maka kita harus
mengorbankan pilihan lainnya. Pelajaranku juga keteteran saat aku sibuk untuk
pulang pergi sekolah ke dinas pendidikan untuk mengurus reward ke negeri seribu pagoda.
Kali
ini aku mengikuti studi edukasi yang
diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Pendidikan Kabupaten
Jember. Aku menghabiskan waktu untuk
mengurus pasporku yang begitu rumit. Aku harus mengubah kartu tanda penduduk
karena terdapat kesalahan dalam penulisan alamat, aku harus memperbaharui kartu
keluargaku yang membutuhkan waktu dan tenaga. Tapi semua kelelahanku terasa
seimbang dengan apa yang aku dapatkan nanti.
Aku berangkat menuju Thailand
melalui pulau Bali. Sebelum berangkat menuju bandara kami menghabiskan waktu di
pantai Sanur. Kami melihat sunrise
tepat ditengah-tengah bangunan yang menjorok ke lautan. Begitu indah pesona
alam yang Allah berikan untuk dinikmati oleh manusia.
Kami
berangkat menuju bandara. Aku sangat senang sekali akirnya bisa menikmati naik
pesawat dan tidur di hotel lagi. Aku
sangat antusias menjalani ini semua. Sesampainya di kota Bangkok kami menuju
rumah makan untuk istirahat. Jauh dari harapan ternyata lidahku tidak cocok
dengan makanan-makanan di sini. Akhirnya aku hanya makan nasi dan telor saja.
Sungguh menyedihkan. Setelah makan kami langsung menuju Asia Hotel. Kali ini
hotel yang aku tempati benar-benar indah menjulang mencakar langit-langit kota
Bangkok. Kamarnya dilengkapi dengan tombol-tombol otomatis yang mempermudah
kita untuk melakukan aktivitas. Kendala yang aku temui di sana adalah
komunikasi. Kemampuan berbahasa Inggrisku terbatas sementara penduduk-penduduk
Thailand hanya sedikit yang mengerti bahasa Inggris. Hal ini dikarenakan
Thailand adalah salah satu negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa lain.
Sehingga kemurnian budayanya masih kental. Pertama-tama kami diajak ke arena
bawah air dan musium ikan. Koleksi musium ikan sangat beragam tidak hanya itu
di sama juga menampilkan fosil-fosil ikan purba yang dirangkai menjadi satu
kesatuan sehingga kami masih bisa melihat bentuk dari ikan purba seperti apa.
Setelah itu kami diajak untuk
mengunjungi sekolah di Thailand. Ternyata seluruh siswa yang sekolah di
Thailand memiliki budaya meminum susu setiap hari. Susu tersebut merupakan
sumbangan dari negara. Yang patut kita contoh adalah disaat negara-negara lain
sibuk untuk belajar kebudayaan barat, Thailand memiliki prioritas untuk
mempelajari kebudayaannya sendiri. Bahkan Thailand memasukkan kebudayaan-kebudayaanya
sebagai kurikulum wajib yang harus ditempuh. Mereka beranggapan siapa yang
mencintai kebuayaan asli mereka kalau bukan mereka sendiri. Hal ini juga
berlaku untuk kepemimpinan raja Thailand. Rakyat Thailand sangat sayang dengan
rajanya bahkan mereka mengenakan kaos warna merah jambu untuk meminta
kesembuhan raja pada Tuhan. Saat Thailand sedang mengalami krisis mereka
menyerahkan perhiasan mereka secara cuma-cuma demi kelangsungan negara.
Bendera-bendera kerajaan dan foto raja menghiasi setiap rumah-rumah penduduk di
Thailand. Kontras sekali dengan Indonesia yang pemimpinnya selalu menapat
kecaman dari masyarakat. Mengutip dari kebudayaan Thailand, siapa lagi yang mau
menghormati Bapak Susilo Bambang Yudhoyono kalau bukan kita sebagai rakyat Indonesia.
Setiap
negara memang memiliki adat sendiri-sendiri baik dalam pemerintahan, sosial,
dan budaya. Penampilan siswa Thailand juga berbeda. Saat siswa memasuki jenjang
sd sampai smp harus memotong rambutnya sesuai ketentuan, rambut perempuan harus
berada dua jari dibawah daun telinga sedangkan laki-laki harus memotong
rambutnya dengan tipe 1-2-1. Setelah mengunjungin sekolah Thailand kami
menginap di Baron Hotel yang terletak di pinggir pantai Phattaya. Pantai
Phattaya begitu indah dan bebas. Banyak diskotik-diskotik yang menyajikan
minuman keras bagi pelanggannya. Tidak hanya di diskotik minuman keras juga
disediakan di maket-market kecil maupun di dalam kamar hotel kami. Awalnya aku
kaget dengan situasi ini namun mungkin ini memang sudah menjadi tradisi mereka.
Keesokan
harinya aku mengunjungi International School of Burapha. Di sekolah itu tidak
hanya siswa Thailand melainkan Jerman, India, Amerika berbaur menjadi satu.
Kurikulum yang dipakai merupakan kurikulum internasional. Bangunan-bangunan yang
megah dan dilengkapi dengan fasilitas kolam renang menjadi daya tarik sekolah
esklusif ini.
Kami kembali ke Bangkok untuk
menginap di Asia Hotel. Malam harinya kami diajak untuk makan di resto korea.
Cara makan yang berbeda dan rasa yang berbeda kami rasakan. Di resto kami
mengambil daging mentah lalu memasaknya seniri di meja kami. Aku rasa ini
merupakan sesuatu yang unik bagi siswa Jember khususnya. Keesokan harinya kami
mengunjungi candi dan Chao Praya. Chao Praya merupakan sungai terbesar di Thailand
yang membelah Thailand menjadi dua. Pemerintah membayar 3,5 baht per orang
untuk naik ke kapal. Kami disuguhkan pemandangan yang indah serta ikan-ikan
yang begitu lucu. Di Candi kita berbelanja souvenir-souvenir untuk dibawa ke
Indonesia. Keesokan harinya kami harus pulang ka tanah air.
Sesampainya di tanah air aku harus kembai ke hidupku yang
normal. Ujian Akhir Nasional menantiku. Aku harus mempersiapkan ujian nasional
ini sebaik mungkin. aku harus mengejar ketinggalanku. Perjuanganku tidak berhenti
disini. Meskipun keadaan ekonomi kami tidak beruntung tapi kami harus tetap
hidup dan meraih kesuksesan. Mengencangkan ikat pinggang demi masa depan yang
cemerlang. Kesuksesan itu untuk diraih bukan datang sendiri. Begitu juga meraih
kesuksesan menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia tentunya tak semudah
membalikkan telapak tangan buatku. Butuh bertubi-tubi perjuangan. Tergolong
orang yang pas-pasan adalah salah satu pemicunya.
Saat
aku bingung untuk memutuskan akan kemanakah saat selesai SMA nanti, banyak dari
kerabatku untuk menyarankan masuk ke dalam dunia kerja. Jangankan memutuskan
kuliah di Universitas Indonesia, untuk kuliah di dalam kota pun sulit. Hal ini
dikarenakan aku adalah tulang punggung selain ayah. Adik-adikku tahun ini akan
masuk ke sekolah baru, sehingga butuh biaya lebih.
Tapi,
disisi lain guru-guru dan teman-teman meyakinkanku bahwa kuliah, harus kuliah.
Mereka beranggapan selesai kuliah nanti aku akan mendapatkan pekerjaan yang
lebih layak daripada lulusan SMA. Hal
itu yang membuatku kuat dan bertekad “aku harus kuliah!”. Ibu guru pembinaku
olimpiyade menganjurkanku kuliah bahkan beliau menyuruhku mengambil Universitas
Indonesia.
Aku
bertekad dan membicarakannya kepada keluargaku, untungnya keluargaku setuju.
Tapi saat aku ditanya mau kemana, dan aku menjawab Universitas Indonesia sontak
membuat keluargaku kaget, terlebih kerabatku, dan orang-orang disekitarku
bahkan aku juga dibilang sebagai anak
yang tidak tahu diri bahkan salah seorang teman ayahku yang mencemooh “kere kok
muluk-muluk” sakit rasanya memang tapi kata-kata itulah yang membuatku semakin
kuat. Semakin harga diriku diinjak-injak semakin kuat aku berdiri. Aku menjadi
lebih tertantang bahwa anak teknisi bus sepertiku juga bisa masuk Universitas
Indonesia.
Akhirnya
aku memutuskan untuk mengkomunikasikannya ke guru BK. Beliau sangat
mendukungku. Beliau menganjurkanku memilih program bidik misi yaitu program
bantuan dari pemerintah gratis kuliah. Subhanallah jalanku dipermudah pikirku
dalam hati.
Aku
langsung mengkomunikasikan kembali kepada kedua orang tuaku, tapi ibuku masih
takut untuk mengambilnya, selain bidikmisi belum final, transport juga mahal.
Uang apa lagi yang harus dipakai untuk berangkat ke Depok untuk daftar ulang,
jangankan tabungan, gaji saja perbulan selalu minus. Tapi tekadku sudah kuat,
aku meyakinkan ibu, aku bisa kerja disana, aku bisa hidup disana.alhamdulillah
mereka mengizinkan aku memilih UI
Berbekal
semangat dan dorongan kuat aku nekat memilih Universitas Indonesia urusan biaya
dapat dipecahkan dengan bekerja part time.
Yang penting aku bisa sukses, aku bisa mengangkat derajat orang tuaku yang
sering sekali direndahkan.
Hari
pengumuman pun tiba, aku melihatnya, aku melihatnya, aku melihat namaku berada di
Universitas Indonesia. Bagai terbang ke langit dan menjamah kapas-kapas putih
di langit yang biru. Aku bisa...
Tapi
hal ini menambah beban bagi keluargaku rupanya, antara senang dan beban. Aku
mencoba menguatkan ayah dan ibu, aku pasti lolos bidikmisi. Meskipun tidak
lolos aku bisa menjadi apapun cleaning service, office girl, kasir, buruh cuci
asalkan aku bisa kuliah di Universitas Indonesia. Ayah ibu menangis
mendengarnya akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk ke Universitas Indonesia
Perjuanganku
tidak hanya disitu, aku harus melengkapi berkas-berkas rumit yang lainnya.
Dengan sabar aku dan ayah mengumpulkannya satu demi satu, meminta keterangan
tidak mampu ke rt rw meminta persetujuan tetangga-tetangga dan mengirimkannya tepat waktu. Untung ada salah seorang temanku
yang baik hati untuk Rania menjemputku mengantar berkas ke agen pengiriman.
Saat itu hujan deras sekali petir menyambar bersahut-sahutan kota Jember
tertutup awan hitam yang kelam. Tapi itu tak mengurungkan tekadku untuk meraih
asaku. Kami pergi ke tiga tempat, jalanya sangat jauh dan licin,
berkas-berkasku tidak boleh basah, dan harus tepat waktu. Kami berjuang bersama
menembus hujan dan maut yang bisa-bisa menyambar kami. Tapi hidup butuh
pengorbanan, jika berkas ini tidak sampai maka aku tidak bisa kuliah. Badan
boleh basah asal berkas selamat. Bukan jas hujan melindungi badan kami tapi
berkas kami jauh lebih berharga. Alhamdulillah berkas kami kirim tepat pada
waktunya
Hari
daftar ulang pun tiba, ayah terpaksa meminjam uang untuk keberangkatanku. Aku
iba sekali melihat ayah, tapi apadaya memang tidak ada biaya. Tapi dalam hati
kecil ini berikrar “ayah, aku pasti bisa membalas semua ayah! Perjuangan ayah
mengais rizki bergulung-gulung dibawah bus akan ku bayar kesuksesanku. Aku
pasti bisa yah! tunggu aku!aku akan janjikan kehidupan kita lebih layak, aku
pasti bisa menaikkan haji ayah dan ibu..! aku sayang ayah dan ibu ..
Akhirnya
aku bisa mencium kota Depok, sungguh luar biasa Universitas begitu besar. Belum
pernah aku melihat bangunan perpustakaan menjulang begitu indah. Subhanallah..
Meskipun tidur dilantai kamar asrama tapi aku tetap senang
Registrasi aku lalui dan wawancara
bidikmisi aku lakukan. Aku jawab butir-butir pertanyaan itu apa adanya.
Pewawancara pun menasihatiku sebagai tulang punggung aku harus kuliah dengan
benar, dan meraih kesuksesanku membahagiakan keluargaku dan menyekolahkan
adik-adikku nantinya. Setelah semua selesai kami pulang ke kotaku tercinta.
Pengumuman bidikmisi pun tiba. Aku mencoba melihatnya dengan gemetar begitu
juga ibu dan ayah. Beliau sangat mengharapkannya begitu juga aku, aku sangat
mengharapkannya. Alhamdulillah namaku mendapatkan bidikmisi, aku sangat lega
mendengarkannya. Subhanallah.. ini jalan Allah untuk kesuksesan, ini jalan
Allah untuk keluargaku. aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan
meraih kesuksesan itu. Amin Ya Rabb