Kamis, 07 November 2013

"JALAN MANA?"


Ketika garis-garis ini mulai aku rangkai untuk meraih sang mentari.
Ketika aku berdiri di satu sisi yang berbeda yang kulihat hanya kelabu
Haruskah aku berjalan lurus? atau menikung semauku?
Ah semua ini terlalu rumit untuk dipikirkan

Tidakkah ada petunjuk dimana jalan yang harus ku tempuh
ketika semua jalan sudah ku gerayah

Ketika ku berjalan sesuai petunjuk
Menelusuri berbagai jalan yang lurus
Tanpa menengok sedikit pun tikungan meski itu adalah jalan yang membuat matahari yang mendekat
Aku ingin merasakan matahari dengan keringatku
Merasakan dan melihat menikmati perjalanan
Kanan, kiri hembusan angin dan pemandangan
Begitu kunikmati proses ini
Tapi lurusnya jalan tak semudah yang aku bayangkan
Begitu banyak hempasan yang ingin menghempaskanku dari jalanku
Mobil-mobil mengkilat berasa ingin menabrakkan diri agar aku terlempar dari jalan ini
Aku yang kokoh lambat laun mulai tergeser dari jalanan yang penuh rintangan

Kini aku menukik di jalan tikungan
Berharap tidak ada angin, hujan, maupun mobil-mobil mengkilat yang ingin merusak jalanku
Anehnya, tikungan ini seakan menyulap mereka bak kawan
Ya, aku tahu sekarang ternyata mereka ingin mengajakku kemari
Menikmati tikungan ini yang menuju lebih dekat dengan mentari
Tapi
Tikugan?
Ini bukan jalanku. Ketika semua berasa bak kawan tapi ini bukan jalan
Ini hanya sebuah jebakan
Kenikmatan sesaat merebut mentari dengan cepat
Aku kehilangan kenikmatanku melihat pemandangan dan merasakan hempasan angin
Ini memang mengantarkanku dengan cepat
Tapi ini bukan jalanku

Kembali
Tikungan ini memang membuatku cepat meraih
Tapi bukan itu yang ku mau
Aku butuh jalan lurusku
Menikmati tiap langkah
Merasakan hempasan angin
Mengerti sulitnya bangkit ketika aku harus jatuh
Memahami kapan aku harus berjalan cepat ketika hujan
Dan kapan harus berjalan melambat ketika seseorang didepan kita terdapat si penghambat jalan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar