Kamis, 07 November 2013

AUTOBIOGRAFI



Hari demi hari telah berganti. Menit demi menit telah berlalu. Dentum jarum jam kini sudah membisikan kenyataan. Begitulah kegelisahan seorang ibu yang menanti kelahiran buah hati pertamanya, berjuang mempertaruhkan nyawa. Menghela napas demi napas. Menahan rasa penderitaan dan berada dalam lingkar kematian.Tangisan yang memecah keheningan malam, membangkitkan lekukan senyum diantara orang-orang yang menemani ibuku bertaruh nyawa demi kelahiranku. Tepat tanggal 14 Februari pukul 00 :15 Waktu Indonesia bagian Barat, Allah telah menganugrahi nyawa kecil yang telah melekat pada ragaku. Ayah mengazani telinga kananku dengan suara lirihnya.
Subhanallah,  betapa beruntungnya aku dapat dilahirkan di dunia ini. Terlahir sebagai anak pertama ditengah-tengah keluarga yang penuh kesederhanaan dan kehangatan. Aku diterima dalam kehangatan keluarga ini. Ya, sungguh nikmat Illahi yang amat luar biasa.
Namaku Yesika Billah Barika, Yesika adalah nama dari ayah dan ibuku. Tamyis dan Kana. Sedangkan kata Billah yang artinya dari Allah, dan Barika berarti barokah menjadi pelengkap doa dalam untaian namaku. Ayahku adalah seorang teknisi bus Damri Jember sedangkan ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Ibu membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Beliau selalu ada saat kapanpun aku membutuhkannya. Entah sakit, ataupun lelah beliau selalu menyempatkan menjalani hari-harinya demi aku. 
Sejak kecil, aku memiliki tidak memiliki antibody yang kuat layaknya teman-teman. Setiap kali aku bermain dengan teman-teman pasti terjatuh. Entah mengapa hal itu terjadi, akhirnya aku hanya diperbolehkan bermain di rumah bersama ibuku. Kami adalah teman, bukan ibu dan anak. Kami bermain pasar-pasaran, bekel, dakon, dan kempyeng. Ibu dapat memposisikan dirinya dengan baik. Saat sedang bermain denganku ibu menjadi layaknya anak-anak dengan tingkah polosnya. Sedangkan disaat beliau sedang mengajariku ibu menjadi pribadi yang tegas dan bersahaja.
    
 Pada umur tiga tahun aku mengalami penyakit typus yang tinggi. Aku mengalami lumpuh sementara, Kaki-kakiku lemas dan saat berdiri, aku jatuh Sehingga aku harus dirawat dirumah sakit. Kenyataan itu sangat memukul batin keluargaku. Disamping mereka tidak tega melihatku terbaring lemas, biaya yang makin hari menumpuk memaksaku untuk rawat jalan. Akhirnya aku berobat dengan cara yang tradisional. Setiap hari aku diberi obat cacing sebagai pengganti obat yang harganya sangat tinggi. Alhamdulillah lama kelamaan kondisiku semakin pulih .
   Di umur empat tahun aku memasuki jenjang taman kanak-kanak. Hari pertama aku telah membuat kebodohan yang luar biasa. Saat prosesi pembacaan pancasila pada upacara pertamaku di taman kanak-kanak, aku maju tanpa aba-aba dengan percaya diri berdiri disamping ibu pembina upacara. Aku langsung meneriakkan “pancasila” dan membacakan sila-silanya dengan lantang. Padahal dalam hal ini posisiku hanya peserta upacara bukan petugas. Akhirnya petugas pembaca pancasila yang notabenenya kakak kelasku harus menangis gara-gara ulahku.
Saat di bangku taman kanak-kanak, aku termasuk anak yang tidak tahu malu serta acuh. Aku tidak peduli dengan teman-teman yang sering mengejekku anak yang sakit-sakitan. Tapi inilah kenyataan. Tahun 2000, ibu guruku memilihku untuk mengikuti lomba geometri di kota Jember. Aku berlatih keras untuk semua itu. Setiap malam ibu mengajariku tentang bagaimana cara menggunting dengan rapi, menempel dengan hati-hati, serta bagaimana berekspresi. Lomba  dimulai, pekerjaan demi pekerjaan aku lakukan dengan teliti, potongan-potongan kertas disusun secara sistematis dan rapi.  Empat jam setelah lomba selesai, panitia membacakan pemenangnya. Alhamdulillah aku ternyata menjadi juara dua dalam lomba ini. Semua berkat ibuku yang telah membimbingku dengan sabar dalam berlatih geometri setiap hari
Pertengahan juni 2012, aku mendaftar ke sekolah dasar Brawijaya. Brawijaya terletak satu kilometer dari rumahku. Sekolah ini adalah sekolah favorit di kabupaten Jember. Brawijaya memiliki dua sekolah dasar yaitu kepatihan 6 dan kepatihan 7. Ayah sangat ambisius agar aku masuk ke dalam sekolah itu, beliau mendaftarkanku dua sekolah sekaligus. Ternyata, dalam peraturan di Brawijaya disebutkan tidak boleh mendaftar dua sekolah. Akhirnya namaku diblacklist di sekolah itu.
Aku mencoba sekolah dasar lain yaitu SDN kepatihan 5 Jember, alhamulillah aku diterima di sekolah dasar tersebut. Aku menjalani hari-hariku dengan penuh semangat begitu juga ibuku yang selalu rajin mengecek nilaiku setiap hari, beliau mencubitku ketika aku tidak mendapat nilai sempurna. Awalnya aku menilai ibuku kejam tapi lambat laun aku sadar bahwa semua yang ibu lakukan terhadapku adalah demi kebaikanku. Setiap malam ibu selalu mengajariku materi-materi yang akan diulas besok sehingga pada pertemuan selanjutnya aku sudah mengerti materi yang dibahas oleh ibu guru.
Saat kelas 3, aku berubah. Aku malas untuk belajar dan membaca buku. Buku-buku yang telah ayah beli untukku tidak pernah kubaca. Hal ini menimbulkan kemarahan ayah dan ibu. Akhirnya beliau tidak membelikanku buku di cawu dua dan tiga. Ibu juga kesal dan tiak mau mengajariku lagi. Hari-hariku menjadi sulit sejak peristiwa itu. Aku dituntut untuk lebih aktif dan tidak tergantung pada buku diktat. Aku mempelajari catatan-catatan dan soal soal yang telah diberikan. Aku ingin membuktikan bila aku serius dalam sekolah. Aku harus mengembalikan kepercayaan ayah dan ibu. Pembagian rapor tiba, Alhamdulillah aku masih bisa mempertahankan posisiku di urutan pertama.
Posisiku tidak bertahan lama setelah kepala sekolah menetapkan ibu dari salah seorang temanku menjadi wali kelasku. Sejak itu hari-hariku berubah. Banyak sekali kecurangan di dalam kelas. Saat ujian tengah semester maupun ujian semester ibu guru memberikan kunci jawaban kepada anaknya. Sehingga di kelas empat anak dari wali kelasku yang tadinya menduduki posisi ke-15sekarang  menduduki posisi pertama. Aku kecewa sekali. Aku berusaha sabar dan ikhlas menjalani ini semua. Ayah membesarkan hatiku. Beliau berkata kebenaran pasti akan menang. Aku meyakini nasihat ayah.
Pada usia 10 tahun, Allah member keluargaku cobaan yang beruntun. Cobaan pertama adalah saat almarhum kakekku terkena stroke yang membuat beliau menjadi lumpuh. Saat itu kasih saying ibu mulai terpecah antara aku dan kakek. Ibu juga lupa membuatkanku sarapan maupun mengingatkanku untuk minum obat.  Cobaan kedua adalah saat ayahku tersandung kasus kecelakaan bus DAMRI yang masuk ke dalam jurang. Posisi ayahku adalah wakil penanggung jawab teknisi. Kasus ini menyeret ayah dan penanggung jawab lainnya ke pengadilan. Namun, Allah ternyata memang adil, setelah diselidiki kecelakaan tersebut bukan sepenuhnya salah perusahaan bus DAMRI melainkan karena over capacity yang dipaksakan oleh korban. Saat ayah tersandung kasus itu aku sangat terpuruk. Aku merasa kekurangan kasih sayang. Ayah repot mengurusi kasus-kasus kecelakaan di kepolisian sedangkan ibu setiap malam hanya merenung memikirkan ayah. Tapi semua itu telah berlalu. Mengutip kata ayah “kebenaran pasti akan menang” dan hal itu yang aku yakini sampai sekarang. 
Cobaan datang kembali. Cobaan ini datang saat ayah menunggu giliran sholat magrib karena kapasitas mushola DAMRI yang kecil. Saat ayah ingin duduk di sepeda motor depan mushola, tiba-tiba motor terguling. Tangan kanan ayah terkena kaca. Akhirnya ayah dilarikan ke rumah sakit. Menurut dokter yang menangani ayah, ayah harus segera dioperasi nadi yang tersayat terlalu dalam. Tiga puluh tiga urat nadi ayah putus. Bila tidak segera dioprasi tangan ayah harus diamputasi. Bukan hanya ibu yang terpukul, aku sebagai anak tertua juga merasa hidup ini tidak adil. Mengapa harus ayah? Mengapa Allah tidak sayang kepada kami? Tiga kali operasi telah ayah jalani di rumah sakit Jember. Tapi hal itu tidak membuahkan hasil melainkan menambah tanggungan hutang yang menumpuk dimana-mana. Sebagai anak tertua, aku ikut menenangkan ibuku. Akhirnya ayah berobat ke rumah sakit di Surabaya. Beliau menjalani satu operasi. Demi kesembuhan ayah, uang bukan menjadi masalah. Akhirnya rumah kami di jual demi menutupi hutang-hutang pengobatan ayah. Masalah tidak sampai disitu saja, ayah frustasi terhadap kondisinya. Tangan beliau sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Beliau ditempatkan menjadi pesuruh dari kedudukannya koordinator teknisi. Hal ini berjalan selama ayah dalam proses penyembuhan. Aku yang datang ke kantor ayah tidak tega melihatnya. Ayah yang dulunya bekerja di meja dan di bawah bus berganti menjadi pesuruh. Setelah satu tahun, tangan ayah mulai dapat digerakkan. Perusahaan tidak menempatkan posisi ayah sebagai pesuruh lagi.
Tidak hanya itu, selang waktu beberapa bulan setelah ayahku mendapatkan kedudukan yang layak, DAMRI mengalami penurunan. Bahkan Dinas Perhubungan Kabupaten Jember berniat untuk menutup kantor DAMRI. Hal ini juga berdampak pada penghasilan yang diterima oleh pegawai DAMRI. Semua pegawai tidak mendapat gaji selama tujuh bulan. Selama tujuh bulan itu keluargaku benar-benar mengalami krisis. Pernah suatu hari kami hanya makan dengan sebuah pisang goreng. Aku terpaksa pulang karena semua teman-temanku berniat membeli snack. Aku pulang untuk membawa bubuk kopi dan gula untuk dijadikan sebagai camilan pengganti snack. Berjumpa dengan kerupuk dan tahu, serta tidak membawa uang saku, bahkan hanya nasi dan garam pernah kami alami. Hal ini terjadi dalam kurun waktu tujuh bulan selama gaji tidak disalurkan.
Saat tes smp aku dan anak wali kelasku mencoba memasuki sekolah yang sama yaitu SMP Negeri 1 Jember. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadi murid disana. Namaku terpampang di papan pengumuman, sedangkan nama anak dari wali kelasku tidak ada. Di satu sisi aku telah mengerti perkataan ayah dulu bahwa kebenaran pasti menang tapi disisi lain aku sedih sekali dia tidak lolos dalam tes ini.
Memasuki jenjang smp, aku mulai beradaptasi dengan kehidupan remaja. Aku juga dituntut untuk lebih mandiri dari sebelumnya. Aku butuh waktu lama untuk beradaptasi di jenjang smp ini. Banyak teman-teman baru yang tidak aku kenal, materi baru juga aku dapatkan seperti fisika dan sosiologi. Awalnya aku tidak paham apa itu fisika. Aku pernah menjalani remedial karena nilaiku tidak mencukupi. Aku mulai belajar keras untuk menyesuaikan diri. Ternyata aku bisa melakukannya. Aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan pelajaran di jenjang smp.
Aku mulai belajar mengikuti berbagai organisasi, diantaranya adalah organisasi Gita Irama Spasa, organisasi pramuka, dan teater. Aku mulai membagi waktuku antara belajar dan berorganisasi. Pada saat pengumuman kenaikan di kelas satu semester akhir namaku tiba-tiba terpampang di papan pengumuman kelas. Tujuh siswa dari kelasku berhak menduduki kelas unggulan. Salah satu diantaranya aku.
Kelas 2 smp aku menemukan teman-teman baru yang sejalan dengan pola pikirku. Kami sangat kompak didalam segala hal baik dalam ibadah, pembagian kerja, maupun perlombaan kelas. Kelas kami tergolong kelas yang aktif baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Tapi disisi lain kami pernah dibenci oleh guru matematika akibat kesalahpahaman antara ketua kelas dan beliau. Guru matematika kami menawarkan tambahan atau pulang tapi kami memilih untuk pulang melalui ketua kelas kami. Sejak saat itu guru matematika kami tidak mau masuk ke kelas beliau menganggap kami tidak suka pada beliau. Akhirnya kami meminta maaf atas hal ini dan kami mendapat guru pengganti.
Kelas tiga smp. Aku diminta guru sejarahku untuk mencoba mengikuti seleksi perlombaan ilmu pengetahuan sosial di Jombang. Awalnya aku merasa perlombaan itu pasti akan menyita waktuku. Aku mengikuti seleksi perlombaan itu. Aku ingat soal yang dikeluarkan oleh sekolah untuk proses seleksi adalah soal yang berisi materi kelas satu, dua, dan tiga. Awalnya aku setengah hati dalam mengikuti seleksi ini sehingga aku memilih untuk tidak belajar. Tetapi setelah aku keluar dari kelas ujian aku merasa menyesal sekali tidak belajar dan mengecewakan guru sejarahku.
Dua minggu berlalu. Siswa yang mengikuti seleksi perlombaan diminta berkumpul di aula. Dengan perasaan yang kecewa aku pergi ke sana. Aku sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi. Aku yakin namaku pasti tidak lolos. Dengan gemetar aku mendengarkan salah seorang guruku membacakan hasilnya. Di bidang geografi juara 3 adalah Ervan, juara 2 adalah Nahda, dan juara 1 adalah Kartiko. Di bidang sejarah juga dibacakan dengan diawali posisi ketiga, kedua, dan pertama. Benar saja feelingku aku tidak ada dalam daftar nama sejarah satu pun. Saat itu aku merasa begitu kecewa terlebih perasaan bersalahku kepada Ibu Harnik.
Aku sudah berdiri mengambil posisi untuk kembali ke kelas namun Bapak Sugiarto membacakan namaku lolos di bidang ekonomi urutan pertama. Aku sangat kaget dan tidak percaya. Padahal aku mengharapkan namaku berada di posisi sejarah. Tapi semua ini aku terima dan aku jalankan dengan semaksimal mungkin.
Aku dan teman-teman dibina selama satu minggu. Menurutku pembinaan lomba selama satu minggu sangat kurang untuk mendalami materi kelas satu, dua dan tiga. Hingga perlombaan berlangsung, aku merasa tidak maksimal, banyak sekali materi-materi yang belum aku kuasai. Saat pengumuman aku meraih posisi ke-tujuh. Betapa kecewanya hatiku, apabila aku meraih posisi ke-lima saja aku dapat berangkat ke Jombang untuk mewakili sekolahku. Namun memang ini sudah jalan-Nya aku yakin Allah memiliki rencana yang lebih indah dari ini semua. Dengan kegagalanku, aku berusaha untuk mendalami lagi materi ekonomi dan mencoba perlombaan-perlombaan yang berbasis ekonomi nantinya
Pada bulan Maret aku mengikuti perlombaan pramuka di Chadika. Dalam awalnya aku tidak mau mengingat aku sedang duduk di kelas tiga. Kelas tiga adalah waktuku untuk fokus belajar bukan untuk perlombaan yang menghabiskan energi. Tapi berhubung aku diminta oleh sahabatku sendiri aku pun menurutinya dan bersedia untuk membantunya. Aku mengambil bidang teknologi tepat guna. Di acara tersebut aku membuat dan mempresentasikan pemanfaatan limbah jaring apel menjadi bunga. Ternyata dibidang teknologi tepat guna kami mendapat juara. Sekolah memberiku reward gratis spp selama tiga bulan. Aku sangat bersyukur sekali mengingat kondisi keluargaku yang serba berkecukupan aku dapat membantu meringankan beban keluargaku. Semenjak saat itu aku terpacu untuk mengikuti perlombaan- perlombaan
Pertengahan Maret aku mengikuti Smasa Science Cup. Aku nekat mendaftar perlombaan ini padahal jadwalku semakin padat. Aku ingin membanggakan kedua orang tuaku sekaligus ingin mendapat reward untuk ke-dua kalinya. Aku mengerjakan soal dengan hati-hati bersama Icha dan Bima, kelompokku. Tahap satu kami lolos menduduki peringkat ke-empat. Tahap dua  adalah lomba cerdas cermat, kami lolos pada peringkat pertama. Tahap final akhirnya kami keluar sebagai juara ke-dua. Meskipun target kami adalah sebagai juara pertama tapi apa yang telah kami lalui kami syukuri. Semua itu adalah jalan dan anugrah terindah dari Allah SWT.
            Setelah keluar dari jenjang smp saya memutuskan untuk meneruskan ke SMA Negeri 1 Jember. SMA Negeri 1 Jember adalah sma favorit di kota Jember. Aku berusaha untuk bisa lolos tes dan menjadi siswa di sana. Aku meminjam buku-buku kepada kakak kelas dan tekun meraih apa yang aku impikan. Tes berlangsung, soal-soal yang diujikan sangat sulit dan penuh penalaran. Banyak soal-soal yang tidak bisa terjawab. Pada soal bahasa inggris lebih berkarakteristik pada toefl.  Sepulang tes otakku mendidih, badanku terasa panas dingin.  Harapanku menjadi pupus. Aku hanya bisa betawakal pada Allah SWT.
            Sepulang tes ayah menanyakan padaku mengenai kemampuanku dalam mengerjakan soal namun dengan penuh rasa kecewa aku menjawab “nihil”. Aku tidak tahu betapa kecewanya ayah saat mendengar penuturanku. Ayah berharap lebih padaku tapi kemampuanku memang tidak memenuhi. Pengumuman dilakukan melalui internet tapi aku sudah malas membukanya. Aku yakin aku tidak lolos pada tes itu. Bahasa inggris susah untuk kupahami, geografi memuat soal-soal yang belum pernah aku temui, ekonomi berisi grafik-grafik yang tidak bisa aku baca, ilmu pengetahuan alam hanya berbekal doa, dan matematika ku isi dengan random. Aku pasrah dengan ketentuan Allah.  Aku mulai membesarkan hatiku, semua sekolah itu baik tinggal bagaimana kita dalam menerima dan aktif dalam belajar
            Tiba-tiba Nada salah seorang sahabatku memelukku dengan erat. Aku sudah menyangka pasti Nada diterima di sekolah itu. Betapa bahagianya aku melihat temanku bahagia. Lalu Nada mengatakan “kita jumpa lagi Yes!”. Awalnya aku tidak mengerti apa yang dibicarakan, namun Nada menjelaskan dengan hati yang berbunga-bunga dan penuh euphoria. Ternyata aku dan Nada diterima di SMA Negeri 1 Jember.
            Kehidupan di sma sangat berdeda daripada smp. Perbedaan itu terletak dari cara belajar, orang-orang yang ada di sana, dan cara bergaul. Di smp cara belajar sudah berbea dengan sma. Segala sumber materi terdapat pada perkataan ibu guru dan buku diktat. Di sma kita diperbolehkan mengikuti satu sumber atau mendiskusikan terdapat sumber lain dan mengkomparasikannya. Orang-orang yang berada dalam lingkungan sma aalah orang-orang yang pendiam, tekun, dan keinginan meraih prestasinya kuat berbeda dengan smp yang didalamnya terdapat sekumpulan manusia yang heterogen. Ada sebagian kecil siswa yang aktif dan mendengarkan setiap apa yang diucapkan oleh guru dan mengerjakan tugas tepat waktu tapi ada juga siswa yang tidak hormat pada guru, sering bolos, dan tidak pernah mengerjakan tugas. Sma memiliki unsur-unsur yang lebih homogen. Dalam mengkomparasikan mengenai cara bergaul, kita sering menemui suatu kenyataan mengenai hubungan antar siswa yang kurang baik. Mereka menilai dengan kedudukan, harta, dan fisik namun bila di sma semua nilai itu tidak berlaku. Stratifikasi yang ada dalam ruang lingkup sma bukan didasarkan materi, kedudukan, maupun terkenal atau tidakkah dia melainkan dinilai dari seberapa besar kita berguna dan seberapa besar kontribusi yang telah kita lakukan untuk sekolah kita. Aku merasa sekolahku itu sama halnya dengan sekolah-sekolah yang lainnya, yang membuat sekolah kami unggul daripada sekolah lain di Jember adalah lingkungan sekolah kami yan baik.
            Kelas sepuluh sma adalah masa-masa yang sulit. Aku mulai mengenal toefl, baru saja aku mengenal toefl aku sudah merasa takut terhadap mata pelajaran yang satu ini.  Dari sd aku lemah dalam bidang study bahasa Inggris. Vocabku masih sedikit apalagi grammarku, hancur. Aku sering mengulang dalam mata pelajaran ini. Sungguh membuat aku sangat jengkel. Tapi, hidup harus berlanjut life must go on. Nama kelasku adalah X7 “Sepatu Mambu” yang berarti “ arek sepuluh pitu manut –manut bu”. Di kelas ini terdapat sisi nyaman dan tidak. Ditinjau ari sisi tidak nyaman kelasku terbagi menjadi tiga kubu yaitu kubu 1, kubu 2, dan kubu 3. Aku bukan tergolong ketiganya, aku tergolong orang yang netral. Dengan adanya kubu-kubu itu menjadi jurang pemisah antara kami. Dari segi nyaman di kelas X7, X7 memiliki siswa yang lucu, seru dan kocak. Hal ini sangat cocok untuk penghilang stress
            Hari-hariku berjalan sebagaimana mestinya. Aku menikmati hari-hariku meskipun banyak hal-hal yang harus aku lakukan. Aku mengikuti organisasi Kelompok Ilmiah Remaja. Kelompok Ilmiah Remaja  mencetak kita menjadi siswa-siswa yang berpikir kritis dan bisa membuat karya tulis ilmiah sendiri. Mengikuti organisasi ini sangat menyenangkan tapi juga menyibukkan. Banyak event-event yang harus diselenggarakan sehingga kita harus pandai membagi waktu antara sekolah dan organisasi.
            Seleksi OSN tahap satu sebentar lagi akan diselenggarakan. Aku berniat sungguh-sungguh mengikuti seleksi ini. Namun aku memiliki kelemahan yaitu akuntansi. Aku benar-benar buta dengan bahasa bisnis itu. Soal-soal yang ditanyakan pada tahap satui hanyalah seputar soal-soal pengantar yang bersifat pengembangan. Aku optimis aku masuk kedalam 10 besar Olimpiyade Sains tingkat sekolah. Dua minggu kemudian pengumuman dibacakan di depan upacara Alhamdulillah aku meraih posisi ke-empat dalam OSN. Saat namaku dibacakan aku sangat bahagia tapi hal ini masih berlanjut masih terdapat seleksi tahap dua dan tiga yang menantiku. Setelah tahap dua dimulai dan dibacakan hasilnya ternyata aku masih lolos dalam seleksi ini. Namun pada babak ke-tiga dimana babak yang sangat dinantikan oleh finalis, namaku tidak tercatat sebagai wakil sekolahku di Olimpiyade Science Kabupaten. Saat itu aku sedih karena targetku tidak tercapai namun aku menerimanya karena aku menyadari bila aku buta akuntansi. Posisiku berada pada nomor enam sedangkan duta sekolah adalah lima orang yang merupakan peringkat pertama sampai dengan kelima. Kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti meraih kesuksesan. Dengan kegagalan ini aku mendapat gambaran mengenai apa kelemahanku serta bagaimana cara menyikapinya agar tahun depan lolos minimal sebagai duta sekolah.
            Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Aku dan teman-teman mengikuti lomba ekonomi tingkat Jawa Timur di Universitas Jember. Hal ini merupakan pengalaman pertamaku untuk perlombaan di sma. Aku dan teman-teman sangat minder kepada peserta-peserta daerah lain, ditambah usia mereka yang mayoritas lebih tua dari pada kami. Tapi ini semua harus kami jalani dengan semangat. Kami tidak boleh minder. Meskipun kami masih kelas satu sma, kami harus bisa membuktikan bahwa kami juga bisa. Tahap pertama adalah mengerjakan tes berupa multiple choice di bidang ekonomi akuntansi. Kami harus menyelesaikan 150 point soal selama 100 menit. Banyak soal-soal yang kami ragukan jawabannya dan tidak sedikit pula soal-soal yang tidak dapat kami jawab. Yang kami pikirkan hanya mencari pengalaman.
            Setelah selesai mengerjakan soal kami diminta untuk beristirahat. Aku memutuskan untuk mengecek jawabanku dengan jawaban kakak kelasku yang juga berposisi sebagai peserta. Alhasil ada beberapa jawaban yang tidak sama. Saat itu kami benar-benar kecewa sekaligus pasrah. Kami ingin pulang tapi panitia tidak membolehkan. Untungnya kami tidak benar-benar pulang karena nama kami tercatat sebagai peringkat-2 semi finalis. Kaget dan tidak percaya yang kami rasakan. Kakak kelas kami juga masuk kedalam semi finalis. Mereka begitu hebat, mereka dapat menduduki posisi pertama dalam tes tahap satu ini. Spirit kami bangkit kami harus bisa melawan. Tinggal dua tahap lagi kami. Kami pasti bisa melakukan ini semua. Tahap ke-dua adalah proses cerdas cermat kami melawan sma dari kabupaten Probolinggo. Awalnya kami memang ketinggalan point tapi di menit-menit terakhir kami dapat mengejar dan lolos ke tahap final. Subhanallah kami sangat bersyukur atas anugrah yang Engkau berikan. Allah telah memberikan jalan kepada kami untuk bisa mengerjakan semua ini. Proses tahap akhir adalah sesi debat ekonomi. Dalam prosesi debat kali ini kami dihadapkan pada semua tim artinya setiap tim harus pernah berdebat dengan tim yang lain. Debat kami lakukan dengan semampu kita.  Setelah menunggu beberapa lama pengumuman dibacakan dalam Seminar Ekonomi Pengangguran Kabupaten Jember oleh Universitas Jember. Tidak disangka-sangka kami keluar sebagai juara ketiga dan kakak kelas kami menduduki sebagai juara pertama. Kami sangat senang sekali. Meskipun mengorbankan absensi sekolah ternyata kami tidak pulang dengan sia-sia.
            Ujian akhir semester sudah dekat. Aku diminta untuk mengisi angket jurusan. Aku harus memilih jurusan ipa atau ips. Aku mengambil keputusan untuk memilih program ips namun sebelum aku tulis aku mendiskusikannya terlebih dahulu dengan ayah dan ibu. Ibu sangat mendukungku masuk program sosial. Namun ayah masih berat hati. Beliau masih beranggapan apabila lulusan ipa lebih baik daripada ips. Aku berusaha meyakinkan ayah apabila prespektif itu salah. Akhirnya ayah menyetujuiku masuk kedalam program sosial. Aku senang sekali ayah bukanlah orang tua yang diktator  yang memaksakan kemauan kemauannya pribadi. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang demokratis.
            Kini aku menjadi murid kelas sebelas ips dua. Di ips dua hanya berisi dua puluh dua siswa namun meskipun jumlah teman kami sedikit kami tetap kompak dalam menjalankan hari-hari sekolah. Kami tetap berpartisipasi dalam event-event sekolah meskipun jumlah laki-laki dikelas kami terbatas. Apabila terdapat perlombaan yang membutuhkan pria lebih dari enam orang seperi regu ipsi yang berisi sepuluh orang maka siswa wanita mengisi kekosongan tersebut. Kelas kami begitu kompak dalam segala hal baik dari segi belajar, mengerjakan tugas maupun bermain.
            Menjadi seorang anak ips terkadang sering mendapat gunjingan. Gunjingan ini dilontarkan kepada kami sejak dulu sampai sekarang tidak ada selesai-selesainya. Labelling yang mereka tanamkan telah mendarah daging. Kami disebut sebagai anak yang malas, bodoh, dan buangan. Untungnya masyarakat di sekolahku berbeda. Sekolahku tidak memandang rendah satu jurusan. Semua orang menilai baik ipa maupun ips sama. Mereka tidak pernah memojokkan kami tidak seperti masyarakat. Setiap orang apabila ditanya “Kamu masuk jurusan apa?” , “ips”,”kok ips, kok gak ipa aja? Ipa kan bisa pindah jurusan,......”. Apa salah seseorang bila mengambil program ips. seseorang yang benar-benar mengambil program ips tanpa paksaan maupun keadaan adalah seseorang yang sudah memahami dirinya sendiri mengetahui dimana bidang yang cocok untuknya. Miris sekali, semua orang di seluruh Indonesia menganggap program ips adalah program yang buruk. Hal ini dikarenakan mereka mengasumsikan kelas ips maerupakan sampah dari kelas ipa sedangkan kelas bahasa merupakan sampah dari ketiganya sehingga kualitas mereka tidak dapat dibandingkan. Tapi hal itu tentunya tidak berlaku pada semua orang.
            Saat terdapat pengumuman lomba tingkat Nasional di depan perpustakaan, aku langsung tertarik untuk mengikutinya. Aku bersama temanku Dita mencoba lomba di kabupaten Malang. Begitu aku sampai di kota Malang, aku langsung menginap di hotel bersama orang tua Dita. Keesokan harinya kami berangkat untuk menghadiri perlombaan tersebut. Perdana lomba untuk sma, bertemu bermacam-macam manusia dari daerah-daerah di seluruh Indonesia merupakan hal yang sangat menyenangkan. Berbagi budaya, mengenal ragam bahasa, dan karakteristik masing-masing. Dengan adanya perlombaan ini aku bisa mengenal Indonesiaku sesungguhnya. Ternyata di luar sana terdapat makhluk-makhluk Allah yang berbeda kebudayaan dan ciri fisik denganku. Hal itu membuat aku mengerti bahwa keanekaragaman itu indah.
            Setelah aku melakukan registrasi aku masuk ke dalam ruang lomba. Lomba dilakukan selama dua hari berturut-turut. Hari pertama kami disuguhi sebanyak 200 soal yang dibagi pada dua sesi. Hal itu memang sangat melelahkan dan menguras otak bagi kami. Ditambah keadaan kota Malang yang dingin membuat aku masuk angin. Hal itu membuat kondisi tubuhku tidak fit dalam melakukan segala hal. Setelah selesai aku dan teman-teman digiring ke hotel Pelangi 2. Disana kami dibagi ke dalam berpuluh-puluh kamar. Satu kamar berkapasitas empat orang. Jam 9 malam pengumuman tahap 1 dan 2 ditempel dan kami menduduki posisi ke-11 dari 375 peserta. Kami sangat sedih, kami belum bisa mencapai enam besar. Padahal nantinya pada sesi kelima panitia akan mengambil peringkat satu sampai dengan enam untuk mengikuti babak semi final. Dan babak yang belum kami lalui tinggal satu babak. Kami kurang yakin kami dapat melakukannya tapi kami harus tetap semangat. Keesokan harinya kami mengerjakan tahap 3, tidak sama dengan tahap satu dan dua, tahap tiga adalah tahap puncak yang menguras otak. Kami berusaha untuk tetap fokus. Namun di akhir kisah kami belum beruntung. Kami belum bisa mengangkat nilai kami menjadi peringkat enam. Kami pulang dengan rasa kecewa.
            Keesokan harinya, aku disambut dengan dua lembar naskah soal Olimpiyade Science Tingkat Sekolah. Saat itu kondisiku benar-benar tidak fit. Pukul dua pagi aku baru sampai dan pukul tujuh tepat aku harus sudah mulai mengerjakan soal. Akhirnya kuputuskan untuk mengerjakan seperlunya saja. Badanku sudah tidak dapat menopang otak. Demam dan meriang menambah buruk keadaan. Setelah soal-soal kuselesaikan aku meminta izin untuk pulang.
                      Hal ini memang sangat membuatku kecewa karena aku merasa tidak maksimal dalam mengerjakan soal tersebut. Yang aku lakukan hanya pasrah dan tawakkal kepada Allah SWT semoga namaku masih bisa lolos dalam OSN tingkat kabupaten ini. Yang kupikirkan sekarang lebih pada kesehatanku. Pada upacara bendera diumumkan 10 besar peserta yang lolos kedalam tahap ke-dua. Alhamdulillah Allah masih menghendakiku untuk melanjutkan perjuanganku.
            Masuk kedalam sanggar olimpiyade tidak begitu mudah karena aku harus mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Aku harus bisa menyeimbangkan waktuku antara sekolah, tugas, sanggar lomba, dan organisasi. Padahal di bulan-bulan itu juga aku sedang menjalani kepanitiaan dalam membuat event Perkemahan Ilmiah Remaja di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Sebagai seorang sekretaris aku dituntut untuk mengerjakan proposal, surat undangan, surat pernyataan, dan surat izin tepat waktu. Aku juga harus bisa membagi waktuku kedalam rapat demi kelangsungan acara tahunan ini. Aku berusaha untuk seimbang. Menyeimbangkan waktuku antara sekolah, tugas, sanggar OSN maupun organisasi.
            OSN tahap demi tahap aku lalui sehingga akhirnya aku lolos sebagai duta sekolah di kabupaten. Ada perasaan antara sedih dan senang menjalani ini semua. Aku senang masih bisa lolos sebagai salah satu wakil dari sekolahku di bidang ekonomi, tapi disisi lain aku harus berusaha lebih keras untuk membagi waktu-waktuku. Perkemahan Ilmiah Remaja juga semakin dekat. Rapat-rapat semakin sering dilakukan. Terkadang aku merasa keteteran dalam membagi waktu. Namun setelah dijalani aku bisa menyeimbangkan semua itu.
            OSN tingkat kabupaten dilaksanakan di SMA Negeri 4 Jember. Wakil-wakil terbaik dari tiap sekolah baik negeri maupun swasta berkumpul disana. Aku menjadi minder terlebih dengan siswa-siswa berkulit putih dan berkacamata terlihat jenius sekali. Aku mengerjakan soal demi soal dengan hati-hati tapi tetap saja ada beberapa nomor yang kosong karena aku tidak tahu jawabannya. Aku sudah pasrah dengan ini semua yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Apabila lolos alhamdulillah, jika tidak lolos berarti memang aku kurang menguasai materi. Aku menyerahkan semua nasibku pada sang Pencipta. Allah tahu mana yang terbaik untukku. Aku hanya berdoa untuk diberikan yang terbaik.
            Saat aku pulang sekolah, aku berjalan menyusuri jalanan di belakang puskesmas Sumbersari. Saat itu aku membawa 5 buku di dalam tas punggungku dan menenteng laptop pemberian kakak sepupuku. Tiba-tiba dari arah belakang terdapat dua orang pemuda bermotor yang memakai jaket hitam dan helm teropong. Awalnya aku merasa tidak terusik oleh kedua pemuda itu tapi tiba-tiba  mereka menyerempetku dan menjambret laptopku. Aku kaget dan aku tetap menggenggam erat tas laptopku tiba-tiba mereka mengeluarkan pisau lipat untuk menyayat pergelangan tanganku. Aku kaget, aku langsung melepasnya. Akhirnya mereka membawa laptopku dengan motornya. Aku lari dan menangis mengejar penjambret. Aku berteriak dengan sekencang-kencangnya tapi awalnya tidak ada satupun orang yang mendengar lalu tiba-tiba ada bapak-bapak yang mengejar penjamberet itu sedangkan aku dikerumuni oleh warga. Aku menangis histeris dan pingsan. Laptop merupakan barang mewah bagi keluarga kami. Aku benar-benar membutuhkannya untuk kelancaran tugas-tugas sekolahku. Tapi, semua itu sudah hilang. Aku merasa sangat bersalah kepada ayah dan ibu. Warga di sekitar lokasi penjambretan menanyakan alamat rumahku tapi aku takut untuk pulang. Akhirnya ibuku dijemput oleh salah seorang warga di sana. Ibuku datang dan memelukku dengan erat. Ya Allah mengapa Engkau memberi kami cobaan lagi pikirku. Tapi ibu berjiwa besar. Beliau yang menguatkanku untuk tabah menjalani ini semua. Tiga bulan lamanya aku mengalami trauma.

 Sejak kejadian itu aku seperti orang stres. Duduk dikamar menyendiri dengan tatapan yang kosong. Teman sekelasku semua datang ke rumahku untuk memberiku semangat. Begitu juga sahabat dekatku Fikan yang selalu ada. Meminjamkan laptop kepadaku saat aku membutuhkan, mengerjakan semua tugas-tugas organisasiku saat aku sedang mengalami stres.
            Setelah aku melewati masa-masa sulitku, aku mulai bangkit menjalani kehidupan yang normal. Tiba-tiba ibu Dora koordinator OSN memanggilku dan menyuruhku untuk belajar kembali. Ternyara aku lolos ke tahap provinsi. Aku kaget dan senang. Setidak-tidaknya aku masih bisa menghibur ibu dan ayah dengan aku lolos ke tingkat provinsi. Aku, Dita, dan Teguh mewakili kota Jember di tingkat provinsi. Senang sekali hati ini. Apalagi aku tidak pernah menginap di hotel berbintang sebelumnya. Aku hanya bisa menoleh kanan dan kiri tanpa mengerti cara-cara menggunakan peralatan di hotel Green Park. Andai saja aku bisa memiliki kamar seperti itu dan mengajak keluargaku merasakan nyamannya tidur di sni. Hal itu menjadi motivasiku untuk belajar dengan tekun agar dapat meningkatkan taraf hidup keluargaku. Aku bertemu dengan teman-teman dari kota-kota lain. Mereka semua hebat-hebat. Keesokan harinya, aku berangkat ke aula Green Park memakai baju kebanggaan kami yaitu batik dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Aku mengerjakan soal-soal ekonomi semampuku. Aku pasrah dengan jalanku. Yang penting aku telah berikhtiar dan mengerjakan soal itu semaksimal mungkin.
            Dua bulan semenjak tes OSN Tingkat Provinsi aku belum mendapat kabar apapun. Mungkin memang aku belum rejekiku untuk dapat menjadi wakil Jawa Timur di Tingkat Nasional. Mungkin keinginanku untuk bisa merasakan naik pesawat dan membanggakan kedua orang tuaku harus hilang. Tiba-tiba Ibu Dora memberiku surat izin untuk pergi ke kota Malang Jawa Timur. Awalnya aku bingung mengapa aku harus pergi ke kota Malang. Ibu Dora mengatakan aku lolos ke babak selanjutnya di tingkat nasional. Aku bagai kejatuhan bulan. Tubuhku terasa gemetar mendengar hal ini. Akhirnya aku bisa naik pesawat dan  bisa merasakan tinggal di hotel lagi pikirku. Aku pulang membawa senyuman di pipiku. Aku memberitahukan kabar gembira ini dan aku bisa melihat kebahagiaan di raut muka beliau. Keesokan harinya aku berangkat ke kota Malang. Kami dikarantina selama lima hari. Kami menjalani rutinitas yang sangat melelahkan dari pukul delapan pagi hingga sepuluh malam. Aku bertemu teman-teman baruku yaitu Hasmi, Indra, Luluk, Evelyn, Nerisa, dan Jesselyn. Mereka begitu hebat. Mereka paham dengan semua materi yang diajarkan oleh dosen Universitas Malang dan Universitas Brawijaya. Di Malang kami menjalin kebersamaan satu sama lain. Kami dibentuk untuk menjadi saudara, menanamkan kebersamaan, dan tidak menganggap satu sama lain adalah lawan. Kami juga berdoa agar nantinya di Manado minimum salah satu dari kami bisa mendapatkan medali emas dan mengharumkan nama Jawa Timur. Setelah karantina selesai kami pulang ke kota kami masing-masing membawa tekad untuk maju. Begitu juga aku, aku sudah bertekad untuk membahagiakan orang tuaku, bila aku menang nanti hadiah yang aku dapat akan ku pergunakan untuk menaikkan haji ayah dan ibu.
            Aku segera pulang ke kota Jember, ujian akhir sekolah menungguku. Aku mengusahakan untuk membagi waktuku. Sehari semalam aku mengejar materiku karena esok hari aku harus mengikuti Ujian Akhir Sekolah. Aku menjawab pertanyaan demi pertanyaan semampuku. Aku merasa persiapanku untuk ujian akhir kurang. Ini adalah suatu pembelajaran bagiku untuk membagi waktu dengan lebih baik lagi
            Ujian dan liburan panjang telah usai, aku meneruskan perjuanganku lagi. Olimpiyade semakin dekat dan aku harus mengasah pemahamanku mengenai ekonomi lebih baik lagi.  Saat lebaran aku memutuskan untuk tidak mudik. Hal ini dikarenakan satu minggu setelah kami lebaran adalah dateline untuk mengikuti Olimpiyade Science Nasional. Di masa-masa persiapan itu pikiranku terpecah. Adikku yang masih balita harus dirawat di rumah sakit karena typus. Hal ini membuatku sangat terpukul. Di satu sisi aku harus belajar lebih giat tapi disisi lain aku sangat menghawatirkan kondisi adikku.
            Aku berangkat ke Hotel Utami Surabaya. Di sana kami dikumpulkan untuk diberi motivasi-motivasi oleh seorang motivator dari Universitas Airlangga. Keesokan harinya kami berangkat ke kota Manado melalui bandara Juanda.  Betapa senangnya hatiku, akhirnya aku bisa merasakan naik pesawat. Andai ayah, ibu, dan adik-adikku bisa merasakan bagaimana naik pesawat pasti mereka akan senang. Naik pesawat tidak seburuk yang aku pikirkan. Tidak seperti naik bus yang membuat aku mabuk dan mual. Sesampainya di bandara Sam Ratulangi kami disambut oleh panitia Olimpiyade Sains Nasional. Kami berangkat menuju Hotel Manado Quality, hotel yang megah dan belum pernah aku temui sebelumnya di kotaku. Aku sekamar dengan Nurbaeti Ipaenin yang biasa disebut dengan Betty. Gadis berkulit gelap manis yang berasal dari Ambon. Senang sekali bisa bertemu dengannya berbagi cerita dan pengalaman kami.
            Keesokan harinya kita memulai perlombaan dengan game. Membuat sebuah produk lalu mempresentasikannya. Kelompokku membuat celengan bulu dengan kepala unyu, kami mempresentasikan buah karya kami se maksimal mungkin. Keesokan harinya kami menjalani sesi ke dua yaitu sesi menjawab soal dan membuat essay dan power point. Kami berada di depan komputer selama sepuluh jam. Hal ini yang membuat mataku menjadi kabur setelah mengikuti tahap kedua. Soal yang diujikan merupakan soal pengembangan dari materi-materi yang telah kita dapat dan mengenai logika ekonomi. Pada subbab dua kami diminta untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang kami dapat. Setelah itu kami diminta untuk mengambil undian mengenai materi apa yang akan kami buat essay dan power point, kami harus merebus otak untuk merangkai materi dan opini kami terhadap suatu masalah yang diujikan oleh panitia. Sesi ini adalah sesi yang paling berat.
            Keesokan harinya kami menjalani sesi terakhir yaitu sesi presentasi dan bermain saham yang dilakukan langsung oleh Bursa Efek Indonesia. Di sesi presentasi kami diberi pertanyaan-pertanyaan yang menguji kemampuan dan pemahaman kami dibidang ekonomi. Pada sesi bermain saham adalah sesi yan sangat mengasikkan. Kami berlari-lari berebut posisi untuk menjual maupun membeli saham yang kami inginkan. Kami diajarkan untuk melihat pergerakkan potensi grafik saham yang akan kami dapatkan.
            Setelah itu kami di jamu oleh pemerintah kota Manado di Grand Kawanua.  Pemerintah menyediakan makanan-makanan yang begitu banyak dan bervariasi. Penjamuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan rasa penat kami dalam menjalani tiga hari ini. Di Grand Kawanua kami bernyanyi-nyanyi menari-nari bersama-sama. Kami meneriakkan jargon-jargon provinsi kami masig-masing.
            Keesokan harinya adalah sesi liburan. Kami diajak untuk berlibur ke danau Tondano. Untuk mencapai ke danau tersebut harus memakan waktu dua jam dan melewati dataran-dataran tinggi yang berliku. Setelah itu kami diberhentikan di pusat oleh-oleh kota Manado tapi harganya sangat mahal.  Akhirnya aku hanya membeli yang penting-penting saja. Di malam hari pengumuman OSN dibacakan, aku pasrah dengan semua ini, tidak ada rasa deg-degan atau kecewa bila nantinya aku tidak dapat membawa medali pulang. Buatku pengalaman mengikuti OSN sudah lebih dari cukup. Setelah pengumuman dibacakan teryata aku tidak dapat membawa medali itu. Tidak ada kekecewaan dalam diriku. Aku yakin bahwa ini sudah garisku, menjadi seorang peserta yang mendapat pengalaman, banyak teman, bisa naik pesawat dan tidur di hotel berbintang saja sudah lebih dari cukup. Aku sangat bersyukur Allah mengizinkanku untuk menjadi bagian dari acara ini. Sepulang dari Grand Kawanua, aku langsung menuju kamarku. Aku melihat Betty menangis di kamar. Aku langsung memeluknya dan membesarkan hatinya. Aku yakin Betty pasti ingin membawa kebanggaan di keluarganya. Tapi inilah kompetisi, ada yang menang, ada yang kalah.
            Setelah pulang dari Manado, aku meminta maaf kepada keluargaku. Aku tidak dapat membawa apa-apa. Keluargaku membesarkan hatiku, mereka sudah bersyukur sekali aku dapat menjadi wakil dari provinsiku.
            Aku pulang dengan memikirkan setumpuk tugas dan ulangan-ulangan susulan yang harus aku kerjakan. Inilah pilihan hidup mengutip hukum trade off  didalam ekonomi dimana apabila kita ingin atau memilih salah satu pilihan maka kita harus mengorbankan pilihan lainnya. Pelajaranku juga keteteran saat aku sibuk untuk pulang pergi sekolah ke dinas pendidikan untuk mengurus reward ke negeri seribu pagoda.
            Kali ini aku mengikuti studi edukasi yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Jember.  Aku menghabiskan waktu untuk mengurus pasporku yang begitu rumit. Aku harus mengubah kartu tanda penduduk karena terdapat kesalahan dalam penulisan alamat, aku harus memperbaharui kartu keluargaku yang membutuhkan waktu dan tenaga. Tapi semua kelelahanku terasa seimbang dengan apa yang aku dapatkan nanti.
Aku berangkat menuju Thailand melalui pulau Bali. Sebelum berangkat menuju bandara kami menghabiskan waktu di pantai Sanur. Kami melihat sunrise tepat ditengah-tengah bangunan yang menjorok ke lautan. Begitu indah pesona alam yang Allah berikan untuk dinikmati oleh manusia.
            Kami berangkat menuju bandara. Aku sangat senang sekali akirnya bisa menikmati naik pesawat dan tidur di hotel lagi.  Aku sangat antusias menjalani ini semua. Sesampainya di kota Bangkok kami menuju rumah makan untuk istirahat. Jauh dari harapan ternyata lidahku tidak cocok dengan makanan-makanan di sini. Akhirnya aku hanya makan nasi dan telor saja. Sungguh menyedihkan. Setelah makan kami langsung menuju Asia Hotel. Kali ini hotel yang aku tempati benar-benar indah menjulang mencakar langit-langit kota Bangkok. Kamarnya dilengkapi dengan tombol-tombol otomatis yang mempermudah kita untuk melakukan aktivitas. Kendala yang aku temui di sana adalah komunikasi. Kemampuan berbahasa Inggrisku terbatas sementara penduduk-penduduk Thailand hanya sedikit yang mengerti bahasa Inggris. Hal ini dikarenakan Thailand adalah salah satu negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Sehingga kemurnian budayanya masih kental. Pertama-tama kami diajak ke arena bawah air dan musium ikan. Koleksi musium ikan sangat beragam tidak hanya itu di sama juga menampilkan fosil-fosil ikan purba yang dirangkai menjadi satu kesatuan sehingga kami masih bisa melihat bentuk dari ikan purba seperti apa.
Setelah itu kami diajak untuk mengunjungi sekolah di Thailand. Ternyata seluruh siswa yang sekolah di Thailand memiliki budaya meminum susu setiap hari. Susu tersebut merupakan sumbangan dari negara. Yang patut kita contoh adalah disaat negara-negara lain sibuk untuk belajar kebudayaan barat, Thailand memiliki prioritas untuk mempelajari kebudayaannya sendiri. Bahkan Thailand memasukkan kebudayaan-kebudayaanya sebagai kurikulum wajib yang harus ditempuh. Mereka beranggapan siapa yang mencintai kebuayaan asli mereka kalau bukan mereka sendiri. Hal ini juga berlaku untuk kepemimpinan raja Thailand. Rakyat Thailand sangat sayang dengan rajanya bahkan mereka mengenakan kaos warna merah jambu untuk meminta kesembuhan raja pada Tuhan. Saat Thailand sedang mengalami krisis mereka menyerahkan perhiasan mereka secara cuma-cuma demi kelangsungan negara. Bendera-bendera kerajaan dan foto raja menghiasi setiap rumah-rumah penduduk di Thailand. Kontras sekali dengan Indonesia yang pemimpinnya selalu menapat kecaman dari masyarakat. Mengutip dari kebudayaan Thailand, siapa lagi yang mau menghormati Bapak Susilo Bambang Yudhoyono kalau bukan kita sebagai rakyat Indonesia.
            Setiap negara memang memiliki adat sendiri-sendiri baik dalam pemerintahan, sosial, dan budaya. Penampilan siswa Thailand juga berbeda. Saat siswa memasuki jenjang sd sampai smp harus memotong rambutnya sesuai ketentuan, rambut perempuan harus berada dua jari dibawah daun telinga sedangkan laki-laki harus memotong rambutnya dengan tipe 1-2-1. Setelah mengunjungin sekolah Thailand kami menginap di Baron Hotel yang terletak di pinggir pantai Phattaya. Pantai Phattaya begitu indah dan bebas. Banyak diskotik-diskotik yang menyajikan minuman keras bagi pelanggannya. Tidak hanya di diskotik minuman keras juga disediakan di maket-market kecil maupun di dalam kamar hotel kami. Awalnya aku kaget dengan situasi ini namun mungkin ini memang sudah menjadi tradisi mereka.
            Keesokan harinya aku mengunjungi International School of Burapha. Di sekolah itu tidak hanya siswa Thailand melainkan Jerman, India, Amerika berbaur menjadi satu. Kurikulum yang dipakai merupakan kurikulum internasional. Bangunan-bangunan yang megah dan dilengkapi dengan fasilitas kolam renang menjadi daya tarik sekolah esklusif ini.
Kami kembali ke Bangkok untuk menginap di Asia Hotel. Malam harinya kami diajak untuk makan di resto korea. Cara makan yang berbeda dan rasa yang berbeda kami rasakan. Di resto kami mengambil daging mentah lalu memasaknya seniri di meja kami. Aku rasa ini merupakan sesuatu yang unik bagi siswa Jember khususnya. Keesokan harinya kami mengunjungi candi dan Chao Praya. Chao Praya merupakan sungai terbesar di Thailand yang membelah Thailand menjadi dua. Pemerintah membayar 3,5 baht per orang untuk naik ke kapal. Kami disuguhkan pemandangan yang indah serta ikan-ikan yang begitu lucu. Di Candi kita berbelanja souvenir-souvenir untuk dibawa ke Indonesia. Keesokan harinya kami harus pulang ka tanah air.
            Sesampainya  di tanah air aku harus kembai ke hidupku yang normal. Ujian Akhir Nasional menantiku. Aku harus mempersiapkan ujian nasional ini sebaik mungkin. aku harus mengejar ketinggalanku. Perjuanganku tidak berhenti disini. Meskipun keadaan ekonomi kami tidak beruntung tapi kami harus tetap hidup dan meraih kesuksesan. Mengencangkan ikat pinggang demi masa depan yang cemerlang. Kesuksesan itu untuk diraih bukan datang sendiri. Begitu juga meraih kesuksesan menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan buatku. Butuh bertubi-tubi perjuangan. Tergolong orang yang pas-pasan adalah salah satu pemicunya.
            Saat aku bingung untuk memutuskan akan kemanakah saat selesai SMA nanti, banyak dari kerabatku untuk menyarankan masuk ke dalam dunia kerja. Jangankan memutuskan kuliah di Universitas Indonesia, untuk kuliah di dalam kota pun sulit. Hal ini dikarenakan aku adalah tulang punggung selain ayah. Adik-adikku tahun ini akan masuk ke sekolah baru, sehingga butuh biaya lebih.
            Tapi, disisi lain guru-guru dan teman-teman meyakinkanku bahwa kuliah, harus kuliah. Mereka beranggapan selesai kuliah nanti aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak daripada lulusan SMA.  Hal itu yang membuatku kuat dan bertekad “aku harus kuliah!”. Ibu guru pembinaku olimpiyade menganjurkanku kuliah bahkan beliau menyuruhku mengambil Universitas Indonesia.
            Aku bertekad dan membicarakannya kepada keluargaku, untungnya keluargaku setuju. Tapi saat aku ditanya mau kemana, dan aku menjawab Universitas Indonesia sontak membuat keluargaku kaget, terlebih kerabatku, dan orang-orang disekitarku bahkan aku juga dibilang  sebagai anak yang tidak tahu diri bahkan salah seorang teman ayahku yang mencemooh “kere kok muluk-muluk” sakit rasanya memang tapi kata-kata itulah yang membuatku semakin kuat. Semakin harga diriku diinjak-injak semakin kuat aku berdiri. Aku menjadi lebih tertantang bahwa anak teknisi bus sepertiku juga bisa masuk Universitas Indonesia.            
            Akhirnya aku memutuskan untuk mengkomunikasikannya ke guru BK. Beliau sangat mendukungku. Beliau menganjurkanku memilih program bidik misi yaitu program bantuan dari pemerintah gratis kuliah. Subhanallah jalanku dipermudah pikirku dalam hati.
            Aku langsung mengkomunikasikan kembali kepada kedua orang tuaku, tapi ibuku masih takut untuk mengambilnya, selain bidikmisi belum final, transport juga mahal. Uang apa lagi yang harus dipakai untuk berangkat ke Depok untuk daftar ulang, jangankan tabungan, gaji saja perbulan selalu minus. Tapi tekadku sudah kuat, aku meyakinkan ibu, aku bisa kerja disana, aku bisa hidup disana.alhamdulillah mereka mengizinkan aku memilih UI
            Berbekal semangat dan dorongan kuat aku nekat memilih Universitas Indonesia urusan biaya dapat dipecahkan dengan bekerja part time. Yang penting aku bisa sukses, aku bisa mengangkat derajat orang tuaku yang sering sekali direndahkan.
            Hari pengumuman pun tiba, aku melihatnya, aku melihatnya, aku melihat namaku berada di Universitas Indonesia. Bagai terbang ke langit dan menjamah kapas-kapas putih di langit yang biru. Aku bisa...
            Tapi hal ini menambah beban bagi keluargaku rupanya, antara senang dan beban. Aku mencoba menguatkan ayah dan ibu, aku pasti lolos bidikmisi. Meskipun tidak lolos aku bisa menjadi apapun cleaning service, office girl, kasir, buruh cuci asalkan aku bisa kuliah di Universitas Indonesia. Ayah ibu menangis mendengarnya akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk ke Universitas Indonesia
            Perjuanganku tidak hanya disitu, aku harus melengkapi berkas-berkas rumit yang lainnya. Dengan sabar aku dan ayah mengumpulkannya satu demi satu, meminta keterangan tidak mampu ke rt rw meminta persetujuan tetangga-tetangga dan mengirimkannya  tepat waktu. Untung ada salah seorang temanku yang baik hati untuk Rania menjemputku mengantar berkas ke agen pengiriman. Saat itu hujan deras sekali petir menyambar bersahut-sahutan kota Jember tertutup awan hitam yang kelam. Tapi itu tak mengurungkan tekadku untuk meraih asaku. Kami pergi ke tiga tempat, jalanya sangat jauh dan licin, berkas-berkasku tidak boleh basah, dan harus tepat waktu. Kami berjuang bersama menembus hujan dan maut yang bisa-bisa menyambar kami. Tapi hidup butuh pengorbanan, jika berkas ini tidak sampai maka aku tidak bisa kuliah. Badan boleh basah asal berkas selamat. Bukan jas hujan melindungi badan kami tapi berkas kami jauh lebih berharga. Alhamdulillah berkas kami kirim tepat pada waktunya
            Hari daftar ulang pun tiba, ayah terpaksa meminjam uang untuk keberangkatanku. Aku iba sekali melihat ayah, tapi apadaya memang tidak ada biaya. Tapi dalam hati kecil ini berikrar “ayah, aku pasti bisa membalas semua ayah! Perjuangan ayah mengais rizki bergulung-gulung dibawah bus akan ku bayar kesuksesanku. Aku pasti bisa yah! tunggu aku!aku akan janjikan kehidupan kita lebih layak, aku pasti bisa menaikkan haji ayah dan ibu..! aku sayang ayah dan ibu ..
            Akhirnya aku bisa mencium kota Depok, sungguh luar biasa Universitas begitu besar. Belum pernah aku melihat bangunan perpustakaan menjulang begitu indah. Subhanallah.. Meskipun tidur dilantai kamar asrama tapi aku tetap senang
Registrasi aku lalui dan wawancara bidikmisi aku lakukan. Aku jawab butir-butir pertanyaan itu apa adanya. Pewawancara pun menasihatiku sebagai tulang punggung aku harus kuliah dengan benar, dan meraih kesuksesanku membahagiakan keluargaku dan menyekolahkan adik-adikku nantinya. Setelah semua selesai kami pulang ke kotaku tercinta. Pengumuman bidikmisi pun tiba. Aku mencoba melihatnya dengan gemetar begitu juga ibu dan ayah. Beliau sangat mengharapkannya begitu juga aku, aku sangat mengharapkannya. Alhamdulillah namaku mendapatkan bidikmisi, aku sangat lega mendengarkannya. Subhanallah.. ini jalan Allah untuk kesuksesan, ini jalan Allah untuk keluargaku. aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan meraih kesuksesan itu. Amin Ya Rabb


Tidak ada komentar:

Posting Komentar