Sabtu, 23 Agustus 2014

Diam Penuh Duri, Memulai Sudah Lelah ( I )


Diam Penuh Duri, Memulai Sudah Lelah

Ya, inilah yang terjadi pada seorang gadis penuntut keadilan. Sebut saja yayla..
 Entah aku merasa terkadang Tuhan tidak adil membuat perbedaan di bumi. Mengapa harus ada hitam dan mengapa harus ada putih. Meskipun sebenarnya aku tahu jawabannya agar mereka saling melengkapi. Namun bagaimana jika dari awal sudah terlahir menjadi sosok hitam? harus pada siapa aku menuntut keadilan?

Ya, aku Yayla, akulah si hitam penuntut keadilan!. kadang aku berfikir Tuhan salahkah aku terlahir hitam? aku sangat mencitaiMu sangat! dan aku yakin Kau juga mencintaiku. Tapi mengapa tidak semua orang bisa menerimaku? Mungkin sepintas mereka melihat aku yang bahagia dan merasa iri dengan alur cerita yang digariskan untukku Tuhan. Tapi, ya ada satu yang tidak mereka tahu. Duri yang selama ini masih menusuk tubuhku dalam-dalam

Aku memang terlahir tidak seperti kakak, sosok sempurna yang sangat aku hormati. bahkan aku sangat mengagumi beliau sangat. Terlahir sebagai seorang anak pertama tentunya aku rindu belaian seorang kakak. Ya, kakak wanita. Melihat teman-teman yang berjalan bersama kakaknya bergandengan membawa es krim maupun menyebrang di jalan jujur membuatku iri. ya, sangat iri dengan semua ini. Tapi inilah cerita Tuhan yang harus aku ikuti sebaik mungkin.

Berawal dari masa putih abu-abu aku menemukan Yoka. Laki-laki yang membuatku merasa berbeda. Mungkin karena kesederhanaanya yang membuat dia terlihat berbeda dari lelaki lain. Singkat cerita aku, si hitam penuntut keadilan mulai mengambil peranku dalam alur cerita ini dan dia sebagai lawan mainku. Entah aku harus bersyukur atau aku merasa terjebak dalam kisah ini yang pasti sebenarnya aku tertipu mentah-mentah olehnya.

Ya, inilah aku dengan kesederhanaanku. Terlahir selayaknya orang-orang dikalangan menengah kebawah yang hidup alakadarnya yang sering kusebut golongan terlahir hitam.  Aku tak tahu indikator Tuhan  memploting umatnya ke berbagai golongan. Namun yang aku tahu dimanapun kita berdiri syukur itulah yang harus kita panjatkan. Ya, inilah point dimana merasa aku terjebak. Aku yang dulu berpikir Yoka adalah sestrata sepertiku ternyata kami berbeda jauh. Hal ini baru aku sadari ketika kami bersama selama tiga bulan. Penampilannya sungguh sederhana dengan motor astra hijau yang tua dan tas yang sudah robek di sudut kanannya aku merasa ia sama sepertiku sama sama hitam. Tapi apa ternyata dia adalah anak seorang dokter dan yang begitu disegani di daerahnya

 Disini sebenarnya aku mulai merasa takut. Ya, gadis sepertiku apa yang bisa dibanggakan untuk bisa diterima dikeluarga itu. Namun pikiranku sudah salah ketika aku melihat sesosok ibu yang berkulit putih dan memakai jilbab dengan senyumnya memelukku dan menerimaku dengan tangan terbuka dan bapak berkulit agak gelap dan berkacamata yang selalu menanyakan hari-hariku saat merantau kuliah. Inilah keluarga kedua yang sangat aku sayangi. Aku rindu pulang tidak hanya bertemu keluargaku tapi juga bertemu mereka yang selalu memelukku dan menciumku. Aku sangat merindukan pelukan Ibu dan cerita Bapak di taman belakang yang diiringi belasan kicau perkutut dirumah Yoka. Sekilas aku merasa penerimaan ini sudah membuat hati si hitam ini merasa aman untuk melanjutkan ke jenjang yang serius

Yoka, ya betapa beruntungnya aku sigadis golongan hitam bertemu dengan kau. Entah aku harus berucap berapa kali syukur untukb Tuhan menghadiahkan engkau hadir dalam cerita yang sudah tertuang di Lauhul Mahfuzku. Kamu si bungsu yang selalu menjadi kakak untuk adik-adikku. Menjadi satu-satunya anak laki-laki yang sangat disayang oleh Ibuku. Betapa aku tidak bersyukur, laki-laki mana yang mau mengarungi 20 kilometer dihujan deras hanya untuk dua ekor anak hamster yang sedang aku titipkan karena aku tidak bisa merawatnya, Laki-laki mana yang menaruh semangkuk baksonya dan menahan lapar sampai terlelap ketika melihatku melewati skype sedang makan dengan mie instan, laki-laki mana yang tidak pernah memakiku menyebutkan kata kotor sedikitpun, berhujan hujanan untuk sepenggal maaf, dan pergi kerumah dengan mata bengkak ketika kami ada masalah. Ya, aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa. Kamulah orang tersabar yang aku kenal. Aku sangat beruntung. Sangat dan sangat beruntung

Tapi ditengah cerita ternyata kisah ini tak semulus yang aku bayangkan. Ketika aku memiliki kunci salah satu media sosial Yoka, aku dengan isengnya membuka seluruh chat dan benar dugaanku. Terekam dengan jelas kakak yang menanyakan mengapa Yoka masih bersamaku? Seharusnya Yoka tidak bersamaku. Harusnya Yoka bisa mendapatkan seseorang yang tentunya lebih baik dariku. Yoka sebagai anak yang masih muda harus bisa memilih. Mencari pacar sebanyak mungkin. Bukan seperti aku. Seharusnya Yoka bisa menemukan perempuan yang cantik dan kaya. Dan didalamnya juga kakak menyarankan tak apa janda asal Yoka bisa menemukan perempuan kaya yang bisa mendampingi hidupnya.

Entah aku tidak mengerti apa yang salah dari hidupku. Jujur aku sudah sangat senang sekali ketika aku memiliki pasangan yang memiliki kakak perempuan. Betapa tidak, aku merindukan momen ini bahkan diulang tahun kakak aku membuka tabungan hasil lombaku untuk membelikannya tart kecil karena aku sayang, iya aku sayang.. Aku sangat senang kami bisa bercanda walau hanya didunia maya. Tapi inilah akhirnya. Mungkin benar tak seharusnya manusia mengetahui segalanya. Adakalanya pengetahuan itu terbatas demi hubungan yang lebih baik. Ya, kejujuran memang menyakitkan. Sangat menyakitkan. Tapi aku sebagai goongan hitam bisa apa. Inilah kenyataan yang harus aku terima

Ya, mungkin ini klise dari kisah umat dunia yang terhalang strata. Tapi sejauh ini aku bisa apa? Aku tahu, aku bukan gadis cantik yang bisa dibanggakan dengan kecantikanku. Aku juga gadis miskin yang hidup alakadarnya. Andai takdir bisa diminta tentu semua manusia tidak ingin terlahir dengan kekurangan. Meski aku tidak seperti engkau Yoka, tapi aku bangga dengan keluarga kecilku yang selalu memberiku kehangatan dan mengasahku menjadi orang yang pandai bersyukur. Aku bangga memiliki mereka yang sudah membimbingku sampai mencapai cita-citaku satu per satu. Ya, tidak ada yang salah dalam kisah ini. Keadaan yang membuat kami terhalang. Tapi bukankah aku masih dalam proses melunturkan hitam di badan dan memantaskan diri meraih kejayaan dan menjadi putih sepertimu? 
Sejujurnya pada titik itu aku sudah lelah dengan cerita ketidaksetaraan ini. Tapi kau yang selalu menguatkan dan menjelaskan bahwa kita sama, kita sama, dan aku tidak berbeda. Kali ini aku bertahan

Entah kenapa setiap jalan selalu berduri. Sama seperti kisah ini. Mungkin karena kakak merasa aku tidak pantas banyak sekali masalah diantara kami. Dan lagi lagi Yoka selalu menguatkanku

"yang sabar" "yang ikhlas" "yang kuat" "mengalahlah" "dekati kakak". Ucap Yoka

          Ya, sebagai adik aku harus sabar dan mengalah. Beribu cara aku mendekati kakak dengan sms, mengomentari atau sekedar menyukai apa yang ditulis kakak di dunia maya.. Namun singkat cerita ketika aku menulis "ciyee kakak...." buatku adalah suatu hal yang biasa yang aku berikan sebagai tanda aku ingin dekat dan akrab namun apa yang terjadi.. Mungkin kata-kataku (ciye) ini tidak layak sehingga aku disebut "Apaan sih Norak" seketika itu aku mulai goyah.. Mungkin apa yang aku perbuat salah 

          Ya, aku cukup kuat dan aku harus bertahan. 

Namun kejadian lain pun terjadi. Ketika aku harus menunggui sahabatku Nia yang sangat aku sayangi menjalani pasca operasinya. Aku mendapat sms dari Yoka. Baru saja Yoka berbincang dengan Bapak dan Ibu lalu besok beliau mengundangku buka bersama dengan mereka. Aku pun mengiyakan karena bulan Ramadhan penuh berkah selain aku sangat rindu dengan pelukan ibu dan cerita bapak aku juga ingin mengobrol dengan kakak dan memperbaiki hubungan kita namun apa yang terjadi 10 menit kemudian aku membaca sebuah status yang diunggah ke media sosial kakak 

" Baiklah, oke. Besok saya akan pura-pura manis. pura-pura. Iya cuma pura-pura. ga penting kan perasaan saya? toh slama ini ga ada yang mikirin perasaan saya.
*packing mo ke planet jupiter"

            Ya, sontak hal ini mengubah segala moodku dirumah sakit. Aku langsung membatalkan pengiyaan atas undangan itu. aku tidak mau kakak merasa tidak nyaman dengan kehadiranku. Aku tidak ingin merusak buka bersama keluarga yang sudah aku sayangi harus rusak hanya karena kehadiranku.

 Sebenarnya aku sudah mulai lelah dengan kisah ini. Entah sampai kapan aku harus bertahan, bertahan dan bertahan. Hampir lima tahun dengan kisah yang sama. Entah sampai kapan tembok ini ada. Ketika aku diam semua harus aku terima duri-duri yang aku injak. Tapi ketika aku mulai melangkah memulai tenagaku sudah habis. Aku sudah lelah memulai, Yoka, Bapak dan Ibu mereka yang selalu membuat aku bertahan meski sesekali aku melihat kebawah sudah banyak darah yang mengering dengan tancapan duri di kaki ini. 

Sabtu, 09 Agustus 2014

CERITA DITENGAH JARAK

Jarak, yang membuat kedua titik terpisah
Tapi jarak, yang menghadirkan gores cerita


Aku mulai lelah dengan jarak
Yang menggerogoti pandangan
Dan yang membuat aku harus memupuk rasa rindu
Tertumpuk, dan terus menumpuk

Ini kisah tentang jarak
Jarak yang menggoda kami melangkah lebih jauh dan jauh


Jarak, tidakkah kau mengasihaniku
Disini aku mencoba tetap kokoh bertahan di satu titik
Meski kadang ada angin nakal yang ingin menarikku kekanan pergi bersamanya
Meski kadang ada polisi polisi yang mendorongku untuk roboh
Tapi di titik ini aku masih bertahan
Untuk tetap disini berdiri menjaga titik ini
Sampai nanti kau lelah memisahkan kami


Ini kisah jarak, yang memberi ruang
Aku tidak pernah memakai topeng untuk menjadi "terlihat lebih sempurna didepanmu"
Tapi disini
Karna engkau jarak
Aku harus menjadi orang lain di beberapa waktu
Di depan laptop yang menghapus engkau secara semu
Aku menjadi orang lain
"Bukan untuk membuat aku terlihat sempurna"
Aku menjadi orang lain "agar kau yang disana masih bisa menjadi sempurna meski jarak ada ditengah kita"

Iya, aku tidak ingin kau
Yang terpisah oleh jarak
Harus merasa tidak sesempurna ketika bersama

Dulu
Kisah kita
Didepan kotak yang menghubungkan kita
Skype, yang memberi ruang untuk kita bicara dan bertatap secara semu
Kau yang menatapku dengan menyantap sepiring mie instan
Dan kau yang menatap semangkuk baksomu
Lalu kau melihatku dengan caramu
Menghentikan suapanmu
Iya hanya karena sepiring mie yang ku santap
Akhirnya kau tidak menyantap makananmu
Dan beralih menemaniku menyantap si keriting itu
Dan kau bercerita tentang ketidak sempurnaanmu ketika jarak ada
Menghentikan santapanmu sampai kau terlelap melihatku dengan tumpukan buku
Dan aku melihatmu tertidur dengan semangkok bakso yang tidak jadi kau makan
Hanya karna kau merasa tidak sempurna
Hanya karena kau merasa tidak bisa menjaga

Iya, aku benci melihat kau dengan pikiran sempitmu seujurnya
Tapi kau tetap kokoh bertahan dengan pemikiranmu

Dan disini biarkan giliranku yang mengambil peran
 Berperan menjadi yanf lain didepan si skype, sahabatku penghapus jarak
aku, dan peranku

Aku dan peranku yang kumainkan karena jarak
Menghapus setiap air mata ketika ingin bertemu kau melalui sahabatku si penghapus jarak
Aku dan makanan yang selalu kusembunyikan
Dan sesekali mengucap dusta
Untuk berkata " aku sudah makan"
Untuk kau agar menjadi tetap sempurna
Dan tidak sedih memikirkan semua disini
Aku yang ingin bertemu denganmu
Ya, melalui sahabatku, si penghapus jarak
Selalu memakai lipstik tebal
Ketika aku merasa bibirku mulai pucat
Karena aktivitas menggerogoti tubuhku
Ya, untuk engkau
Agar terlihat masih sempurna, masih bisa menjaga

Aku dan peranku
Bukan untuk menjadi seseorang yang terlihat lebih sempurna
Tapi aku memilih peran menjadi yang lain
Untuk menjagamu untuk terlihat masih sempurna
Meski jarak mendorong kita untuk melangkah

YANG SELALU BERTANYA PADAKU

Hai kamu
Iya kamu
Yang terhalang oleh waktu dan terpisah oleh jarak
Yang setiap malam selalu kusebut sebelum aku memejamkan mata menunggu sang mentari

Ini hanya goresan
Goresan cerita yang sedang terajut
Yang masih terajut
Dan akan tetap terajut

Hai kamu yang selalu bertanya padaku
Hai kamu yang selalu meragukanku

Setiap saat setiap kali dan setiap menatap
"aku benci"
Ya, aku benci menjawab pertanyaanmu

"Aku terlalu buruk berdampingan denganmu?" pertanyaan pertama
"Apakah aku cukup tampan untuk bersama denganmu?" pertanyaan kedua
"Apakah kau malu bersanding denganku?" pertanyaan ketiga
"Apakah kau benar-benar menyayangiku? " pertanyaan keempat
"Apakah kelak aku akan meninggalkanmu?" pertanyaan kelima

Hai kamu..
Yang selalu bertanya padaku

Tidakkah kau merasa kau sungguh tampan..
Berapa kali aku menyuruhmu berkaca
Dan menghadiahkanmu sebuah kaca
Sampai kapan kau bertanya ?
Coba lihat wajahmu dan tersenyumlah
Coba lihat hatimu dan renungkanlah
Apa kau masih melihat kau buruk?

Sejenak mari kujelaskan
ini kamu yang slalu bertanya padaku
Tidakkah kau melihat mata yang indah yang selalu aku lihat ketika aku bercerita tentang kisahku
Mata yang indah yang menatapku dalam dalam ketika aku berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki Tuhan?
Mata yang selalu sayu ketika aku bercerita tentang keluh kesahku
Mata yang selalu berapi api ketika aku bercerita tentang cita cita
Hey kamu..
Matamu sangat indah dan selalu berbicara dari setiap momen berbeda

Sekarang kau turun ke bawah..
Hidungmu.. Iya hidung yang selalu terganggu ketika asap rokok yang terhirup
Dan kau selalu marah ketika aku menghirup rokok orang di tempat umum
Ya, hidungmu yang peka yang membuatmu sangat sempurna. Menarikku ketika aku tidak sengaja menghirupnya
Hidung yang selalu melindungi setiap nafas yang selalu aku hirup?

Mulut..
Apakah kau masih merasa buruk?
Aku tidak pernah mendapat cacian sedikitpun dari bibirmu
Aku tidak pernah mendengar sedikitpun kata kotor yang terucap
Dan bibir yang selalu mengucap doa
Saat kau berada satu shof didepanku
Apa ini masih buruk?

Tampan??
Iya sangat tampan.
Coba jelaskan apa yang membuat kamu merasa tidak tampan
Beribu hujatan yang selalu memuakkan telingaku
Ketika mereka bertanya mengapa aku harus bersama kamu
Aku sudah muak
Aku tau kau pasti terluka karna ini semua
Aku tau kau dengar ini semua
Tapi kau yang selalu tabah dan menguatkanku
Bukan aku seharusnya yang marah
Tapi kamu!
Tapi inilah yang aku namakan ketampanan yang tidak bisa mereka lihat.
Kamu yang selalu bertanya padaku menjawab aku memang tidak punya ketampanan tapi aku masih punya hati yang luas untuk menerimamu apapun kondisimu
Iya!
Ketampananmu yang aku rasakan
Aku yang selama ini bersamamu
Aku yang selama ini bertingkah semauku
Tanpa adanya gaun yang membalut
Atau topeng yang harusnya ku kenakan layaknya wanita yang ingin tampak sempurna dihadapan pasangannya
Tapi itu tidak berlaku buatku
Gadis penjawab pertanyaan

Aku yang tampil compang camping
Dengan tingkah yang memalukan
Dan seluruh kekurangan

Tapi taukah kau yang selalu bertanya padaku
Selama ini aku merasa hebat
Aku bisa tampil aku yang murni
Aku yang memalukan
Aku yang compang camping
Aku yang bisa menjadi aku
Karena hatimu yang luas untukku

Pertanyaan konyol
Apakah kau malu bersanding denganku?
Hai kamu
Apa yang harus aku malukan
Betapa bangganya aku memilikimu
Wahai kamu yang selalu bertanya padaku
Lelaki hebat yang mempertahankan perasaanya sekuat tenaga
Lelaki yang tidur di kolong demi perasaanya
Lelaki yang tertahan diluar berjam-jam demi perasaanya
Lelaki yang selalu bermata bengkak demi perasaanya
Lelaki yang meminta ijin membawa kemanapun aku pergi
Mengantarkanku sampai kembali
Lelaki terasing untuk perasaanya

Hai..
Tidakkah kau bangga?
Kau sudah bertahan pada aku yang beku sejauh ini
Melelehkanku sedikit demi sedikit
Mengubahku si batu

Hai.. Tidakkah kau merasa
Aku begitu bangga
Dari mana kau bertanya?
Setiap langkah aku menapak
Apakah kau tidak merasa?
Siapa yang selama ini kubawa
Siapa yang selama ini ku perkenalkan?
Bukan hanya dihadapan gadis gadis kerumun
Ataupun pria pria yang slama ini bersamaku
Tapi juga orang yang slama ini hidup bersamaku
Dan mereka seperangkat kluarga besar yang malu malu kau tatap matanya
Iya, cuma kamu, hanya kamu yang kubawa dan mereka  kenal
Bukan mereka yang kau anggap tampan
Tapi kau yang anggap tampan

Apa kau menyayangiku?
Ah, itu tak perlu ku jawab karna aku rasa tidak perlu
Tidak ada bagian yang perlu jadi alasan
Dan tidak ada yang erlu aku ungkapkan
Tidak ada
Semua ini mengalir begitu saja
Tidak ada incaran atau yang lain
Aku tidak memiliki alasan untuk mencintaimu dan aku tidak memiliki alasan untuk meninggalkanmu ketika alasan itu hilang
Ya, banyak yang mempertanyakan
Termasuk kamu! Tukang pengaju pertanyaan
Cukup. Sungguh aku tak memiliki jawaban!


Ini hidupku ini bukan soal yang perlu dijawab
Aku selalu pusing dengan pertanyaanmu
Cukup jangan kau beri aku pertanyaan
Tanyakan pada hatimu mengapa kau bertahan
Karna itu jawabanya

Cukup satu
Iya satu.
Aku bertahan karna kau bertahan.
Jawaban smua ini hanya satu.
Karena kamu









Rabu, 04 Desember 2013

BERJABAT DENGAN MIMPI BERTARUNG DITENGAH KETERBATASAN

tulisan ini telah saya dedikasikan untuk adkesma FEUI dan adik-adik pahlawan mimpi
(Yesika Billah Barika 1206215434 Manajemen 2012)

Mimpi..

Mimpi itu seperti kerlap-kerlip bintang yang menghiasi gelapnya malam...

 Ya,seperti itulah mimpi dalam kehidupanku. Menjadi sebuah cahaya yang selalu bersinar ditengah gelapnya kehidupan...

Mungkin banyak orang berkata “mimpi itu jangan terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit” tapi kata-kata itu tidak berlaku bagiku. “bermimpilah setinggi-tingginya setidaknya bila engkau jatuh masih dalam hamparan bintang-bintang”. Inilah yang membuat bangsa kita menjadi bangsa yang tertinggal. Karena kita tidak mau bermimpi, terlalu cepat puas dengan sesuatu yang sudah didapatkan. Menjadi sesosok campers bukan menjadi sesosok climbers. Mendakilah-mendakilah dan mendakilah. Semakin kita mendaki untuk menggapai bintang itu semakin luas keindahan pemandangan yang bisa kita lihat.
Mimpi, ya mungkin bagi sebagian orang,  anak seperti aku tidak pantas untuk bermimpi. Apalagi bermimpi menjadi seseorang yang besar dan bisa kuliah di universitas yang menyandang nama negara. Tapi inilah mimpiku.. meski terlihat salah, tapi buatku mimpi tidak pernah salah.
Aku adalah seorang anak daerah yang terlahir dari keluarga yang tergolong menengah kebawah. Ayahku adalah ayah terhebat di dunia yang bisa membesarkan ketiga putrinya dengan kerja kerasnya sebagai teknisi bus DAMRI Jember.  Sementara ibuku adalah ibu rumah tangga. Ya, inilah hidup kami, dengan oli-oli yang menghiasi wajah ayah dan baju kotornya kami bertiga dibesarkan.
Sejak kecil aku sering dibawa ke gudang DAMRI, melihat pekakas obeng dan lantai penuh oli. Menunggu ayah pulang dengan membaca dongeng cinderella seraya melihat ayah terbaring dibawah bus kota. Melihat buku dongeng dengan segala baju raja yang indah dan kuda-kuda putih. Tapi saat aku kembali ke dunia nyata tak ada kuda putih kudapati hanya bus-bus DAMRI yang berjejer rapi di garasi dan pakaian ayah yang penuh oli.
Mungkin hidupku tak semulus seperti kisah cinderella dengan sepatunya menjadi seseorang putri yang hidup bahagia. Ya, hidup memang tak semudah dongeng-dongeng masa kecil yang sering ibu ceritakan menjelang aku tidur. Tapi dengan dongeng itu aku menapaki mimpi-mimpiku. Perjuangan menggapai bintang tidak semudah dengan membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, proses, dan proses.
Saat itu ketika aku masih menapaki dunia anak-anak dan masih waktunya menghabiskan waktu keceriaan bersama senyum-senyum teman-teman, Allah memberiku cobaan. Ketika ayah sudah nyaris tidak tertolong lagi karena kecelakaan yang membuat urat nadi tangan kanannya putus sebanyak 33. Di titik inilah kondisi kami menjadi semakin sulit. Operasi demi operasi harus dijalani oleh ayah. Hutang-hutang menumpuk dimana-mana. Bahkan rumah kami pun dijual demi nyawa yang harus dipertahankan. Di titik ini kami pun berjuang. Tidak hanya ibu, tapi aku dan juga adikku yang masih kecil. Ibu sudah sibuk merawat ayah sementara aku sebagai anak tertua harus bisa menjadi ibu bagi adikku. Memasakkannya nasi, menggendong, menggorengkan telur, memandikan adik, dan menyuapinya.. Peran menjadi seorang ibu harus aku mainkan dalam keadaan ini.  Tapi inilah cobaan yang harus aku jalani, membaca buku sekaligus menyuapi, menanak nasi sambil mengerjakan Pekerjaan Rumah dan tidur saat adikku sudah terlelap.
 Dengan operasi itu alhamdulillah Allah masih mengijinkan ayah untuk hadir ditengah-tengah kami meskipun tidak seperti yang dulu dengan tangan masih normal. Dengan keadaan itu ayah sempat stress dan merasa tidak berguna lagi sebagai kepala keluarga. Aku melihat ayah yang kuat sekarang menjadi lemah. Kecelakaan itu merenggut semangat ayah bahkan di satu titik aku melihat ayah menangis seraya menghantam-hantamkan tangannya ke tembok. Bagi anak seusiaku melihat kondisi rumah yang sungguh memprihatinkan tidaklah mudah. Aku tahu betul ayah butuh semangat tapi diusiaku yang masih kecil aku tidak tahu harus bersikap apa dan berkata apa. Yang aku bisa lakukan adalah menemani ayah. Ya aku menemani ayah bekerja dengan tangannya yang sudah kehilangan fungsinya ayah harus menjadi pesuruh. Aku dengan baju merah putihku dan tas abu-abu bergambar hello kity menemani ayahku yang menjalankan kegiatannya. Tidak ada lagi pemandangan ayah dengan obeng-obeng dengan sesekali melambaikan tangan ke arahku yang sedang membaca. Ya sekarang aku menemani ayah yang mendapat tugas membeli rokok, atau fotokopi.
Tidak hanya berimbas pada ayah ibu juga memotong uang sakuku. Bahkan beberapa hari aku tidak mendapat uang saku sama sekali. Ya, apa boleh buat uang lima ratus rupiah yang biasanya terlihat saat aku menengok kebawah waktu menapaki dua kilo ke sekolah sudah tidak tampak. Tapi pelajaran ini tentu ada hikmahnya disaat teman-teman bermain berlari-lari dan beli-beli aku menahan perut laparku dengan membuka buku berharap mengalihkan perhatianku dari hasrat meneguk seplastik es teh. Tidak hanya itu saat bermain di sekitar rumah, semua teman-temanku juga menghabiskan uangnya untuk membeli snack dan memakannya didepanku. Sementara aku tidak memiliki uang dan akhirnya aku memiliki akal untuk mencampur sisa bubuk kopi di dapur dengan gula untuk dibawa bermain bersama mereka.
Musibah tidak sampai itu saja, ketika kantor ayah tidak menggaji karyawannya selama tujuh bulan. Hal ini membuat ibu dan ayah pontang-panting mencari sambilan pekerjaan. Pernah suatu malam kami tidak makan karena memang tidak ada makanan sedikit pun yang bisa kita makan, aku juga pernah melihat ibu dan ayah berbohong sudah makan hanya agar kami makan, nasi dan garam, nasi kecap dan kerupuk menjadi kisah perjuangan hidup kami yang sulit.
Ya, itulah penyebab ambisiku meraih kesuksesan “hidup kami yang sulit” aku percaya roda itu pasti berputar. Dan untuk memutar roda perlu usaha, tidak serta merta memutar dengan kedua tangan. Aku butuh bahan bakar yang membuatku sukses. Dan bahan bakar itu dalam benakku adalah pendidikan.
Dulu mungkin kesadaranku belajar masih minim. Ya, hanya kewajiban takut pada ibu yang selalu mencubitku perlahan saat aku tidak mendapatkan angka seratus. Tapi kisah-kisah sulitku membuatku dewasa pendidikan bukan kewajiban melainkan kebutuhan untuk meraih mimpiku. Ibu sudah sibuk mengurus cara menutupi hutang dan merawat ayah. Dari sinilah aku belajar menjadi pacuan untuk meraih sukses. Tanpa ibu yang mendampingiku belajar, aku masih bisa sukses. Dan alhamdulillah dengan belajar secara otodidak dan sendiri pun aku masih bisa lolos di SMP favorit di kotaku.
Di smp, aku mulai menata masa depanku mulai mengikuti berbagai lomba dan organisasi. Dengan uang saku sebesar dua ribu rupiah aku harus memanage pengeluaran agar aku tetap ikut lomba tanpa menyusahkan ayah dan ibu. Setiap pagi aku diantar oleh ayah dengan sepeda tua milik kantor. Sementara untuk pulang aku harus mengeluarkan seribu dari uang jajanku untuk naik angkot (lin). Sementara seribu lagi adalah bersih uang jajan. Namun uang jajan tidak selamanya dapat kunikmati ketika penawaran perlombaan datang, ambisi mengalahkan suara cacing yang menabuh perutku meminta makan. Bila pendaftaran dua puluh ribu rupiah itu tandanya aku harus menahan lapar di sekolah selama dua puluh hari. Persiapan kupersiapkan secara matang. Aku meminjam buku bekas anak teman-teman ayah dan buku-buku tua milik guruku. Tidak seperti pesaing-pesaingku yang dengan mudah menggondol buku sakti ekonomi dalam beberapa detik. Ya, aku berkutat dengan buku-buku tua dan debu-debu ini. Tapi nasib berkata lain Allah belum memberiku kemenangan. Tapi ini bukan akhir perjuangan ini baru awal. Mendaki-mendaki dan mendaki.
Aku tidak putus asa begitu saja, mungkin ilmuku masih dangkal dan usahaku belum maksimal. Membaca, membaca, dan membaca. Mengumpulkan uang untuk fotokopi soal-soal dan mempersiapkan diri ketika nanti ada lomba yang datang.. Mengumpulkan uang dan bertanding lagi ya, mendaki, mendaki, dan mendaki, haus, haus, dan haus. Itulah pemikiran yang selama ini aku terapkan. .  Lomba –lomba lain juga aku ikuti mungkin kali ini agak menyimpang yaitu lomba tepat guna kali itu aku mempresentasikan bunga dari sampah apel dan berkat karya itu aku bisa meringankan beban keluargaku dengan gratis spp. Mimpi sukses sedikit demi sedikit dapat diraih ditambah reward gratis spp selama tiga bulan memotivasiku untuk lebih giat bertarung demi meringankan beban ayah. Kali ini lomba yang datang tidak hanya seputar kabupaten melainkan beberapa kabupaten aku mulai bisa membanggakan kedua orang tuaku dengan keluar sebagai pemenang. Dititik inilah aku memperoleh percaya diri bahwa dengan keterbatasanku pun aku bisa sukses.
Pendakianku tidak berhenti di smp. Di sma aku mulai memvisualisasikan cita-citaku menempel kertas-kertas mimpiku didinding kamar yang lembab dan sedikit berlumut. Kertas berwarna kuning itulah yang mengantarkanku, menguatkanku disaat aku lelah. Dan disalah satu kertas itu kutuliskan FE universitas Indonesia 2012. Seakan-akan dinding lumutku itu menantang takdir. Karena dulu ayah dan ibu berkata kerja,kerja dan kerja. Begitu juga pemikiran orang-orang disekitarku yang seakan-akan mencekik leherku agar aku meneriakkan “iya” untuk dunia kerja.
Otakku harus berputar bagaimana caranya kuliah jika tidak maka aku harus berdamai dengan nasib. Aku meneruskan ambisi-ambisiku untuk memperoleh piagam-piagam berharap ada satu saja universitas yang menerimaku lapang dada tanpa mengeluarkan sepeserpun biaya. Di titik itu aku harus menurunkan egoku dan bisikan dinding lumut yang bertuliskan”feui” sekarang pemikiranku apapun universitasnya asalkan kuliah gratis.
Disini aku belajar, meminjam buku kesenior, dan mencari buku-buku tua peninggalan guru di kantor. Tidak seperti pelajar lain yang bisa les ekonomi dengan mudahnya, untuk fotokopi modul pun aku harus hutang ke senior. Aku salin lembar demi lembar buku LOPI seraya mengumpulkan uang untuk memfotokopinya. Untungnya uang jajanku menjadi tiga ribu di sma setidaknya mempersingkat waktu pengumpulan uang untuk fotokopi. Sering aku sembunyikan buku LOPI yang jumlahnya terbatas agar keesokan harinya aku bisa membaca karena kartu perpusku sudah kupakai untuk meminjam buku pelajaran inti.  Di awal penyisihan OSN aku berhasil namun di akhir aku gagal karena kemampuan akuntansiku masih terlalu minim. Disinilah aku mengejar ketertinggalanku. Ayah juga aktif ke belakang toko matahari untuk mencarikan buku bekas untuk aku belajar akuntansi. Ibu guru juga meminjamkan buku akuntansi kepadaku. Setahun aku mempelajari bahasa bisnis itu. Dan alhamdulillah di penyisihan OSN aku berhasil lolos ke Manado tepatnya di tingkat nasional.  Disini benar-benar menjadi pemicu semangatku, bertemu orang-orang hebat dengan pemikiran-pemikiran brilian sepeti bapak Pratama. Meskipun di akhir aku tidak dapat menggondol medali tapi setidaknya banyak sekali pengalaman yang memicuku untuk sukses, sukses, dan sukses. Seperti dalam buku dongeng yang aku baca sejak aku kecil, ketika aku melihat istana-istana mewah ternyata gadis seperti aku juga bisa merasakannya memasuki hotel berbintang lima, menginjakkan kaki di grand kawanua mengalungi kalung bunga, tidur di kasur yang begitu empuk. Meski konteksnya berbeda tapi buatku ini seperti mimpi yang nyata. Andai ibu ayah dan adik-adikku bisa merasakan ini semua pasti kebahagiaan ini pasti akan lebih sempurna. Apalagi cita-citaku melihat kapas-kapas langit sudah tercapai. Senang rasanya mereka bisa duduk bersamaku melihat laut biru dari atas langit dan gerombolan burung yang terlihat lebih dekat. Ya, besok aku pasti bisa mengajak mereka merasakan ini semua. Kutambahkan lagi mimpiku dalam dinding lumut. Mengajak ayah ibu dan adik-adik naik pesawat dan bisa memiliki rumah seperti hotel.
Ternyata Allah memang memberi garis indah. Tidak ada kata yang tidak mungkin. Aku belum pernah menempelkan mimpiku untuk pergi ke luar negeri. Tapi Allah memberikan hadiah terindah. . Tidak kusangka aku masih bisa merasakan naik pesawat dan tidur di kasur empuk lagi. Kabupaten memberiku hadiah untuk study tour ke negeri gajah yaitu Thailand. Mungkin aku tidak terlalu banyak membawa oleh-oleh tapi dari thailand aku belajar untuk lebih menghargai pemimpin dan memberdayakan rakyat. Ku tulis mimpiku lagi aku ingin memberdayakan rakyat Indonesia dengan membuat sekolah-sekolah gratis untuk daerahku Jember tercinta. Dari thailand juga aku belajar meskipun berpikiran kritis tentang pemerintahan tapi kita harus netral dalam menyikapi sesuatu. Siapa lagi yang mau menghargai pemimpin kita kalau bukan bangsanya sendiri.
Sesampainya  di tanah air aku harus kembai ke hidupku yang normal. Ujian Akhir Nasional menantiku. Aku harus mempersiapkan ujian nasional ini sebaik mungkin. aku harus mengejar ketinggalanku. Perjuanganku tidak berhenti disini. Meskipun keadaan ekonomi kami tidak beruntung tapi kami harus tetap hidup dan meraih kesuksesan. Mengencangkan ikat pinggang demi masa depan yang cemerlang. Kesuksesan itu untuk diraih bukan datang sendiri. Begitu juga meraih kesuksesan menjadi seorang mahasiswa Universitas Indonesia tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan buatku. Butuh bertubi-tubi perjuangan. Tergolong orang yang pas-pasan adalah salah satu pemicunya.
            Saat aku bingung untuk memutuskan akan kemanakah saat selesai SMA nanti, takdir mulai berbicara, banyak dari kerabatku untuk menyarankan masuk ke dalam dunia kerja. Jangankan memutuskan kuliah di Universitas Indonesia, untuk kuliah di dalam kota pun sulit. Adik-adikku tahun ini akan masuk ke sekolah baru, sehingga butuh biaya lebih. Tapi, disisi lain guru-guru, dinding berlumut, mimpiku dan teman-teman meyakinkanku bahwa kuliah, harus kuliah. Mereka beranggapan selesai kuliah nanti aku akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak daripada lulusan SMA.  Hal itu yang membuatku kuat dan bertekad “aku harus kuliah!”. Ibu guru pembinaku olimpiyade menganjurkanku kuliah bahkan beliau menyuruhku mengambil Universitas Indonesia.
Aku bertekad dan membicarakannya kepada keluargaku, untungnya keluargaku setuju. Tapi saat aku ditanya mau kemana, dan aku menjawab Universitas Indonesia sontak membuat keluargaku kaget, terlebih kerabatku, dan orang-orang disekitarku bahkan aku juga dibilang  sebagai anak yang tidak tahu diri bahkan salah seorang teman ayahku yang mencemooh “kere kok muluk-muluk” sakit rasanya memang tapi kata-kata itulah yang membuatku semakin kuat. Semakin harga diriku diinjak-injak semakin kuat aku berdiri. Aku menjadi lebih tertantang bahwa anak teknisi bus sepertiku juga bisa masuk Universitas Indonesia.    
Akhirnya aku memutuskan untuk mengkomunikasikannya ke guru BK. Beliau sangat mendukungku. Beliau menganjurkanku memilih program bidik misi yaitu program bantuan dari pemerintah gratis kuliah. Subhanallah jalanku dipermudah pikirku dalam hati. Aku langsung mengkomunikasikan kembali kepada kedua orang tuaku, tapi ibuku masih takut untuk mengambilnya, selain bidikmisi belum final, transport juga mahal. Uang apa lagi yang harus dipakai untuk berangkat ke Depok untuk daftar ulang, jangankan tabungan, gaji saja perbulan selalu minus. Tapi tekadku sudah kuat, aku meyakinkan ibu, aku bisa kerja disana, aku bisa hidup disana. Berbekal semangat dan dorongan kuat aku nekat memilih Universitas Indonesia urusan biaya dapat dipecahkan dengan bekerja part time. Yang penting aku bisa sukses, aku bisa mengangkat derajat orang tuaku yang sering sekali direndahkan.
                Hari pengumuman pun tiba, aku melihatnya, aku melihatnya, aku melihat namaku berada di Universitas Indonesia melalui proses seleksi undangan. Bagai terbang ke langit dan menjamah kapas-kapas putih di langit yang biru. Aku bisa. Aku melihat dinding lumut dan tersenyum, melihat tempelan kertas yang sudah tidak berwujud karena terkena rembesan hujan. Tapi tulisannya masih dapat kubaca “FE Universitas Indonesia tahun 2012” subhanallah sekali rasanya
Tapi kabar ini juga menambah beban bagi keluargaku, antara senang dan beban. Aku mencoba menguatkan ayah dan ibu, aku pasti lolos bidikmisi. Meskipun tidak lolos, toh aku bisa menjadi apapun cleaning service, office girl, kasir, buruh cuci asalkan aku diizinkan kuliah di Universitas Indonesia. Ayah ibu menangis mendengarnya akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk ke Universitas Indonesia
Perjuanganku tidak hanya disitu, aku harus melengkapi berkas-berkas rumit yang lainnya. Dengan sabar aku dan ayah mengumpulkannya satu demi satu, meminta keterangan tidak mampu ke rt rw meminta persetujuan tetangga-tetangga dan mengirimkannya  tepat waktu. Untung ada salah seorang temanku yang baik hati untuk Rania menjemputku mengantar berkas ke agen pengiriman. Saat itu hujan deras sekali petir menyambar bersahut-sahutan kota Jember tertutup awan hitam yang kelam. Tapi itu tak mengurungkan tekadku untuk meraih asaku. Kami pergi ke tiga tempat, jalanya sangat jauh dan licin, berkas-berkasku tidak boleh basah, dan harus tepat waktu. Kami berjuang bersama menembus hujan dan maut yang bisa-bisa menyambar kami. Tapi hidup butuh pengorbanan, jika berkas ini tidak sampai maka aku tidak bisa kuliah. Badan boleh basah asal berkas selamat. Bukan jas hujan melindungi badan kami tapi berkas kami jauh lebih berharga. Alhamdulillah berkas kami kirim tepat pada waktunya
Hari daftar ulang pun tiba, ayah terpaksa meminjam uang untuk keberangkatanku. Aku iba sekali melihat ayah, tapi apadaya memang tidak ada biaya. Tapi dalam hati kecil ini berikrar “ayah, aku pasti bisa membalas semua ayah! Perjuangan ayah mengais rizki bergulung-gulung dibawah bus akan ku bayar kesuksesanku. Aku pasti bisa yah! tunggu aku!aku akan janjikan kehidupan kita lebih layak, Akhirnya aku bisa mencium kota Depok, sungguh luar biasa Universitas begitu besar. Belum pernah aku melihat bangunan perpustakaan menjulang begitu indah. Subhanallah.. Meskipun tidur dilantai kamar asrama tapi aku tetap menikmati proses pendakian ini.
Registrasi aku lalui dan wawancara bidikmisi aku lakukan. Aku jawab butir-butir pertanyaan itu apa adanya. Pewawancara pun menasihatiku sebagai tulang punggung aku harus kuliah dengan benar, dan meraih kesuksesanku membahagiakan keluargaku dan menyekolahkan adik-adikku nantinya. Setelah semua selesai kami pulang ke kotaku tercinta
Pengumuman bidikmisi pun tiba. Aku mencoba melihatnya dengan gemetar begitu juga ibu dan ayah. Beliau sangat mengharapkannya begitu juga aku, aku sangat mengharapkannya. Alhamdulillah namaku mendapatkan bidikmisi, aku sangat lega mendengarkannya. Subhanallah.. ini jalan Allah untuk kesuksesan, ini jalan Allah untuk keluargaku. aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Sekarang aku sedang menapaki jalan-jalan menuju bintangku. Di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia inilah yang nantinya menjadi saksi bisu bagaimana perjuanganku menata langkah menggapai mimpi.. Dengan segala keterbatasan ini aku masih bisa bertahan hidup. Ketidakmampuan bukan suatu alasan, disini banyak tangan-tangan dermawan yang siap menerima kita. Bantuan pun tak henti-hentinya mengalir. Lebih dari seratus beasiswa ditawarkan. Allah selalu punya jalan apabila hambanya terus berikhtiar. Tidak ada yang tidak mungkin. Keterbatasan bukanlah suatu penghalang.  Justru dengan keterbatasan kita bisa belajar arti perjuangan dan menghargai tiap nafas yang Allah berikan
Bermimpilah
Tidak semua orang mampu memiliki mimpi, tapi dari mimpimu akan mengubah kau menjadi “seseorang”.


Kamis, 07 November 2013

MENJEMPUT MATAHARI




Diantara gemerlap merah kuning ibu kota, terhimpit oleh megahnya gedung menjulang
Hidup berselimut debu dan cucuran asam keringat
            Gitar dan kaleng menjadi saksi rentetan cerita
            Saksi perjuangan hidup mengais rupiah
Malam..
Mengapa engkau terus disampingku? Tek jemukah engkau disini menemaniku?
Bulan .. Sudah cukup engkau disini.. beranjaklah ke tempat peraduanmu..
Bukan pantulan sinar yang ternyata aku inginkan ...
Matahari.. Engkau dimana? Tunggu aku matahari.. aku akan berlari meraihmu..
Tidak hanya dasi-dasi itu yang bisa melihatmu aku, gitarku, dan kalengku akan menjemputmu..
            Diam tunggu disana dan ingat jangan engkau beranjak..
            Dengan gitarku aku kumpulkan receh dan kusulap menjadi lembar jendela dunia
            Dengan lembar jendela ini akan ku jemput engkau
Hei.. teman baruku, lembar jendela dunia
Sekarang aku tak butuh malam dan belas kasih sinar bulan
Karena ku tahu engkau yang bisa menemaniku menjemput sinar nyata
Diantara putih merah, putih biru, maupun putih abu-abu, bersama gitar dan kaleng kecil penyambung hidup
Aku dan keringatku akan menaklukkan dunia, berdiri ditengah dasi-dasi, dan bertemu engkau.. Wahai Matahari