Sabtu, 23 Agustus 2014

Diam Penuh Duri, Memulai Sudah Lelah ( I )


Diam Penuh Duri, Memulai Sudah Lelah

Ya, inilah yang terjadi pada seorang gadis penuntut keadilan. Sebut saja yayla..
 Entah aku merasa terkadang Tuhan tidak adil membuat perbedaan di bumi. Mengapa harus ada hitam dan mengapa harus ada putih. Meskipun sebenarnya aku tahu jawabannya agar mereka saling melengkapi. Namun bagaimana jika dari awal sudah terlahir menjadi sosok hitam? harus pada siapa aku menuntut keadilan?

Ya, aku Yayla, akulah si hitam penuntut keadilan!. kadang aku berfikir Tuhan salahkah aku terlahir hitam? aku sangat mencitaiMu sangat! dan aku yakin Kau juga mencintaiku. Tapi mengapa tidak semua orang bisa menerimaku? Mungkin sepintas mereka melihat aku yang bahagia dan merasa iri dengan alur cerita yang digariskan untukku Tuhan. Tapi, ya ada satu yang tidak mereka tahu. Duri yang selama ini masih menusuk tubuhku dalam-dalam

Aku memang terlahir tidak seperti kakak, sosok sempurna yang sangat aku hormati. bahkan aku sangat mengagumi beliau sangat. Terlahir sebagai seorang anak pertama tentunya aku rindu belaian seorang kakak. Ya, kakak wanita. Melihat teman-teman yang berjalan bersama kakaknya bergandengan membawa es krim maupun menyebrang di jalan jujur membuatku iri. ya, sangat iri dengan semua ini. Tapi inilah cerita Tuhan yang harus aku ikuti sebaik mungkin.

Berawal dari masa putih abu-abu aku menemukan Yoka. Laki-laki yang membuatku merasa berbeda. Mungkin karena kesederhanaanya yang membuat dia terlihat berbeda dari lelaki lain. Singkat cerita aku, si hitam penuntut keadilan mulai mengambil peranku dalam alur cerita ini dan dia sebagai lawan mainku. Entah aku harus bersyukur atau aku merasa terjebak dalam kisah ini yang pasti sebenarnya aku tertipu mentah-mentah olehnya.

Ya, inilah aku dengan kesederhanaanku. Terlahir selayaknya orang-orang dikalangan menengah kebawah yang hidup alakadarnya yang sering kusebut golongan terlahir hitam.  Aku tak tahu indikator Tuhan  memploting umatnya ke berbagai golongan. Namun yang aku tahu dimanapun kita berdiri syukur itulah yang harus kita panjatkan. Ya, inilah point dimana merasa aku terjebak. Aku yang dulu berpikir Yoka adalah sestrata sepertiku ternyata kami berbeda jauh. Hal ini baru aku sadari ketika kami bersama selama tiga bulan. Penampilannya sungguh sederhana dengan motor astra hijau yang tua dan tas yang sudah robek di sudut kanannya aku merasa ia sama sepertiku sama sama hitam. Tapi apa ternyata dia adalah anak seorang dokter dan yang begitu disegani di daerahnya

 Disini sebenarnya aku mulai merasa takut. Ya, gadis sepertiku apa yang bisa dibanggakan untuk bisa diterima dikeluarga itu. Namun pikiranku sudah salah ketika aku melihat sesosok ibu yang berkulit putih dan memakai jilbab dengan senyumnya memelukku dan menerimaku dengan tangan terbuka dan bapak berkulit agak gelap dan berkacamata yang selalu menanyakan hari-hariku saat merantau kuliah. Inilah keluarga kedua yang sangat aku sayangi. Aku rindu pulang tidak hanya bertemu keluargaku tapi juga bertemu mereka yang selalu memelukku dan menciumku. Aku sangat merindukan pelukan Ibu dan cerita Bapak di taman belakang yang diiringi belasan kicau perkutut dirumah Yoka. Sekilas aku merasa penerimaan ini sudah membuat hati si hitam ini merasa aman untuk melanjutkan ke jenjang yang serius

Yoka, ya betapa beruntungnya aku sigadis golongan hitam bertemu dengan kau. Entah aku harus berucap berapa kali syukur untukb Tuhan menghadiahkan engkau hadir dalam cerita yang sudah tertuang di Lauhul Mahfuzku. Kamu si bungsu yang selalu menjadi kakak untuk adik-adikku. Menjadi satu-satunya anak laki-laki yang sangat disayang oleh Ibuku. Betapa aku tidak bersyukur, laki-laki mana yang mau mengarungi 20 kilometer dihujan deras hanya untuk dua ekor anak hamster yang sedang aku titipkan karena aku tidak bisa merawatnya, Laki-laki mana yang menaruh semangkuk baksonya dan menahan lapar sampai terlelap ketika melihatku melewati skype sedang makan dengan mie instan, laki-laki mana yang tidak pernah memakiku menyebutkan kata kotor sedikitpun, berhujan hujanan untuk sepenggal maaf, dan pergi kerumah dengan mata bengkak ketika kami ada masalah. Ya, aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa. Kamulah orang tersabar yang aku kenal. Aku sangat beruntung. Sangat dan sangat beruntung

Tapi ditengah cerita ternyata kisah ini tak semulus yang aku bayangkan. Ketika aku memiliki kunci salah satu media sosial Yoka, aku dengan isengnya membuka seluruh chat dan benar dugaanku. Terekam dengan jelas kakak yang menanyakan mengapa Yoka masih bersamaku? Seharusnya Yoka tidak bersamaku. Harusnya Yoka bisa mendapatkan seseorang yang tentunya lebih baik dariku. Yoka sebagai anak yang masih muda harus bisa memilih. Mencari pacar sebanyak mungkin. Bukan seperti aku. Seharusnya Yoka bisa menemukan perempuan yang cantik dan kaya. Dan didalamnya juga kakak menyarankan tak apa janda asal Yoka bisa menemukan perempuan kaya yang bisa mendampingi hidupnya.

Entah aku tidak mengerti apa yang salah dari hidupku. Jujur aku sudah sangat senang sekali ketika aku memiliki pasangan yang memiliki kakak perempuan. Betapa tidak, aku merindukan momen ini bahkan diulang tahun kakak aku membuka tabungan hasil lombaku untuk membelikannya tart kecil karena aku sayang, iya aku sayang.. Aku sangat senang kami bisa bercanda walau hanya didunia maya. Tapi inilah akhirnya. Mungkin benar tak seharusnya manusia mengetahui segalanya. Adakalanya pengetahuan itu terbatas demi hubungan yang lebih baik. Ya, kejujuran memang menyakitkan. Sangat menyakitkan. Tapi aku sebagai goongan hitam bisa apa. Inilah kenyataan yang harus aku terima

Ya, mungkin ini klise dari kisah umat dunia yang terhalang strata. Tapi sejauh ini aku bisa apa? Aku tahu, aku bukan gadis cantik yang bisa dibanggakan dengan kecantikanku. Aku juga gadis miskin yang hidup alakadarnya. Andai takdir bisa diminta tentu semua manusia tidak ingin terlahir dengan kekurangan. Meski aku tidak seperti engkau Yoka, tapi aku bangga dengan keluarga kecilku yang selalu memberiku kehangatan dan mengasahku menjadi orang yang pandai bersyukur. Aku bangga memiliki mereka yang sudah membimbingku sampai mencapai cita-citaku satu per satu. Ya, tidak ada yang salah dalam kisah ini. Keadaan yang membuat kami terhalang. Tapi bukankah aku masih dalam proses melunturkan hitam di badan dan memantaskan diri meraih kejayaan dan menjadi putih sepertimu? 
Sejujurnya pada titik itu aku sudah lelah dengan cerita ketidaksetaraan ini. Tapi kau yang selalu menguatkan dan menjelaskan bahwa kita sama, kita sama, dan aku tidak berbeda. Kali ini aku bertahan

Entah kenapa setiap jalan selalu berduri. Sama seperti kisah ini. Mungkin karena kakak merasa aku tidak pantas banyak sekali masalah diantara kami. Dan lagi lagi Yoka selalu menguatkanku

"yang sabar" "yang ikhlas" "yang kuat" "mengalahlah" "dekati kakak". Ucap Yoka

          Ya, sebagai adik aku harus sabar dan mengalah. Beribu cara aku mendekati kakak dengan sms, mengomentari atau sekedar menyukai apa yang ditulis kakak di dunia maya.. Namun singkat cerita ketika aku menulis "ciyee kakak...." buatku adalah suatu hal yang biasa yang aku berikan sebagai tanda aku ingin dekat dan akrab namun apa yang terjadi.. Mungkin kata-kataku (ciye) ini tidak layak sehingga aku disebut "Apaan sih Norak" seketika itu aku mulai goyah.. Mungkin apa yang aku perbuat salah 

          Ya, aku cukup kuat dan aku harus bertahan. 

Namun kejadian lain pun terjadi. Ketika aku harus menunggui sahabatku Nia yang sangat aku sayangi menjalani pasca operasinya. Aku mendapat sms dari Yoka. Baru saja Yoka berbincang dengan Bapak dan Ibu lalu besok beliau mengundangku buka bersama dengan mereka. Aku pun mengiyakan karena bulan Ramadhan penuh berkah selain aku sangat rindu dengan pelukan ibu dan cerita bapak aku juga ingin mengobrol dengan kakak dan memperbaiki hubungan kita namun apa yang terjadi 10 menit kemudian aku membaca sebuah status yang diunggah ke media sosial kakak 

" Baiklah, oke. Besok saya akan pura-pura manis. pura-pura. Iya cuma pura-pura. ga penting kan perasaan saya? toh slama ini ga ada yang mikirin perasaan saya.
*packing mo ke planet jupiter"

            Ya, sontak hal ini mengubah segala moodku dirumah sakit. Aku langsung membatalkan pengiyaan atas undangan itu. aku tidak mau kakak merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Aku tidak ingin merusak buka bersama keluarga yang sudah aku sayangi harus rusak hanya karena kehadiranku.

 Sebenarnya aku sudah mulai lelah dengan kisah ini. Entah sampai kapan aku harus bertahan, bertahan dan bertahan. Hampir lima tahun dengan kisah yang sama. Entah sampai kapan tembok ini ada. Ketika aku diam semua harus aku terima duri-duri yang aku injak. Tapi ketika aku mulai melangkah memulai tenagaku sudah habis. Aku sudah lelah memulai, Yoka, Bapak dan Ibu mereka yang selalu membuat aku bertahan meski sesekali aku melihat kebawah sudah banyak darah yang mengering dengan tancapan duri di kaki ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar