Diam Penuh Duri, Memulai Sudah Lelah
Ya, inilah
yang terjadi pada seorang gadis penuntut keadilan. Sebut saja yayla..
Entah aku merasa terkadang Tuhan tidak adil
membuat perbedaan di bumi. Mengapa harus ada hitam dan mengapa harus ada putih.
Meskipun sebenarnya aku tahu jawabannya agar mereka saling melengkapi. Namun
bagaimana jika dari awal sudah terlahir menjadi sosok hitam? harus pada siapa
aku menuntut keadilan?
Ya, aku
Yayla, akulah si hitam penuntut keadilan!. kadang aku berfikir Tuhan salahkah
aku terlahir hitam? aku sangat mencitaiMu sangat! dan aku yakin Kau juga
mencintaiku. Tapi mengapa tidak semua orang bisa menerimaku? Mungkin sepintas
mereka melihat aku yang bahagia dan merasa iri dengan alur cerita yang
digariskan untukku Tuhan. Tapi, ya ada satu yang tidak mereka tahu. Duri yang
selama ini masih menusuk tubuhku dalam-dalam
Aku memang
terlahir tidak seperti kakak, sosok sempurna yang sangat aku hormati. bahkan
aku sangat mengagumi beliau sangat. Terlahir sebagai seorang anak pertama
tentunya aku rindu belaian seorang kakak. Ya, kakak wanita. Melihat teman-teman
yang berjalan bersama kakaknya bergandengan membawa es krim maupun menyebrang
di jalan jujur membuatku iri. ya, sangat iri dengan semua ini. Tapi inilah
cerita Tuhan yang harus aku ikuti sebaik mungkin.
Berawal dari
masa putih abu-abu aku menemukan Yoka. Laki-laki yang membuatku merasa berbeda.
Mungkin karena kesederhanaanya yang membuat dia terlihat berbeda dari lelaki
lain. Singkat cerita aku, si hitam penuntut keadilan mulai mengambil peranku
dalam alur cerita ini dan dia sebagai lawan mainku. Entah aku harus bersyukur
atau aku merasa terjebak dalam kisah ini yang pasti sebenarnya aku tertipu
mentah-mentah olehnya.
Ya, inilah
aku dengan kesederhanaanku. Terlahir selayaknya orang-orang dikalangan menengah
kebawah yang hidup alakadarnya yang sering kusebut golongan terlahir
hitam. Aku tak tahu indikator Tuhan memploting umatnya ke berbagai
golongan. Namun yang aku tahu dimanapun kita berdiri syukur itulah yang harus
kita panjatkan. Ya, inilah point dimana merasa aku terjebak. Aku yang dulu
berpikir Yoka adalah sestrata sepertiku ternyata kami berbeda jauh. Hal ini
baru aku sadari ketika kami bersama selama tiga bulan. Penampilannya sungguh
sederhana dengan motor astra hijau yang tua dan tas yang sudah robek di sudut
kanannya aku merasa ia sama sepertiku sama sama hitam. Tapi apa ternyata dia
adalah anak seorang dokter dan yang begitu disegani di daerahnya
Disini sebenarnya aku mulai merasa takut. Ya,
gadis sepertiku apa yang bisa dibanggakan untuk bisa diterima dikeluarga itu.
Namun pikiranku sudah salah ketika aku melihat sesosok ibu yang berkulit putih
dan memakai jilbab dengan senyumnya memelukku dan menerimaku dengan tangan
terbuka dan bapak berkulit agak gelap dan berkacamata yang selalu menanyakan
hari-hariku saat merantau kuliah. Inilah keluarga kedua yang sangat aku
sayangi. Aku rindu pulang tidak hanya bertemu keluargaku tapi juga bertemu
mereka yang selalu memelukku dan menciumku. Aku sangat merindukan pelukan Ibu
dan cerita Bapak di taman belakang yang diiringi belasan kicau perkutut dirumah
Yoka. Sekilas aku merasa penerimaan ini sudah membuat hati si hitam ini merasa
aman untuk melanjutkan ke jenjang yang serius
Yoka, ya
betapa beruntungnya aku sigadis golongan hitam bertemu dengan kau. Entah aku
harus berucap berapa kali syukur untukb Tuhan menghadiahkan engkau hadir dalam
cerita yang sudah tertuang di Lauhul Mahfuzku. Kamu si bungsu yang selalu
menjadi kakak untuk adik-adikku. Menjadi satu-satunya anak laki-laki yang
sangat disayang oleh Ibuku. Betapa aku tidak bersyukur, laki-laki mana yang mau
mengarungi 20 kilometer dihujan deras hanya untuk dua ekor anak hamster yang
sedang aku titipkan karena aku tidak bisa merawatnya, Laki-laki mana yang
menaruh semangkuk baksonya dan menahan lapar sampai terlelap ketika melihatku
melewati skype sedang makan dengan mie instan, laki-laki mana yang tidak pernah
memakiku menyebutkan kata kotor sedikitpun, berhujan hujanan untuk sepenggal
maaf, dan pergi kerumah dengan mata bengkak ketika kami ada masalah. Ya, aku
tidak tahu hatimu terbuat dari apa. Kamulah orang tersabar yang aku kenal. Aku
sangat beruntung. Sangat dan sangat beruntung
Tapi ditengah
cerita ternyata kisah ini tak semulus yang aku bayangkan. Ketika aku memiliki
kunci salah satu media sosial Yoka, aku dengan isengnya membuka seluruh chat
dan benar dugaanku. Terekam dengan jelas kakak yang menanyakan mengapa Yoka
masih bersamaku? Seharusnya Yoka tidak bersamaku. Harusnya Yoka bisa
mendapatkan seseorang yang tentunya lebih baik dariku. Yoka sebagai anak yang
masih muda harus bisa memilih. Mencari pacar sebanyak mungkin. Bukan seperti
aku. Seharusnya Yoka bisa menemukan perempuan yang cantik dan kaya. Dan
didalamnya juga kakak menyarankan tak apa janda asal Yoka bisa menemukan
perempuan kaya yang bisa mendampingi hidupnya.
Entah aku
tidak mengerti apa yang salah dari hidupku. Jujur aku sudah sangat senang
sekali ketika aku memiliki pasangan yang memiliki kakak perempuan. Betapa
tidak, aku merindukan momen ini bahkan diulang tahun kakak aku membuka tabungan
hasil lombaku untuk membelikannya tart kecil karena aku sayang, iya aku
sayang.. Aku sangat senang kami bisa bercanda walau hanya didunia maya. Tapi
inilah akhirnya. Mungkin benar tak seharusnya manusia mengetahui segalanya.
Adakalanya pengetahuan itu terbatas demi hubungan yang lebih baik. Ya,
kejujuran memang menyakitkan. Sangat menyakitkan. Tapi aku sebagai goongan
hitam bisa apa. Inilah kenyataan yang harus aku terima
Ya, mungkin
ini klise dari kisah umat dunia yang terhalang strata. Tapi sejauh ini aku bisa
apa? Aku tahu, aku bukan gadis cantik yang bisa dibanggakan dengan kecantikanku.
Aku juga gadis miskin yang hidup alakadarnya. Andai takdir bisa diminta tentu
semua manusia tidak ingin terlahir dengan kekurangan. Meski aku tidak seperti
engkau Yoka, tapi aku bangga dengan keluarga kecilku yang selalu memberiku
kehangatan dan mengasahku menjadi orang yang pandai bersyukur. Aku bangga
memiliki mereka yang sudah membimbingku sampai mencapai cita-citaku satu per
satu. Ya, tidak ada yang salah dalam kisah ini. Keadaan yang membuat kami
terhalang. Tapi bukankah aku masih dalam proses melunturkan hitam di badan dan
memantaskan diri meraih kejayaan dan menjadi putih sepertimu?
Sejujurnya
pada titik itu aku sudah lelah dengan cerita ketidaksetaraan ini. Tapi kau yang
selalu menguatkan dan menjelaskan bahwa kita sama, kita sama, dan aku tidak
berbeda. Kali ini aku bertahan
Entah kenapa
setiap jalan selalu berduri. Sama seperti kisah ini. Mungkin karena kakak
merasa aku tidak pantas banyak sekali masalah diantara kami. Dan lagi lagi Yoka
selalu menguatkanku
"yang sabar" "yang
ikhlas" "yang kuat" "mengalahlah" "dekati
kakak". Ucap Yoka
Ya, sebagai adik aku harus sabar dan mengalah. Beribu cara aku
mendekati kakak dengan sms, mengomentari atau sekedar menyukai apa yang ditulis
kakak di dunia maya.. Namun singkat cerita ketika aku menulis "ciyee
kakak...." buatku adalah suatu hal yang biasa yang aku berikan sebagai
tanda aku ingin dekat dan akrab namun apa yang terjadi.. Mungkin kata-kataku
(ciye) ini tidak layak sehingga aku disebut "Apaan sih Norak"
seketika itu aku mulai goyah.. Mungkin apa yang aku perbuat salah
Ya, aku cukup kuat
dan aku harus bertahan.
Namun
kejadian lain pun terjadi. Ketika aku harus menunggui sahabatku Nia yang sangat
aku sayangi menjalani pasca operasinya. Aku mendapat sms dari Yoka. Baru saja
Yoka berbincang dengan Bapak dan Ibu lalu besok beliau mengundangku buka
bersama dengan mereka. Aku pun mengiyakan karena bulan Ramadhan penuh berkah
selain aku sangat rindu dengan pelukan ibu dan cerita bapak aku juga ingin
mengobrol dengan kakak dan memperbaiki hubungan kita namun apa yang terjadi 10
menit kemudian aku membaca sebuah status yang diunggah ke media sosial
kakak
" Baiklah, oke. Besok
saya akan pura-pura manis. pura-pura. Iya cuma pura-pura. ga penting kan
perasaan saya? toh slama ini ga ada yang mikirin perasaan saya.
*packing mo ke planet
jupiter"
Ya, sontak hal ini mengubah segala
moodku dirumah sakit. Aku langsung membatalkan pengiyaan atas undangan itu. aku
tidak mau kakak merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Aku tidak ingin merusak
buka bersama keluarga yang sudah aku sayangi harus rusak hanya karena
kehadiranku.
Sebenarnya aku sudah mulai lelah
dengan kisah ini. Entah sampai kapan aku harus bertahan, bertahan dan bertahan.
Hampir lima tahun dengan kisah yang sama. Entah sampai kapan tembok ini ada.
Ketika aku diam semua harus aku terima duri-duri yang aku injak. Tapi ketika
aku mulai melangkah memulai tenagaku sudah habis. Aku sudah lelah memulai,
Yoka, Bapak dan Ibu mereka yang selalu membuat aku bertahan meski sesekali aku
melihat kebawah sudah banyak darah yang mengering dengan tancapan duri di kaki
ini.